Judul      : Berkah Kehidupan, 32 Kisah Inspiratif para Orang Tua
Penulis   : Penulis Bersama
Editor     : Baskara T. Wardaya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1/Maret 2011
Tebal      : 408 halaman
ISBN       : 978-979-22-6759-4
Harga     : Rp 75.000

“Satu kali pun tidak pernah saya mendengar Ibu atau Ayah menyesalkan atau mengeluhkan bahwa seluruh milik mereka di Silesia—dan di Ceko tempat Kakek—hilang begitu saja. Kami termasuk 14 juta orang Jerman yang, sebagai balasan atas Perang Dunia II yang dilancarkan Jerman, diusir dari Eropa Timur.”
– Franz Magnis-Suseno, SJ

Romo Magnis sejatinya seorang keturunan bangsawan Jerman. Orang tuanya memiliki 10.000 hektar tanah lebih. Perang yang berkecamuk di tanah kelahiran memaksanya menjadi pengungsi di Polandia. Begitulah salah satu kisah pribadi sekaligus fakta historis dalam buku ini.

“Berkah Kehidupan” memuat 32 kisah orang tua para tokoh publik. Dari Syafii Maarif, Ayu Utami, Benedict Anderson, Asvi Warman Adam, Hersri Setiawan, B. Herry-Priyono, Ery Seda, M. Imam Aziz, Kamala Chandrakirana, Hilmar Farid, Degung Santikarma, Stanley Adi Prasetyo, F. Budi Hardiman, Djoko Pekik, hingga P.M. Laksono, serta masih banyak lagi. Sesuai kompetensinya, para tokoh publik tersebut mendedikasikan diri bagi kemajuan negeri. Kendati demikian, masyarakat kurang mengetahui latar belakang kehidupan keluarga mereka.

Sebut saja Djoko Pekik (DP), orang tua pelukis asal desa Sulur Sari, Purwodadi itu tergolong kaum marginal (baca: miskin). Ternyata bapak dan ibu seniman – yang lukisan “Celeng”-nya berbanderol Rp 1 Milyar tersebut – sama sekali tak bisa baca-tulis. Mereka mengandalkan naluri dan biting (lidi) untuk menghitung angka-angka (halaman 220).

Sejak kecil DP terbiasa bekerja di sawah. Dari meluku (mluku), mengarit (ngarit), mencangkul (macul) hingga pekerjaan “kasar” lainnya. Saat itu mereka mengalami masa paceklik (susah). Situasi ini diperparah dengan meletusnya pemberontakan tentara “merah” pada 1948-1949 di Madiun.

Dalam buku ini dikisahkan pada usia 11 tahun DP didaulat menjadi pemain ketoprak. Sebagai selingan zaman  perang, para tentara rakyat mengajarinya berakting. Ia memerankan lakon Klenting Kuning, seperti  termaktub dalam kisah Ande-ande Lumut. Pertunjukan digelar di kota Kecamatan. Ia musti pergi-pulang dengan berjalan kaki sejauh 30 km.

Ironisnya, saat pentas berlangsung terjadi kerusuhan. Sama seperti sekarang kalau ada konser musik, acapkali terjadi perkelahian karena soal sepele. Untungnya, Pak Lurah cepat bertindak. Beliau menenangkan warganya. Dengan berdiri di atas meja ia berkata, “Mohon perhatian!” Seketika itu juga, semua hadirin duduk dan tenang kembali. DP kecil memaknai ungkapan “mohon perhatian” sinomin dengan “silakan duduk”.

Orang tua DP memiliki 8-10 hektar sawah. Mereka mengupah banyak pekerja. Para buruh tani berjibaku di sawah berlendut (berlumpur). Tak memperdulikan cuaca panas-terik, hujan-badai, ataupun petir-halilintar. DP kecil mulai menyadari keluarganya bisa makan karena jerih payah itu.

Kendati demikian, selama pentas Ketoprak, Sang Sutradara melarang Klenting Kuning bekerja di sawah. Karena takut kulitnya menjadi legam. Akibatnya, sang bapak marah melihatnya bermalas-malasan di rumah. Ia memegang prinsip, ”Manusia harus bekerja kalau mau makan. Lebih baik tak usah main ketoprak lagi!”  Sebagai jalan tengah, DP membaluri tubuhnya dengan rumput sepulang dari sawah. Sehingga kulitnya tetap berwarna kuning langsat.

Saat masuk SMP, DP musti membeli sepatu. Bapaknya terpaksa menjual kedelai agar bisa memperoleh sepasang sepatu. Ia memikul 2 bakul kedelai  di pundaknya sembari bertelanjang dada alias ngliga. DP remaja yang mengikuti dari belakang menatap punggung sang ayah yang tersengat terik matahari. Beberapa bagian terkelupas seperti kulit ular yang nglungsungi (berganti kulit).  Setibanya di pasar, uang hasil penjualan kedelai dipakai membeli sepatu. Tapi hanya dapat yang putih. Saat itu mendapatkan sepatu sesuai selera warna tak semudah saat ini.

