HMINEWS.COM

 Breaking News

Teror Norwegia tegaskan perlunya kita bersatu hadapi intoleransi

August 22
12:37 2011
Ekmeleddin Ihsanoglu
 
Istanbul, Turki – Kejadian tragis dan mengerikan yang terjadi di Norwegia kembali mengingatkan kita akan pentingnya melawan intoleransi agama dan mendorong sikap pengertian antarbudaya. Sikap dan aktivitas anti-Islam dan anti-Muslim, yang dikenal sebagai Islamofobia, semakin menemukan tempat dalam agenda partai-partai politik sayap ultra-kanan dan LSM-LSM di Barat kepada kebijakan anti-imigran dan anti-multikulturalisme mereka, seperti terlihat dari manifesto teroris Norwegia. Mereka menempatkan pandangan-pandangan mereka di bawah bendera kebebasan berekspresi sembari mengklaim bahwa Muslim tidak menghormati hak berekspresi ini.

Beberapa hari sebelum serangan teror di Norwegia, pada 15 Juli di Istanbul, Organisasi Kerjasama Islam dan Amerika Serikat menyepakati sebuah sikap bersama untuk “melawan intoleransi, stereotipe negatif dan stigmatisasi, serta diskriminasi, hasutan dan kekerasan berlandaskan agama atau keyakinan terhadap orang lain” melalui penerapan Resolusi 16/18 Dewan HAM PBB.

Pertemuan itu – yang dipimpin Menlu AS Hillary Clinton dan saya sendiri, dan dihadiri oleh Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri bersama dengan para menlu dan ofisial negara-negara anggota OKI dan negara-negara Barat, serta organisasi-organisasi internasional – menegaskan kembali komitmen para peserta terhadap penerapan secara efektif kebijakan-kebijakan yang tertuang dalam resolusi.

Ini sebuah langkah besar menuju penguatan fondasi sikap toleransi dan respek terhadap keragaman agama serta peningkatan dukungan dan perlindungan HAM dan kebebasan-kebebasan fundamental di seluruh dunia.

OKI, yang merupakan pemrakarsa Resolusi 16/18, bekerjasama secara erat dalam proses perancangan draf dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk melahirkan sebuah terobosan pada 21 Maret lalu.

Resolusi Dewan HAM PBB 2011 merupakan sebuah upaya sungguh-sungguh untuk mengantarkan sebuah era kesalingmengertian dalam isu intoleransi agama. Resolusi ini memberi batasan luas kebebasan berekspresi, dan meneguhkan kembali penolakan terhadap diskriminasi, hasutan dan stereotipe orang lain atau terhadap simbol-simbol para penganut agama.

OKI tidak pernah berupaya membatasi kebebasan berekspresi, memberi Islam perlakuan istimewa, membatasi kreativitas ataupun memperkenankan diskriminasi terhadap minoritas agama di negara-negara Muslim.

Islam didasarkan pada toleransi dan penerimaan agama-agama lain. Islam tidak membenarkan diskriminasi manusia berdasarkan kasta, kepercayaan, warna kulit atau agama. Menjadi tugas suci semua negara anggota OKI untuk melindungi nyawa dan harta benda warga non-Muslim dan untuk memperlakukan mereka tanpa diskriminasi dalam segala bentuknya. Unsur-unsur yang berupaya mengganggu atau mengancam warga minoritas harus bisa diadili. Kami konsisten dalam bersikap keras mengecam kekerasan yang dilakukan terhadap non-Muslim, entah di Irak, Mesir ataupun Pakistan.

Tak seorang pun berhak menghina orang lain lantaran keyakinan mereka atau memantik kebencian dan prasangka. Perilaku semacam itu tidaklah bertanggung jawab ataupun beradab.

Kita juga tidak bisa menyepelekan fakta bahwa dunia ini beragam. Persepsi Barat tentang isu-isu tertentu akan berbeda dari persepsi yang lain. Kita perlu peka dan apresiatif terhadap kenyataan ini, terlebih ketika mengkritik atau mengungkapkan pandangan tentang isu-isu yang terkait agama dan budaya.

Pemuatan kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad enam tahun lalu yang memicu kemarahan di seluruh dunia Muslim, kehebohan film Fitna dan, yang lebih belakangan, pembakaran al-Qur’an mewakili berbagai kejadian hasutan kebencian yang menyulut suasana saling curiga yang berbahaya. Kebebasan berekspresi haruslah diterapkan dengan tanggung jawab. Pada saat yang sama, reaksi kekerasan terhadap provokasi juga tidaklah bertanggung jawab ataupun beradab, dan kita dengan tegas mengecam reaksi-reaksi seperti itu.

Tidaklah cukup kita mengeluarkan resolusi dan undang-undang melawan hasutan keagamaan. Kita harus pula rajin melancarkan lebih banyak lagi prakarsa dan langkah menuju dialog dan kemengertian antarbudaya yang lebih baik di semua tingkatan – politik, sosial, bisnis, media, akademik dan keagamaan.

Resolusi 16/18 mencakup delapan poin pendekatan yang menuntut beragam langkah untuk menumbuhkan toleransi, termasuk mengembangkan jejaring kerjasama untuk membangun sikap saling pengertian dan aksi yang konstruktif, menciptakan mekanisme yang tepat di pemerintahan untuk mengenali dan menangani wilayah-wilayah yang bisa memicu ketegangan di antara para penganut agama, dan meningkatkan kesadaran di tingkat lokal, nasional dan internasional terhadap dampak stereotipe negatif dan hasutan kebencian agama.

Penerapan Resolusi Dewan HAM 2011 akan membawa kita jauh dalam upaya membuat dunia kita tempat yang lebih damai dan harmoni untuk dihuni.

###

* Profesor Ekmeleddin Ihsanoglu ialah Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (dulunya Organisasi Konferensi Islam), sebuah organisasi internasional yang beranggotakan 57 negara dan berpusat di Jeddah.

Artikel ini kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Facebook Kami

Dapatkan update berita kami

Terimakasih sudah berlangganan

Terjadi kesalahan.

About

Hminews.com adalah website media pergerakan anak muda masa kini. Kami mewartakan berita dan opini dari anak muda dari berbagi pergerakan mahasiswa. kirim artikel anda ke redaksi at hminews.com.