Oleh : Ikrar Nusa Bhakti

Wajahnya masih memancarkan semangat juang meski ia kini
berusia senja. Jalannya juga masih gagah menunjukkan ia adalah prajurit sejati.
Di pelupuk matanya ada selotapeyang menempel sampai ke alis matanya yang putih
untuk menahan agar matanya tetap terbuka.

Saat berbicara, suaranya masih lantang walau agak
gemetar.Tak banyak orang mengetahui siapa ia.Ternyata ia adalah Ilyas Karim,
sang pengerek bendera pusaka saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17
Agustus 1945 di Jalan PegangsaanTimur 56,Jakarta.

Ilyas Karim

Siapa nyana pengalaman Ilyas Karim mengenai detikdetik yang
mendebarkan 66 tahun lalu itu ia kisahkan di acara Democrazy di Metro TV pada
Minggu (14/8).Acara parodi politik khas anak-anak muda itu ternyata juga dapat
menggugah hati kita agar, mengutip ucapan Bung Karno,“Jangan sekali- kali
melupakan sejarah.”

Secara gamblang Ilyas mengisahkan bagaimana ia bisa menjadi
pengerek pertama bendera pusaka yang dijahit tangan ibu negara kita yang
pertama, Fatmawati.Pada malam 16 Agustus 1945 para pemuda yang bermarkas di
Menteng Raya 31,Gedung Juang sekarang, diberi tahu oleh pimpinan mereka,Chaerul
Saleh,agar pagi hari siap-siap berangkat ke rumah Ir Soekarno di Pegangsaan
Timur 56.

Jalan dari Menteng ke Pegangsaan Timur tidaklah terlalu
jauh, sekitar 3 km.Sesampainya mereka di rumah itu,alangkah kagetnya Ilyas
karena mendapatkan tugas untuk menaikkan bendera pusaka diiringi lagu Indonesia
Raya. Tugas menaikkan bendera pusaka itu ia lakukan tanpa latihan apa pun! Ini
berbeda dengan para pengerek bendera pusaka di Istana Merdeka sekarang yang
harus dilatih berminggu minggu.

Ada suatu yang lucu saat penaikan bendera itu.“Saat itu,”
kata Ilyas,”Lagu Indonesia Raya belum selesai,sementara bendera sudah mencapai
ujung tiang bendera. Akhirnya Ilyas langsung saja mengikat tali bendera sampai
lagu Indonesia Raya selesai dinyanyikan.” Ilyas memang secara kebetulan
ditugaskan oleh Sudanco Latief agar berdua dengan Sudanco Singgih menjadi
pengerek bendera pusaka.

Pria kelahiran 13 Desember 1927 ini kini hidup di rumah
sempit berukuran 50 meter persegi di pinggir rel kereta api di Jalan Rajawali
Barat, Kalibata, Jakarta Selatan.Ia sudah beberapa kali tergusur. Sebelumnya,
sebagai seorang perwira menengah dari jajaran Siliwangi, Ilyas pernah menempati
rumah di Kompleks Siliwangi,Lapangan Banteng, yang kini menjadi Kompleks
Kementerian Keuangan.

Di masa lalu kompleks militer ini amatlah terkenal di antara
anak-anak muda dengan kode 234 SC (Jie Sam Soe Siliwangi Club). Selain Ilyas
Karim,memang ada orang lain yang mengaku sebagai pengibar bendera pusaka yang
bercelana pendek seperti Sudaryoko atau Supriadi.

Namun, Ilyas berani memastikan, dirinya adalah pengerek
bendera pusaka bercelana pendek itu. Jika benar ia pengerek bendera pusaka
pertama, hati kita tentunya amat terenyuh, mengapa nasibnya begitu kelam.

Ilyas adalah satu contoh pahlawan yang terlupakan. Ada juga
pahlawan-pahlawan lain yang diri atau keluarganya perlu mendapatkan perhatian,
termasuk para tokoh masyarakat Irian Barat yang dulu menjadi pejuang Pepera
(Penentuan Pendapat Rakyat).Terlepas dari ada di antara mereka yang kemudian
memberontak kepada Republik, pemberontakan itu hanyalah ungkapan kekecewaan
mereka kepada pemerintah.

Seperti diungkapkan almarhum Theys Hiyo Eluai kepada penulis
lebih dari 20 tahun lalu. Dulu ia adalah seorang nasionalis anggota PNI. Tak
heran jika di ruang tamu rumahnya terpampang foto Presiden Soekarno dan
Presiden JF Kennedy, serta foto Megawati Soekarnoputri.

Saat penulis bertanya mengapa ia kemudian menjadi anggota
DPRD Irian Jaya mewakili Golkar, Pace Theys tertawa terbahakbahak sambil
mengatakan, “Itu demi kenyamanan politik saja. Hati saya tetap orang PDI.”
Theys juga mengaku sebagai orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih
di wilayah Sentani.

Lodewijk Mandatjan,tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) asal
Arfak, juga pengibar bendera Merah Putih pertama di wilayah sekitar Manokwari.
Hal yang sama dilakukan oleh Martin Indey, seorang nasionalis Indonesia asal
Tabla Supa, Jayapura. Sampai sekarang nama Martin Indey tidak bisa diabadikan
menjadi nama bandara Sentani seperti pernah diusulkan DPRD Jayapura puluhan
tahun lalu.

Tokoh Ondoafi Sentani, almarhum Samuel Joku, yang penulis
temui 24 tahun lalu, hanya mengatakan, “Bagaimana Martin bisa jadi pahlawan
kalau selama menjadi mantri polisi di Sentani masa Belanda ia suka memukuli
rakyat.”

Sam Joku adalah ayah dari mantan “Menteri Luar Negeri”
Presidium Dewan Papua (PDP),Franzalbert Joku, yang kini sudah menjadi warga
negara Indonesia kembali dan menjadi salah satu calon yang bertarung untuk
menjadi Bupati Jayapura.Martin Indey tidak menjadi nama bandara Sentani bukan
karena masa lalunya sebagai mantri polisi,melainkan karena ia bukan orang
Sentani.

Masih banyak pahlawanpahlawan yang terlupakan di negeri
ini.Nama-nama mereka tak masuk dalam sejarah karena mereka hanyalah orangorang
kecil dan bukan bagian dari elite politik nasional pada masanya.

Hingga kini memang masih ada jurang antara elite dan massa
rakyat. Rakyat hanyalah pelaku sejarah yang terlupakan. Beginikah cara bangsa
kita memperlakukan mereka? Kita lupa nasihat Bung Karno: “Bangsa yang besar
adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.” 

Ikrar Nusa Bhakti, Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI

Artikel ini diterbitkan di Sindo, Tuesday, 16 August 2011