Oleh: Masagus Fauzan Yayan

Sahabat Ali bin Abi Thalib, pernah berkata, “Ab’ad ma yakunul ‘abd minallah idza lam yuhimmahu illa bathnuh wa farjuh” [jarak yang terjauh antara seorang hamba dengan Allah ialah ketika urusannya hanyalah perut dan seksnya.] Atau bahasa sederhananya, seseorang yang hanya memikirkan perut dan di bawah perut maka derajatnya sama dengan apa yang keluar dari perutnya.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Puasa disyari’atkan menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan seks suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Puasa bertujuan untuk menyingkap mata batin seseorang bahwa hidup ini lebih luas dari pada urusan perut dan bawah perut, dan puasa mampu membawa terbang jiwa kita menuju cakrawala luas melampaui raga yang fana ini.

Dalam menuju kesempurnaan jiwa, metode menghilangkan kotoran adalah yang lebih diutamakan daripada menghiasinya. Begitu juga dengan sifat yang buruk dan dari hal-hal yang buruk itu lebih diutamakan untuk dibersihkan. Apa hal yang buruk dalam diri manusia ? Yang tidak baik dari diri manusia adalah cenderung menuruti hawa nafsu bahkan menuhankan hawa nafsu itu.

Lalu bagaimana pandangan al-Qur’an tentang hawa nafsu. Dalam surah an-Nur/24: 30, Allah berfirman, ”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka”.

Ayat di atas berisi tentang dua hal yang berkaitan dengan menjaga nafsu, yaitu pertama gadhdhul-bashar (menahan pandangan) kedua, hifz al-farj (menjaga kesucian seksual). Gadhul-bashar adalah menahan atau mengontrol pandangan mata untuk tidak melihat pada aurat lawan jenis atau sejenisnya, sebagai tindakan preventif terhadap munculnya perbuatan mesum, seperti timbulnya perzinaan, Adapun hifz al-farj adalah menjaga kesucian seksual agar seseorang tidak melakukan perbuatan yang mesum seperti perzinaan dan penyimpangan seksual lainnya.

Menurut al-Quran, tumbuhnya hawa nafsu terhadap kaum hawa merupakan anugerah dari Allah. Sungguh suci dan mulia hubungan seksual dalam al-Qur’an. Seks dan cinta kasih yang tumbuh dalam diri manusia adalah anugerah dan sekaligus juga amanah. Sifat kasih yang tumbuh sesama manusia itu merupakan percikan dari Rahman-Rahim Allah yang tak terhingga.

Menurut rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat dalam Psikologi Beragama (2006), Sesungguhnya, hubungan seksual yang menyebabkan reproduksi manusia berkelanjutan merupakan partisipasi manusia dalam karya Tuhan.

Oleh sebab itu ajaran al-Qur’an mendorong terciptanya ikatan perkawinan yang bertanggung jawab. Hubungan seks yang diikat dengan ikatan pernikahan oleh al-Qur’an diistilahkan sebagai mitsaqan ghaliza atau perjanjian agung (dahsyat).

Menurut agama, libido tidak dapat dihancurkan akan tetapi ia hanya bisa dikendalikan dan diarahkan ke sasaran yang tepat. Karena seks merupakan anugerah, maka perlu disalurkan dengan tepat kepada pasangan yang sah dinikahi.

Oleh sebab itu, di dalam agama, seseorang yang telah memenuhi persyaratan untuk menikah dianjurkan untuk segera menikah karena dikhawatirkan akan terjadi penyimpangan seksual. Bagi orang yang mampu menikah tapi tidak mau menikah maka ia dikecam bukan golongan umat Muhammad saw. Sedangkan bagi seseorang yang sudah dewasa namun belum menikah dikarenakan tidak memiliki kemampuan ekonomi dianjurkan untuk menahan diri dan memelihara kesuciannya “Hendaklah mereka yang belum mampu (kawin) menahan diri, hingga Allah menganugerahkan mereka kemampuan” (QS An-Nur [24]: 33).

Menahan diri yang dimaksud ayat di atas ialah dengan cara berpuasa. Memang benar puasa adalah perisai dan obat mujarab terhadap hasrat libido karena puasa menyebabkan lemahnya fisik seseorang akibat tidak ada asupan makanan (energi) ke dalam tubuh sehingga hasrat libido menjadi lemah.

Menurut ilmu psikologi, dalam setiap diri kita tersembunyi hawa nafsu yang setiap saat bisa keluar. Hawa nafsu adalah hasrat untuk memperoleh kenikmatan badani (sensual pleasure). Psikolog seperti Freud menyebutnya sebagai pusat energy yang bersembunyi dalam gudang bawah sadar kita yang bernama id. Seperti cairan panas magma dalam perut bumi, setiap saat id bisa meledak, dengan mengabaikan ego (kemampuan kita untuk melihat realitas) dan memberontak superego (norma atau aturan hidup).

Apa yang tersimpan dalam magma id? Salah satu di antaranya, dan menurut Freud yang paling penting, adalah seks. Boleh jadi seseorang yang pemalu, pendiam, sangat sopan, dan agak pengecut dalam hubungan dengan kawan lain jenis. Tiba-tiba dia “ketiban” bintang dari langit. Seorang kawannya yang cantik, seksi, agresif jatuh cinta kepadanya. Ia menarik dirinya ke tempat yang sepi, apa yang terjadi kemudian, Wallahu a’lam.

Mampukah kita mengendalikan “binatang buas” yang sudah terlepas dari talinya itu? Insya Allah, mampu; dengan satu syarat, kita sudah terlatih untuk mengendalikannya. Kalau kita sudah mampu mengendalikan hawa nafsu, Kita bukan sekadar binatang menyusui. Kita sedang menjadi manusia, makhluk yang dapat bergerak jauh ke luar batas-batas tabiatnya. Kita bahkan dapat menjadi malaikat.

Ketika Yusuf a.s. berhasil menepis godaan Zulaikha, Tuhan menganugerahkan kepadanya bukan hanya kenabian, melainkan juga kemampuan memahami takwil  mimpi. Pandangannya melewati batas-batas dunia lahir dan menembus jauh ke alam batin.

Maha benar Allah dengan segala firmannya, “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan diri (dengan puasa dan zakat), dan menyebut nama Allahnya (dengan bertakbir) lalu mengerjakan shalat (Idul Fitri).” (QS al-A’la [87]: 14-15).

Melalui ibadah di Ramadhan, insya Allah jiwa kita kembali memancarkan fitrah kesuciannya. Satu bulan lamanya, kita melatih diri berpuasa menahan lapar dan dahaga, ikut menjalankan shalat taraweh, mulai rajin bertadarus al-Qur’an, merenung sambil beriktikaf di masjid, mengikis sifat kikir dan pelit dengan mengeluarkan zakat, dan gemar bersedekah, membuka pintu maaf bagi kesalahan saudara kita.

Hal ini kita lakukan untuk menebus dosa-dosa kita selama di luar Ramadhan. Walhasil pendidikan Ramadhan membuat kita ibarat bayi yang baru dilahirkan, tanpa noda dan tanpa dosa. Semenjak Idul Fitri, proses kehidupan manusia, khususnya kaum muslimin, dimulai lagi dari angka nol.

* Masagus Fauzan Yayan adalah Pengasuh Rumah Tahfiz Kiai Marogan & Darussalam, Palembang. Penulis buku Quantum Tahfidh dan alumnus HMI Jakarta Selatan