Akhirnya, DP remaja mulai belajar hari pertama di SMPN Grobogan, Purwodadi (1952). Ia mengenakan sepatu putih baru. Lengkap dengan 2 stel seragam baru juga. Aroma khas pabrik masih menusuk hidung. DP tertegun dan menangis di bangku kelas. Ia menatap meja bersih dan ruang kelas rapi. Ia berada di sini karena jerih payah para buruh tani dedikasi kedua orang tuanya. Di sekolah ia diajari bahasa Inggris, ilmu ukur, ilmu alam, bahasa Indonesia, ilmu hayat, dll. Dalam hati ia berkata demi ilmu begitu mahal harga yang harus dibayar. Ibarat pepatah Jawa, “Jer basuki mawa bea…

Dalam buku ini dikisahkan bahwa ortu DP memiliki 12 anak. Mediang bapak dan ibunya wafat berturut-turut pada 1960 dan 1970. Sehingga DP tak dapat membalas budi baik mereka. Saat itu ia masih mendekam di dalam penjara (1970). DP dituduh oleh rezim orba terlibat dalam aliran komunis. Ia memang terkenal sebagai salah satu seniman LEKRA.

Pasca menghirup udara bebas dan keadaan ekonominya membaik. Ia membiayai 3 orang saudaranya naik haji ke Mekah. Ketiga saudara tersebut ada yang tuli, rabun, dan buta huruf. Mereka mengatakan tak tahu apa yang diucapkan orang di sana. Kendati demikian, mereka merasa senang sekali. Setidaknya kini ada tambahan inisial H di depan nama. Di pedesaan, status sosial itu sangatlah penting. DP bersyukur bisa membiayai mereka menjalankan ibadah umroh.

Sebagai anak ragil (terakhir) DP merasa bahagia dapat memiliki orang tua, lengkap bapak dan ibunya. Ia memiliki sertifikat kelahiran yang melegalisasikan fakta historis tersebut. DP membandingkan dengan para anak WTS. Banyak yang memiliki anak tapi tak tahu siapa bapaknya. Di daerah Kadipiro dan Getas yang notabebe kawasan lokalisasi kelas 2 setelah Sarkem (Pasar Kembang) di Yogyakarta, banyak anak mengalami “nasib” tragis. Bahkan walaupun hamil tua, para WTS tetap bekerja. Konon banyak pelanggan ketagihan dengan sensasi badaniah berhubungan dengan perempuan mengandung.

Kini DP tua sudah menjadi ayah pula. Ia memiliki 8 buah hati dari perkawinannya. Cucu DP berjumlah 15. Sebagai catatan kaki, DP tak menulis sendiri kesaksian tentang ortunya. Karena ia lebih suka melukis. Editor buku ini, Baskara T Wardaya mengatakan, “Kami tak kuat membayar kalau harus memuat lukisan Djoko Pekik”. Oleh sebab itu, ia mewawancarai DP dan menyarikan hasil inteview tersebut.

Buku ini mengisahkan pula pengalaman orang tua PM Laksana (PML). Ia dikenal sebagai seorang Antropolog.  Sebelum menulis kesaksian tersebut ia sempat merasa ragu. PML bukanlah seorang Nabi, kenapa musti mewartakan hal-hal yang bersifat personal kepada dunia. Setelah lama berpikir akhirnya ia mau berbagi. Sebab memang ia banyak belajar dari kedua orang tuanya (halaman 321).

Keluarga PM Laksana ialah keluarga petani. Simbah (kakek dan nenek)-nya juga petani dan bakul pasar. Bahkan ayahnya sempat menjadi preman pasar. Sang ayah bertobat karena ia  menempeleng dan seketika orang itu terkapar pingsan. Ayahnya menyadari betapa dahsyat kekuatan yang dimiliki. Lantas ia memutuskan memakai power tersebut bukan untuk menaklukkan orang lain, melainkan untuk mengalahkan diri sendiri. Ia kemudian menjadi guru.

Ibunya sempat sekolah perawat di Magelang. Sang ibu dididik oleh para Suster. Saat itu pemerintah kolonial Belanda menggalakkan politik etis. Yakni pengairan, transmigrasi, dan pendidikan. Namun ibarat boomerang, kebijakan itu justru mengobarkan semangat nasionalisme anak bangsa. Yang berbuah manis kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 145.

Premis dasar buku ini ialah, “Manusia tak bisa lepas dari relasinya dengan sejarah”. Misal dari sang ayah, PM Laksana belajar ketegasan. Hidup dimaknai sebagai perjuangan. Pendidikan tak hanya di sekolah, tapi juga di dalam keseharian. Ia berani melawan kemalasan diri sendiri. Sang ayah memberi contoh lewat tindakan. Ia selalu bangun pagi, melipat selimutnya sendiri, rajin menyapu halaman rumah,  walau notabene statusnya ialah kepala keluarga.

Kendati demikian, sang ayah tak seperti rezim orba, yang cenderung dogmatis dan otoriter. Saat kecil PML suka mencuri mangga di daerah Bintaran. Sesampainya di rumah, Sang ayah bertanya, “Bagaimana enak rasanya mangga tadi?” Sebenarnya itu sebuah sindirian agar ia tak lagi mengambil milik orang lain tanpa izin.

