oleh: Budi Gunawan S.

Laiknya aurat yang selalu menarik untuk dilihat, aib pun selalu menarik untuk dibahas. Tak peduli benar tidaknya sebuah gosip karena yang penting adalah ia disukai banyak pemirsa. Ialah M Nazaruddin, Bendahara Umum terpecat Partai Demokrat, yang membuka aib partainya sendiri. Lebih dari itu ia bahkan berusaha menelanjangi kedok Ketua Umum, Anas Urbaningrum, yang selama ini dikenal sebagai sosok muda mantan aktivis mahasiswa, cerdas, bersih, intelek dan santun. Satu sikap yang cukup mengejutkan mengingat keduanya dikenal bersahabat tidak hanya di partai tapi juga di bisnis dll.

Kisah pengkhianatan yang bermula dari terkuaknya kasus suap sesmenpora, Nazar yang pada gilirannya juga ditetapkan sebagai tersangka tak rela menanggung beban salah sendirian. Sembari melarikan diri ke luar negeri, ia pun mulai ‘berkicau’. Beberapa nama besar elit PD disebut-sebut terlibat sejumlah kasus korupsi. Dengan memanfaatkan beragam alat komunikasi, buron Interpol ini membangun panggung di televisi membeberkan data dan fakta yang menurutnya benar alias tidak direkayasa.

Blow up Media

Alhasil, luberan informasi ini pun kemudian ditangkap dengan gegap gempita oleh siapapun yang berkepentingan termasuk media. Nazar yang tengah berada dalam lindungan gembong penjahat internasional membuat geger perpolitikan tanah air. Berkali-kali Metro TV dan TV One menayangkan pernyataan Nazaruddin, berkali-kali pula stasiun berita itu mengulasnya dalam acara-acara talk show. Praktis, citra partai yang dibangun melalui jerih pencitraan pun remuk redam oleh pemberitaan (baca: pencitraan) media yang begitu gencar dan (terkadang) tendensius.

Badai kasus yang menggulung-gulung partai demokrat sangat mungkin terjadi di partai lain. Apalagi hampir dipastikan semua partai di republik ini menjalankan modus serupa dengan apa yang dipraktekkan Nazaruddin dkk. Bedanya ialah belum tentu setiap partai memiliki kader senekad dia. Sehingga uang haram yang banyak beredar memenuhi pasar gelap politik partai masih banyak yang belum terungkap ke mass media.

Rahasia umum

Power tends to corrupt tidak hanya menjadi rahasia umum melainkan pengetahuan umum yang sudah mewatak bahkan di masyarakat awam sekalipun. Demikian halnya dengan apa yang dialami Anas saat ini. Bukan tidak mungkin hal yang sama bakal terjadi pada ketum-ketum partai lain. Lingkaran setan korupsi2 yang melibatkan pejabat politisi, broker, mafia proyek, mafia anggaran dst merupakan praktek wajar yang menahun dan terjadi setiap hari di semua lini. Justru menjadi tidak wajar ketika sebuah partai tidak memiliki strategi koruptif untuk memenuhi kebutuhan hajat hidupnya yang berbhineka itu.

Meski di ranah hukum, korupsi merupakan kejahatan luar biasa, namun dalam dunia politik korupsi menjadi kejahatan yang biasa, lumrah dan jamak. Bahkan bisa dibilang menjadi bagian dari gaya hidup politikus. Karenanya ia lebih pantas disebut aib; perilaku menyimpang yang (pernah/) sering dilakukan secara sembunyi-sembunyi namun diketahui sesama. Secara a priori betapa hidup pekerja politik sangat rawan dibiayai hasil korupsi.

Inilah lagu lama judul baru yang terus dinyanyikan si ‘ember’ Nazaruddin. Sebagai orang yang turut berkecimpung, ia memiliki pengalaman, data dan fakta atas sejumlah kegiatan politik partainya yang dibiayai dari uang-uang illegal. Transaksi-transaksi yang sebelumnya bersifat setengah kamar justru dihadirkan Nazaruddin ke ruang publik. Aib kawan separtai yang dulu dirahasiakannya kini malah dipertontonkan di muka umum. Yang lebih menarik ialah di tengah sulitnya masyarakat mengais rupiah, di televisi justru melintas mobil box berisi uang jutaan dolar untuk dibagi-bagikan dalam pesta (demokra(t)si) partai.

Penutup

Lantas apa yang harus dilakukan untuk mengakhiri (kasus) Nazaruddin? Lebih jauh lagi ialah bagaimana menuntaskan kasus korupsi yang ternyata melibatkan banyak pihak itu? Apakah Golkar, Nasdem atau Sri Mulyani solusinya?

Dalam konteks ini penulis kesulitan untuk mengakhiri paragraf. Mengingat setiap tindakan, sikap dan pendapat yang muncul belakangan sudah sarat kepentingan baik untuk mempertahankan maupun untuk menggoyah kursi (P)Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai berkuasa saat ini. Itulah sebabnya kalimat judul di atas dimulai dengan tanda titik-titik, agar Anda bisa mengisinya dengan kata membuka atau menutup .