HMINEWS – Akademisi dari Universitas Paramadina, Anies Baswedan, menilai saat ini bangsa Indonesia tengah mengalami krisis kepemimpinan. Menurut dia, persediaan tokoh-tokoh sebenarnya cukup banyak. Namun, tak semua dapat menjadi sosok yang diinginkan rakyat. Salah satunya dilihat dari indikator sosok pemimpin yang seharusnya tegas.

“Kita punya banyak stok tokoh politik, tokoh bisnis, tokoh NGO yang bagus-bagus. Tetapi, kita butuh seorang pemimpin politik, yang menjadi pertanyaan kemudian, pemimpin politik yang seperti apa? Harusnya seorang memiliki jiwa kepemimpinan. Kita kekurangan tokoh demikian. Pemimpin nasional kita belakang ini tidak tegas. Ketidaktegasan itu ternyata menular luar biasa hingga ke bawah-bawahnya,” ujar Anies saat menghadiri talkshow Revitalisasi Kepemimpinan Nasional di Universitas Katolik Atma Jaya, Jumat (12/8/2011).

Ia pun menuturkan, pemimpin nasional saat ini sering absen dalam peristiwa-peristiwa yang sebenarnya penting untuk bersama rakyatnya. Contohnya peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi di antara masyarakat, pimpinan negeri ini justru cenderung melakukan pembiaran.

Tidak langsung bertindak untuk memberikan arahan untuk rakyatnya. “Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemimpin di Indonesia absen di dalam persoalan-persoalan besar. Harusnya pemimpin hadir untuk mewakili janji kemerdekaan kita. Negara absen terhadap perlindungan rakyatnya dan saya melihat keengganan mengambil keputusan secara cepat dan tepat,” jelasnya.

Belakangan, kata Anies, komunikasi di antara para pemimpin bangsa juga tak terjalin. Segala sesuatu dilakukan lewat media dan mengumbarkan cerita di media. Ia mencontohkan Presiden Amerika Serikat Obama, yang merupakan teladan pemimpin yang benar-benar hadir untuk rakyatnya.

Dalam satu hari, Obama bisa berkali-kali melakukan komunikasi dengan para bawahannya melalui telepon untuk menanyakan situasi dan kondisi masyarakat. Di Indonesia, menurut Anies, hanya sosok mantan Presiden Gus Dur, yang benar-benar hadir untuk rakyat dan bertindak cepat.

“Presiden seharusnya hadir secara nyata dan dirasakan kepemimpinannya. Bukan berkomunikasi lewat televisi dan menyatakan prihatin, akan jadi beda kesannya, apa sulitnya berbicara langsung,” tukasnya.[]kmps