HMINEWS – Dalam rangka menekan penghematan dan menambah devisa dari sektro Migas, langkah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan pilihan terakhir bagi pemerintah. Masih banyak cara lain yang bisa diambil oleh pemerintah.

Demikian disampaikan ekonom Rizal Ramli di Metro TV (Senin malam, 18/7).

“Masalah (Migas) kita, selain subsidi, yang paling penting adalah soal produksi. Produksi anjlok terus selama beberapa tahun terakhir. Kenapa anjlok, itu yang paling besar adalah birokratisasi di dalam eskplorasi Migas. Para investor butuh waktu berbulan-bulan dari BP Migas,” beber Rizal.

Hal lainnya, kata Rizal, tidak kondusifnya sistem pajak di tanah air. Permainan mafia Migas ikut menguras devisa negara dari sektor Migas. Komisi yang mereka terima, kata Rizal, lumayan besar. Kalau sistem pajaknya baik, hasil produksi Migas bisa naik.
“Tapi ini ada mafia Migas. Mereka dapat komisi. Memang perusahaan Singapura tapi yang punya orang Indonesia. Kalau dengan menaikkan BBM penghematannya hanya Rp 5 triliun, maka kalau mafia Migas ini disikat penghemetannya bisa sampai Rp 9 triliun. Jadi buat saya pilihan menaikkan BBM ini terakhir, sikat dulu mafia ini,” katanya.
Siapa mafia Migas tersebut? Rizal berani tunjuk hidung. Katanya, mafia tersebut jadi penyumbang ke Istan hitam.  Karenanya, kata bekas Menkoperekonomian era Gus Dur ini pun, dirinya sadar betul kalau pemerintah SBY-Boediono tidak akan mampu menyelesaikan masalah-masalah Migas.

“Kalau sama pemerintah ini saya sih mohon maaf, udah gak ada harapan karena selama tujuh tahun saja udah gak bisa berubah,” tandasnya.[]RMOL/ian