HMINEWS – Pengamat politik Universitas Indonesia Iberamsjah mengatakan pidato ketua Dewan Pembina Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampak tidak sportif.  SBY sama sekali tidak menjawab persoalan besar yang dihadapi Demokrat, yakni masalah Nazarudin dan korupsi yang menggurita di tubuh Demokrat.

“SBY selalu punya karakter demikian. Selalu mempersalahkan pihak lain dan media massa, padahal masalah korupsi terang-benderang terjadi di internal Demokrat,” terangnya saat dihubungi di Jakarta, Senin

Menurutnya, pidato SBY tersebut tidak menunjukkan sikap seorang negarawan. Ia malah lebih menonjolkan sikap kekanak-kanakan dan kerdil. Menurutnya, pidato tersebut sama sekali tidak memperlihatkan kepercayaan diri seorang nomor satu di negeri ini.

“Jika SBY seorang negarawan, dia harus bisa mengungkap jawaban atas persoalan Nazaruddin. Tapi ternyata tidak sama sekali,” tegasnya.

Seharusnya, jelas Iberamsjah, dalam pidatonya SBY berani minta maaf kepada publik bahwa Demokrat, sebagai partai pemenang, telah meresahkan masyarakat.

Demokrat tidak memberikan contoh yang baik terhadap anak bangsa. Meminta maaf dan mengakui kesalahan adalah ciri seorang negarawan.

“Bukannya melempar kesalahan. Itu ciri orang yang munafik,” terangnya.

Selain itu, menurutnya, SBY dalam pidatonya sebaiknya meminta dengan tegas semua kadernya untuk introspeksi diri, merapatkan barisan dan kemudian melakukan konsolidasi untuk membenahi partai ke arah yang lebih baik.

Sebagai partai pemenang, SBY harus dengan tegas mengatakan pada kader bahwa semua kader Demokrat harus minta maaf karena telah meresahkan publik.

“Tapi memang tanda-tanda partai yang hancur seperti ini, pemimpinnya merasa diri kerdil, tidak mampu minta maaf dan melempar kesalahan pada orang lain dan media massa. Demokrat tidak punya kader, karena itu pantas kalau memang partai ini hancur,” tandasnya.[]ian/MI