HMINEWS – Rakyat Yogyakarta benar-benar marah. Kesal dengan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mereka melakukan unjuk rasa “serangan” katapel. “Serangan” itu akan dilakukan saat SBY mengunjungi Yogyakarta pekan ini.

Jangan salah sangka, serangan ini cuma acara teatrikal. Demo dengan katapel ini akan diperlihatkan sebagai simbol kejengkelan rakyat terhadap kepemimpinan SBY dalam urusan keistimewaan Yogyakarta. Ratusan seniman akan membidik katapelnya di titik nol perempatan Kantor Pos Besar, pada Selasa, 12 Juli 2011.

“Sedikitnya ada 100 orang yang membawa ketapel dan 50 perempuan membawa panah sebagai simbol Srikandi marah,” kata Widhihasto, Koordinator Sekretariat Bersama Gerakan Keistimewaan Yogyakarta, Senin, 11 Juli 2011. Aksi keprihatinan itu bertepatan dengan kunjungan presiden di Yogyakarta dan Purworejo pada 12-14 Juli 2011.

Menyerang dengan katapel merupakan simbol gerakan menolak kebijakan-kebijakan SBY yang dianggap merugikan rakyat Yogyakarta. Peluru katapelnya bukan kerikil atau kelereng, melainkan bunga jambu atau peluru ringan yang tidak melukai. “Itu hanya simbol penolakan saja,” kata Widhihasto.

Momentum itu juga dimanfaatkan warga Yogyakarta dari Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) untuk melakukan ritual mengelilingi istana kepresidenan Gedung Agung dengan membaca Surat Yasin dan membakar kemenyan pada Selasa malam. Ritual itu, kata Rendra Setiawan, aktivis FPUB, merupakan upaya untuk mendoakan SBY.

Widhihasto menambahkan, aksi selanjutnya pada Rabu 13 Juli adalah unjuk rasa besar-besaran dari 40 elemen di Yogyakarta. Demonstrasi akan dimulai dari kantor DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta pada siang hari. Peserta demonstrasi akan mengawal lima Ketua DPRD Kota/Kabupaten dan ketua DPRD Provinsi menuju Gedung Agung. Para ketua Dewan itu akan membawa keputusan rapat paripurna soal penetapan Sultan sebagai Gubernur dan Paku Alam sebagai wakilnya. Para wakil rakyat itu akan menyerahkan keputusan itu ke SBY. “Jika SBY menolak akan kami usir,” .kata Widhihasto.

Ia juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Sekretariat Negara untuk urusan ini sehingga para ketua Dewan bisa lancar masuk ke Gedung Agung, tempat SBY biasa menginap saat berada di Yogyakarta.[]Tmpo/ian