HMINEWS – Pengamat politik Yunartho Wijaya menyarankan Partai Demokrat untuk menginisiasi penjemputan paksa tersangka kasus dugaan suap proyek wisma Atlet itu ke Tanah Air, Muhammad Nazaruddin di Singapura.

Hali ini, katanya, ebagai pertanggungjawaban moral karena Nazaruddin mendapatkan izin dari Fraksi Demokrat saat hengkang ke Singapura untuk alasan berobat.

“Demokrat harus secara langsung menjemput Nazaruddin. Jangan hanya menjenguk seperti pernah dilakukan oleh Tim Demokrat dan pulang dengan tangan hampa,” katanya Senin (4/7/2011) mengutip okezone.

Terlebih jika Demokrat sudah mengetahui tempat di mana Nazaruddin bersembunyi, elite Demokrat disarankan berangkat sendiri ke Singapura, bukan malah didelegasikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau polisi.

“Selain itu KPK juga bisa melakukan permintaan melalu mutual legal assistance dan yang terpenting tetap political will dari Partai Demokrat,” ujarnya.

Seperti diketahui, melalui BlackBerry messenger kepada sejumlah media, dia menjelaskan peran Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dalam berbagai proyek.

Terbaru, bekas Bendahara Umum Demokrat itu menyebut bahwa pada Januari 2010, dia terlibat pertemuan dengan Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, dan Mahyudin, anggota Fraksi Demokrat. Saat itu Andi mengajukan anggaran Rp2,3 triliun untuk sarana prasarana SEA Games 2011 dan percepatan pembangunan fasilitasnya.

Menanggapi tudingan itu, karuan saja para petinggi Demokrat meradang. Mereka menyebut Nazaruddin berbohong. Anas Urbaningrum mengatakan Nazaruddin ngarang, bahkan Ketua DPP Demokrat menyebut Nazar dan pengacaranya OC Kaligis mencemarkan nama baik. Lantas siapa yang benar?.[]OZ/ian