Oleh: Ziad Abu Zayyad*

Yerusalem – Saya terlahir di Yerusalem kepada 1980-an di tengah adanya pendudukan Israel. Ayah saya aktif dalam politik kepada 1970-an, dan paman saya adalah mantan anggota kabinet. Sedangkan saya, semasa remaja telah menjadi ketua OSIS, yang bergabung dengan gerakan-gerakan Palestina lainnya yang berjuang melawan pendudukan. Saya kehilangan teman-teman akibat konflik Israel-Palestina ini, yang sayangnya masih berlangsung hingga kini.

Seiring berlalunya waktu, saya merasa aktivisme saya tidaklah cukup. Kami tidak menyapa pihak lain, atau menyebar pesan kami ke seluruh dunia. Saya merasakan adanya kebutuhan untuk melakukan sesuatu yang bisa lebih memberi sumbangsih untuk mengakhiri kesengsaraan bangsa saya dan menggapai perdamaian dengan negara-negara tetangga kami. Saya juga merasakan bahwa kami perlu melahirkan perubahan dalam masyarakat Palestina yang akan memperdalam komitmen kami kepada nilai-nilai demokrasi dan memperkuat berbagai perangkat efektif dalam upaya kami untuk mengakhiri penjajahan di tanah air kami.

Empat tahun lalu saya mulai mengirim email ke banyak teman dan kenalan yang tampak tertarik kepada pandangan saya tentang apa yang terjadi di Israel dan Palestina. Saya menganalisis peristiwa-peristiwa politik dan sosial yang berlangsung di sekitar saya dan juga menyampaikan gagasan-gagasan mengenai solusi jangka panjang konflik Israel-Palestina yang telah sangat merugikan kedua pihak.

Hasil dari email-email ini dan perhatian yang didapatkannya, kepada 2007 saya mendirikan blog Middle East Post (MEP) untuk memberi anak-anak muda dari Timur Tengah kesempatan berbagi perspektif mereka mengenai isu-isu politik dan sosial.

Saya berpandangan bahwa siapa saja di kawasan ini punya hak untuk didengar pendapatnya tentang konflik, mengingat mereka bertujuan memunculkan pemahaman yang lebih baik mengenai realitas kami dan mendorong solusi yang adil. Saya merasa bahwa media arus utama, entah dari Palestina ataupun Israel, tidak memberikan peluang bagi anak-anak muda Israel atau Palestina untuk mengungkapkan perasaan mereka atau ikut berandil dalam proses perubahan. Kendati sulit memutuskan, saya pun akhirnya memutuskan bahwa blog ini akan terbuka bagi siapa saja, terlepas siapa mereka dan apa latar belakang politik mereka.

Kala itu saya sangat merasakan adanya kebutuhan untuk mengomunikasikan perjuangan Palestina kepada orang-orang Israel dan seluruh dunia sehingga mereka bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai realitas orang Palestina. kepada saat yang sama, saya juga ingin memberikan kesempatan kepada orang-orang Israel untuk menggunakan situs ini, terlepas dari apa pandangan mereka, karena yakin bahwa orang Palestina butuh mendengar dari anak-anak muda “biasa” Israel, dan bukan saja para analis media atau politisi.

MEP melewati masa-masa yang sangat menantang. Selama perang di Gaza kepada 2008, misalnya, diskusi di MEP antara orang Israel, Palestina dan komunitas internasional sangat panas.

Seorang komentator menulis dengan rasa marah tentang para korban sipil di Gaza, sementara ada komentator lain yang bicara tentang orang-orang Israel di Sderot yang menjadi sasaran serangan roket. Sebagian komentar di tulisan-tulisan yang ada cukuplah kasar, tetapi yang paling penting bagi saya adalah fakta bahwa komunikasi terjalin antara orang Israel dan Palestina kepada saat media arus utama tidak memberikan kesempatan orang dari pihak lain untuk bersuara.

Tulisan-tulisan saya di MEP membantu saya membangun banyak relasi penting. Melaluinya saya mengembangkan sebuah jejaring penulis dan teman dari seluruh dunia. MEP juga menjadi rujukan opini dan berita bagi orang-orang yang tertarik membaca beragam perspektif berbeda tentang konflik Israel-Palestina dan peristiwa-peristiwa lain di kawasan.

Di luar dunia maya, saya juga menggunakan media sosial untuk menumbuhkan partisipasi dalam peristiwa-peristiwa di dunia nyata. Tahun lalu saya terpilih sebagai presiden Watan Student Movement yang bergerak untuk menciptakan persatuan di kalangan pelajar Palestina di Hebrew University di Yerusalem, dan mendorong mereka untuk menjauhi ekstremisme politik. Dengan menggunakan media sosial, kami berhasil mengumpulkan lebih dari 1.200 pelajar Arab di sebuah konferensi yang menyerukan persatuan lebih luas dalam masyarakat kami yang terfragmentasi secara sosial dan politik.

Saya percaya bahwa menulis dan berbicara bisa membawa perubahan nyata terhadap kondisi politik dan sosial masyarakat Palestina. Terkadang itu tampak sulit atau bahkan sia-sia, tetapi kami belajar dari sejarah bahwa hanya dengan tekad bulat dan kesungguhanlah kami bisa berhasil mewujudkan perubahan.

Para pemimpin kami boleh jadi sejauh ini gagal mencapai solusi, dan mungkin kami akan demikian juga, tetapi saya merasa bahwa setiap kata yang kami tulis adalah sebuah langkah menuju terwujudnya kebebasan bagi diri kami dan perdamaian dengan tetangga kami.

###

* Ziad Khalil Abu Zayyad ialah pendiri Middle East Post dan Presiden Watan Student Movement.  Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews). Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews).