Oleh: Sughra Ahmed

London – Menyusul berbagai kerusuhan di beberapa kota di Inggris, sebagian laporan media berfokus pada anak-anak muda Muslim Inggris. Anak-anak muda ini umumnya merupakan para imigran generasi ketiga yang tumbuh besar di sebuah negara yang sering kali memandang anak-anak mudanya dengan sinis, dan menganggap mereka bermasalah dan mengganggu. Namun, kita jarang mendengar dari anak-anak muda Muslim Inggris sendiri dan mengetahui bermacam cara mereka memandang identitas mereka.

Menurut data sensus Inggris, Muslim di sana rata-rata berusia 28 tahun (13 tahun di bawah rata-rata nasional), dan sekitar separonya di bawah usia 25 tahun dan sepertiganya berusia 16 tahun atau lebih muda lagi. Kita biasa mendengar tentang anak-anak muda Muslim dalam konteks radikalisasi, tetapi hidup mereka jauh lebih kompleks dan sangat jauh terpisah dari debat-debat tentang ekstremisme.

Ada kisah tidak terungkap tentang tantangan-tantangan antargenerasi, kepemimpinan dalam masyarakat dan keterasingan dari institusi-institusi masyarakat luas. Lalu apa yang tidak kita dengar? Ke manakah anak-anak muda itu menyalurkan berbagai kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri? Bagaimanakah kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi?

Menurut berbagai laporan penelitian Policy Research Centre, anak-anak muda Muslim sangat merasa bahwa masyarakat tidak melihat mereka seperti halnya mereka memandang diri mereka sendiri: sebagai anak-anak muda modern yang menghadapi berbagai tantangan abad ke-21. Mereka menekankan bahwa kita tidak semestinya menganggap mereka sebagai orang-orang yang menghadapi pertentangan antara identitas keagamaan dan identitas kebangsaan mereka. Seorang responden mengatakan, “Orang-orang menantang Muslim Inggris, [dengan mengatakan] bahwa Anda itu Inggris atau Muslim; mengapa kita tidak bisa menjadi dua-duanya?”

Identifikasi diri bagi anak-anak muda Muslim tidak hanya soal menegosiasikan dunia politik dan agama formal. Ada perasaan yang kuat akan identitas lokal di kalangan pemuda, yang nenek moyang mereka boleh saja dulu bermigrasi, tetapi mereka sendiri telah sejak lahir menetap di sini. Orang Muslim Skotlandia terang-terangan menganggap diri dan merasa bangga sebagai orang Skotlandia. tetapi ini juga sebagiannya terkait dengan penerimaan dari orang lain. Misalnya, seorang anak muda Muslim Skotlandia benar-benar merasa sebagai orang Skotlandia untuk pertama kalinya ketika berhadapan dengan para penggemar sepakbola di atas sebuah kereta api yang bertanya apakah ia mendukung tim Skotlandia. Ia menjawab, “Tentu iya.” Sang penanya pun membalas, “Aku akan membelikan Anda bendera, karena Anda orang Skotlandia juga.”

Identitas-identitas selalu dalam pencarian terus-menerus, kadang kala secara tidak sadar, ketika mereka menanggapi wacana, pengalaman dan tekanan yang tampak membayangi kehidupan kawula muda yang kompleks. Pemuda Muslim Inggris menggambarkan kehidupan modern mereka sebagai kehidupan yang dikelilingi oleh kesenjangan komunikasi, terutama ketika menyangkut kerenggangan antargenerasi dalam komunitas mereka sendiri. Beberapa pemudi mengaku telah merasa terpaksa mencari tahu tentang Islam untuk diri mereka sendiri, tapi, ketika mempraktikkan kepercayaan diri baru mereka dalam beragama, mendapati bahwa berbagai ekspektasi dari generasi orangtua mereka sulit diwujudkan.

Yang lain, laki-laki maupun perempuan, mengaku dihadapkan pada dua kehidupan yang sangat berbeda – kehidupan di rumah dan kehidupan di luar rumah – sebagai cara untuk menegosiasikan tantangan antargenerasi. Pada satu sisi, mereka didorong untuk memperlihatkan penghormatan terhadap keluarga dan/atau komunitas Muslim dengan menahan diri dari terlalu banyak bertanya dan belajar menerima keadaan seperti adanya. Namun, di luar, anak muda Muslim Inggris sering menemukan jalan mereka di sekitar dunia yang mereka huni dengan bertanya, belajar, mempertanyakan dan terkadang merasa perlunya melewati batas.

Meskipun anak-anak muda merasa kalau pandangan mereka tidak dimengerti oleh masyarakat, mereka jelas memiliki rasa patriotisme dan ingin memperbaiki hidup mereka dan hidup orang lain. Dari usaha mereka membantu para tunawisma Inggris melalui program Fasting not Feasting, yang dirancang untuk mendorong kebiasaan berbagi makanan, dan membantu petugas kebersihan di seluruh Inggris setelah terjadi kerusuhan, hingga terlibat dalam persiapan Olimpiade 2012 di Inggris, kita bisa melihat dan mendengar, jika kita mau, bagaimana anak-anak muda Muslim Inggris menginspirasi orang lain untuk turut berbangga membuat Inggris tempat yang lebih baik bagi setiap orang.

Bagaimana kita bisa membuat mereka mampu memperbaiki hidup mereka dan, pada gilirannya, masa depan mereka? Kita hanya perlu meninggalkan stereotipe, politik identitas, ketakutan terhadap “orang lain”, dan melihat mereka apa adanya: sebagai pewaris masa depan negara dan masa depan kita.

###

* Sughra Ahmed ialah peneliti Policy Research Centre, yang membuat laporan penelitian berjudul ”Seen and Not Heard: Voices of Young British Muslims” (2009) dan penelitian lapangan lainnya yang menghimpun pandangan-pandangan Muslim dari 15 etnis di seantero Inggris, Skotlandia dan Wales.

Artikel ini ditulis kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).