Oleh: Natana J. DeLong-Bas*

Boston, Massachusetts – Ada kejadian-kejadian tertentu yang begitu menyakitkan dan tidak bisa dimengerti sampai-sampai membuat kita terhenyak dan ingin tahu di dunia macam apakah kita sekarang berada. Pembunuhan massal mengerikan terhadap para remaja dan pemuda di suatu perkemahan musim panas di Norwegia harus membuat kita berpikir sejenak untuk merenungkan bagaimana kejadian seperti itu bisa terjadi.

Hanya menyalahkan seseorang sebagai sebuah kasus menyimpang tidaklah membantu kita sampai pada inti dari masalah sebenarnya. Tidak pula hal itu membantu kita melindungi anak-anak yang terperangkap di tengah-tengah bahaya akibat perseteruan yang terjadi.

Pemberitaan awal di media tentang serangan ganda Anders Behring Breivik ke gedung pemerintahan di tengah kota Oslo dan perkemahan musim panas Partai Buruh itu buru-buru mengaitkan serangan itu dengan “terorisme atas nama Islam”. Ini mengingatkan kita pada pemberitaan awal tentang ledakan bom di kota Oklahoma pada 1995 yang dilakukan oleh Timothy McVeigh, ketika para “pakar” langsung mengklaim serangan itu tampak seperti terorisme a la “Timur Tengah” atau “Islam”.

Ketika McVeigh terungkap selaku pelaku peledakan bom, media Amerika tidak mengaitkan agamanya (Kristen) dengan serangan itu seperti halnya “Islam” yang tadinya disangkutpautkan. Alih-alih, kekesalannya terhadap jawatan militernya dan kekecewaan politiknya disoroti sebagai akar pemicu kekerasannya. Karena Kristen tetap menjadi agama mayoritas di Amerika Serikat dan Eropa Barat, kebanyakan orang Amerika dan Eropa bisa mengerti model Kristennya McVeigh – tafsiran ekstrem dan politis yang tidak terkait dengan Kristen arus utama di Barat.

Hal yang sama tidak diterapkan pada Islam, yang tetap menjadi agama paling tidak dimengerti di Amerika Serikat dan Eropa Barat dewasa ini. Mayoritas orang Amerika, misalnya, tidak cukup tahu tentang Islam sehingga tidak bisa menyadari bagaimana sebuah tafsiran ekstrem berbeda dari praktik arus utama dalam Islam.

Malah, yang menyedihkan, kita berulang kali menyaksikan kejadian di mana orang menyamakan Islam dengan terorisme. Mereka mengungkapkan kemarahan atas “terorisme Islam” dan ketakutan akan diambil alihnya pemerintahan oleh kaum Muslim. Cerita-cerita tentang “identitas Muslim yang dirahasiakan” dari Presiden Obama terus saja beredar, begitu pula cerita-cerita tentang syariat Islam yang tengah dipaksakan ke dalam sistem hukum Amerika – kendati tidak ada bukti konkrit yang mendukung klaim-klaim ini.

Penyamaan yang terlalu menyederhanakan semacam itu sering menimbulkan perasaan terancam yang berlebihan. Hal itu pun bisa berujung pada kekerasan.

Misalnya, beberapa warga kota Oklahoma yang “peduli” menanggapi berbagai dugaan tentang para pelaku pemboman pada 1995 dengan mengganggu orang-orang Muslim setempat dan menebar suasana ketakutan, intimidasi dan kebencian.

Menurut berita-berita awal, Breivik, yang takut akan kolonisasi Muslim terhadap Eropa Barat dan berkembangnya multikulturalisme – dan kabarnya mengutip beberapa tokoh yang mendukung pandangan-dunia yang eksklusif dan intoleran – memutuskan bahwa sudah tiba waktunya untuk bertindak.

Walhasil, sekurang-kurangnya 76 orang, sebagian besar anak-anak dan remaja, membayar ketakutan Breivik dengan nyawa mereka.

Pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh apa yang kita baca, lihat dan dengar, serta oleh gagasan-gagasan yang sampai pada kita. Kebanyakan orang sudah sadar bahwa tidak ada pembenaran atas kekejaman semacam itu dan bahwa tindakan para teroris tidaklah bisa diampuni. Namun, pada saat yang sama, jika kita gagal menyadari dan mengatasi faktor-faktor sosial yang menjadi akar perilaku semacam itu, siklus kemarahan, kekerasan dan kebencian akan tetap berlanjut.

Berapa banyak lagi respon kemarahan akibat dijajakannya ketakutan dan Islamofobia harus terjadi sebelum kita bisa menyadari akibatnya yang terus saja menelan nyawa? Mendakwahkan kebencian, rasisme dan kefanatikan selalu berbuntut kekerasan – tidak pernah tidak merugikan dan tidak pernah tanpa maksud. Suatu saat, seseorang pun akan bertindak.

Dan, sangat sering, anak-anak yang tidak berdosa, yang tidak tahu menahu apa masalahnya, terperangkap di tengah-tengah perseteruan yang ada.

Mudah-mudahan Tuhan mengampuni kita semua karena membuat setiap anak-anak hidup dalam suasana di mana kebencian dan ketakutan menjadi makanan sehari-hari. Orang-orang dewasa di dunia ini berutang komitmen pada anak-anak, yaitu komitmen untuk belajar mendengar dan mengerti satu sama lain sehingga kita bisa hidup dalam lingkungan di mana martabat, kemanusiaan dan agama setiap orang dihormati.

Keselamatan dan nyawa anak-anak bergantung pada hal itu.

###

*Dr. Natana J. DeLong-Bas ialah Pemimpin Redaksi The Oxford Encyclopedia of Islam and Women dan pengarang Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. Ia mengajar perbandingan agama di Boston College.  Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)