Sharing Unikum

Buku ini mengungkap pula pelajaran dari Sang ibu. PM Laksana belajar bagaimana cara merayu. Sang ibu menggunakan akal sehat dan pengertian untuk mengkomunikasikan pesannya. Dari kedua orang tua tersebut PML belajar mensinergikan ketegasan dan kelemahlembutan. Satu pesan yang selalu diingat PML dari sang Ayah ialah, “Mulutmu jangan lebih cepat dari pikiranmu.”

Dalam buku ini PML berpendapat setiap orang begitu unik. Kemanusian ialah sharing unikum-unikum tersebut. Baginya walau berupa pengalaman pribadi, biografi seseorang sekaligus merupakan fakta sosial. Ia memaknai biografi sebagai sebuah cara untuk memahami kehidupan manusia berkomunitas.

PML juga membuka kartu. Ia sempat hendak menjadi seorang Romo. Tapi akhirnya ia membatalkan obsesi itu. Ia berjalan selama 12 hari dari Bandung ke Yogyakarta untuk memikirkan masak-masak keputusannya, “Is this my way?” Saat itu, seorang bijak menasehatinya, “Untuk menjadi orang Katolik yang baik, kamu tak harus menjadi rohaniwan”.

Padahal kedua orang tuanya sangat mengharapkan ia menjadi Pastor. Akibatnya selama 2 minggu ia tak diajak bicara, PML sendiri merasa malu karena telah merontokkan seluruh imaginasi orang tuanya. Suatu ketika disidang, “Tak apa tak jadi Romo, tapi apa kamu mau menganggur terus, apa kamu tak ingin sekolah?”, ujar kedua orang tuanya.

Keesokan harinya PML masuk ke SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang dikepalai oleh Pak Kasiyo. Ia mengambil jurusan IPA. Setamat dari sana ia bekerja sebagai sopir ompreng. PML menggunakan mobil ayahnya untuk mencari penumpang. Ia bertekad membiayai kuliahnya sendiri. Tak jarang malam ia menginap di Semarang kemudian paginya datang ke kampus UGM walau belum mandi.

Hidup harus mandiri, tidak miyar-miyur (plin-plan), dan kokoh pada pendirian. Inilah pesan orang tuanya. PML mengambil jurusan Antropologi. Sebagai satu dari 12 bersaudara kehidupan mereka sangat pas-pasan. Pada 1960-an banyak orang kelaparan. Sebutir telur bisa dibagi 16 untuk lauk makan.

Bahkan banyak orang mati kelaparan, terutama warga dari Gunung Kidul. Mereka turun ke Yogyakarta, tepatnya di depan Keraton Pakualaman. PML sering melihat sepulang sekolah, mayat-mayat bergelimpangan ditutupi kain di pinggir jalanan. Mereka terpaksa makan ulat dan kulit singkong untuk bertahan hidup. Saat berkunjung ke India, PML sempat menyaksikan “pemandangan” serupa di depan hotelnya.

Sebagai editor, Baskara T. Wardaya (BTW) menceritakan latar belakang lahirnya buku ini. “Berkah Kehidupan, 32 Kisah Inspiratif para Orang Tua” merupakan hadiah pesta emas perkawinan untuk orang tuanya. Tapi ia tak mau sendirian menuliskannya. Lantas, ia mengajak para tokoh yang relatif terkenal, baik dari dalam maupun luar negeri untuk berbagi kisah hidup para orang tua mereka.

Selama mengedit buku ini, BTW tersentuh, haru, tertawa, lucu, dan kadang meneteskan air mata. Misalnya saat membaca kisah Rendy dari Berlin. Dulu ayahnya seorang Atase di Republik Ceko. Sang ayah, Muh Isa, ditugasi langsung oleh Bung Karno. Setelah Soekarno dilengserkan, ia tak berani kembali ke Indonesia. Hingga saat ini, ia tetap berada di luar negri. Ada ribuan tokoh lain mengalami nasib serupa.

Kelemahan buku ini terletak pada banyaknya tokoh tua. Sebagian besar generasi kelahiran sebelum 1980-an. Kita – terutama generasi muda – musti  mencari kontekstualisasi dengan kekinian. Kendati demikian, sepakat bahwa hubungan baik dengan orang tua musti terus dipelihara.

Buku ini memfasilitasi sidang pembaca melacak jejak-jejak berkah kehidupan dalam keseharian. Kendati bersifat personal, isinya menyiratkan kisah inspiratif. Menyitir pendapat Baskara T. Wardaya, “Sejarah pribadi kita bisa jadi sejarah besar. Semoga lain kali ada lebih banyak orang yang mau menulis buku serupa. Sejatinya setiap orang ialah orang hebat. Kisah hidup kita menyiratkan keagungan Sang Pencipta itu sendiri. Hidup bukan sekedar materi, tapi bergelimang berkah. Kita musti meneruskan anugerah dari orang tua agar menjadi berkah bagi sesama dan kehidupan.” (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru SMA Budya Wacana Yogyakarta)