HMINEWS.COM

 Breaking News

Mari Bicara Selepas Tragedi Norwegia

August 11
16:20 2011

Tragedi di Norwegia baru-baru ini, yang merupakan serangan terburuk yang pernah dialami negara ini sejak PD II, menghentak dan melukai dunia. Tragedi ini juga memaksa komunitas global lebih dekat lagi melihat agama, identitas dan bagaimana kita memandang “orang lain” – serta diri kita sendiri.

Di Barat, agama sering menjadi topik diskusi yang tidak nyaman untuk dibicarakan, dan serangan teror baru-baru ini di Norwegia telah memaksa banyak orang, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa, untuk membahas kembali isu-isu agama dan identitas.

Jadi, bagaimana kita bicara soal agama selepas kejadian di Norwegia?

Tanggapan-tanggapan awal terhadap serangan teror tersebut buru-buru mengarahkan tudingan kepada orang Muslim. Begitu terkuak kalau pelakunya, Anders Breivik, adalah seorang ekstremis sayap kanan anti-Muslim, yang mengaku sendiri sebagai orang Kristen, selera untuk mengatakan kalau aksinya adalah buah fundamentalisme agama pun langsung lenyap. Mudah untuk bersikap munafik – untuk mengajak orang-orang beranggapan bahwa Islam mendorong kekerasan dan pada saat yang sama buru-buru mencuci tangan-kolektif Kristen dari segala indikasi kesalahan.

Menudingkan jari hanya mengatasi gejala dan bukan masalah sesungguhnya, yakni sebuah cara pandang yang memilih melihat orang lain dari sudut pandang ketakutan alih-alih sudut pandang cinta. Dan untuk mengatasi masalah ini, tidak peduli seberapa tidak nyamannya, agama harus menjadi bagian dari perbincangan.

Agama kita, atau ketidakber-agama-an kita, membentuk siapa masing-masing kita dan bagaimana kita bertindak di dunia ini. Ketika kita meyakini sebuah gagasan, ekspresi keimanan, atau teks suci, keyakinan ini pun menjadi identitas kita – yang mempengaruhi segala hal mulai dari politik hingga hubungan kita dengan orang terdekat. Bagi banyak orang, keyakinan ini adalah apa yang memberi kita harapan bahwa dunia yang lebih baik mungkin saja diraih – sebuah dunia di mana ketakutan tidak mengendalikan kita, dan belas kasih serta pengabdian memotivasi perbuatan kita.

Namun, identitas agama bisa juga mendorong orang melakukan tindak kekerasan dan kebencian. Para fundamentalis di setiap agama umumnya melakukan upaya-upaya yang dilandasi ketakutan. Dengan mengaku paling benar sendiri, mereka menolak perintah Kristen untuk percaya kepada Tuhan, atau seruan Muslim untuk berserah kepada-Nya.

Tetapi bagi orang-orang yang mau menerima untuk menyikapi orang lain atas dasar cinta, alih-alih atas dasar ketakutan, agama pun menyediakan berbagai sarana untuk membangun sebuah dunia yang lebih baik. Membuat diri kita berorientasi kepada kebutuhan orang lain, akan memperkuat kebaikan bersama, alih-alih hasrat egois perorangan. Karenanya, kembali memandang cinta-sesama sebagai sebuah perintah agama, dan bukan semata sebagai instruksi politik, menjadi sebuah langkah perlu dalam mengatasi penggerogotan agama oleh fundamentalisme.

Selaku penganut agama, saya memandang pengejawantahan iman seperti respon Hege Dalen dan pasangannya, Toril Hansen, setiap kali ada serangan. Ketika mendengar teriakan dan tembakan senjata dari tempat perkemahan di seberang Pulau Utöyan, mereka segera melompat ke perahu mereka dan mengelak dari berondongan peluru demi menyelamatkan sekitar 40 orang. Kita tidak bisa semuanya menjadi pahlawan, tetapi memilih hidup menolong orang-orang yang membutuhkan, tidak peduli siapa mereka, adalah sebuah fondasi yang dibangun, dan bukannya dirusak, oleh agama. Membicarakan nilai-nilai keagamaan yang memotivasi kita untuk menyapa, dan mau mendengarkan orang-orang yang melakukan hal yang sama tetapi berasal dari tradisi berbeda, bisa membantu mengubah cara budaya kita memandang agama.

Membicarakan agama setelah tragedi Norwegia berarti tidak membiarkan ketakutan mendefinisikan apa itu agama. Mengkaji keyakinan kita sendiri dan mengejawantahkan iman kita melalui tindakan cinta tanpa pamrih, bisa menjauhkan perbincangan dari ketakutan yang meracuni.

Upaya sengaja untuk memahami agama, meskipun mungkin tidak nyaman, harus menjadi bagian untuk maju ke depan. Terlibatlah dalam percakapan atau bacalah sebuah buku yang dikarang oleh seseorang yang bukan “orang lain” bagi diri Anda. Bermitralah dengan para penganut agama lain dalam program-program bantuan kemanusiaan atau pengembangan masyarakat untuk memahami bagaimana agama kita yang berbeda-beda memotivasi tindakan kebaikan yang sama. Dan bergabunglah dalam diskusi yang jujur tentang perbedaan kita untuk menemukan apa yang bisa kita pelajari dari satu sama lain.

Hidup di tengah masyarakat sekuler tidak berarti mengabaikan agama. Justru, kita bisa menggunakan agama untuk membangun dunia yang lebih baik.

###

* Julie Clawson (www.julieclawson.com) adalah pengarang Everyday Justice: The Global Impact of Our Daily Choices.

Artikel ini ditulis atas kerja sama hminews dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.