HMINEWS, Jakarta –  Sejarah nusantara sebenarnya sudah terbangun jauh sebelum munculnya kolonialisme oleh Barat. Kehidupan asli nusantara waktu itu lebih menekankan pada semangat sinergisme dari pada kompetisi. Semangat sinergi inilah yang sebenarnya menjadi jiwa peradaban nusantara yang berbeda dengan budaya yang dikembangkan oleh Barat.

Hal tersebut disampaikan oleh budayawan kondang Radha Panca Dahan dalam sebuah diskusi renungan jatuhnya Malaka ke tangan bangsa kolonial yang diselenggarakan oleh Nusantara Raya Institute di aula Yayasan Paramadina, Jakarta (16/8/2011). Radha memaparkan, jika peradaban Barat memandang dunia hanya dalam sudut pandang dualistik antara hitam – putih, jelek – bagus, laki – laki perempuan, benar – salah, maka peradaban nusantar tidak memandang dunia dalam dua kategorisasi tersebut.

“Dunia ini terlalu kompleks untuk hanya kategorikan dalam dua sektremitas tersebut. Masyarakat nusantara tidak membedakan berdasarkan dualisme tersebut, masyarakat adalah lebur dan bisa kedua-duanya,” demikian kata Radhar.

Budayawan Radar Panca Dahana

Sejarah kolonialisme telah memprak-porandakan peradaban nusantara yang sebenarnya sangat terbuka. Masyarakat yang sebenarnya sangat ‘open’ dengan kehadiran bangsa-bangsa lain tersebut, oleh kolonialisme kemudian dibuat menjadi kehilangan jati dirinya oleh dominasi kolonial. Inilah yang menjadikan bangsa kita saat ini kehilangan kepercayaan dirinya sebagai sebuah entitas bangsa.

Saat ini, Islam sebagai sebuah agama yang telah menjiwa dalam masyarakat nusantar menjadi identitas tersendiri yang mustinya membangkitkan kembali konfidensi bangsa nusantara. Ajaran-ajaran Islam memberikan arahan kepada bangsa nusantara untuk kembali menemukan jatidirinya. Contohnya dalam ajaran puasa, ini adalah sebuah ajaran yang sangat sesuai dengan tradisi nusantara untuk mengendalikan hawa nafsunya dengan ‘tapa’.

Hal senada juga disampaikan oleh direktur Nusantara Raya Institute Ahmad Suryadi Nomi. Menurutnya, saat ini Islam adalah identitas utama masyarakat nusantara. Cara ber-Islam bangsa-bangsa nusantara bahkan menunjukkan hal yang khas dibandingkan dengan cara keber-Islaman bangsa-bangsa lainnya, termasuk Timur-tengah. Hal tersebut menunjukkan bahwa Islam di tanah nusantara telah menjadi identitas diri bagi rasa kebangsaan masyarakatnya.

Direktur Nusantara Raya Institute Suryadi Nomi

Lebih lanjut, Suryadi, dalam orasi publiknya menyampaikan bahwa sebenarnya melalui format negara bangsa yang saat ini berlaku, bangsa nusantara masih belum menemukan jati dirinya.

“Adopsi konsep demokrasi masih belum menemukan “rumahnya”. Oleh karena itu memalui peringatan 500 tahun jatuhnya Malaka diharapkan menjadi titik balik kebangkitan nusantara raya sebagai sebuah entitas peradaban yang sejajar dengan China, India, Persia dan Eropa, Demikian Suryadi menyampaikan.[] lara