Muslim Inggris haus akan peluang untuk menulis dan dipublikasikan. Tapi apakah Muslim butuh diajari untuk melakukan itu? Adakah sesuatu yang membuat para penulis Muslim berhenti menyuarakan pendapat dan berbagi pengalaman mereka? Menurut James Caan, seorang pengusaha penerbitan yang terkenal karena penampilannya di acara televisi Inggris Dragon’s Den, Muslim perlu didengar “untuk alasan yang tepat.” Ketika sebagian besar liputan media tentang Muslim Inggris terpusat kepada berita-berita terkait terorisme, bisa jadi cukup sulit untuk mengembangkan bakat di tengah berbagai tantangan lain yang dihadapi setiap penulis untuk bisa dilihat, dan khususnya untuk mengubah narasi publik pada umumnya.

“Ini adalah sebuah tantangan yang dihadapi para penulis dari etnis minoritas sepanjang sejarah, dan yang tengah dikikis. Kami ingin melakukan yang sama dengan para penulis Muslim,” kata Irfan Akram, Direktur Muslim Writers Awards (MWA). “Muslim ingin mengekspresikan diri dan kreativitas mereka. Dan mereka punya bakat alami untuk melakukan itu.”

MWA tengah mencoba membantu – dengan menembus kebisingan dan menemukan bakat alami. Kini dalam tahun kelimanya, MWA secara luas diakui oleh para penulis dan pekerja dunia penerbitan sebagai ajang paling dikenal, menarik dan kredibel bagi para penulis Muslim dari segala usia. Akram menyatakan bahwa cukuplah penting untuk memastikan bahwa Muslim bisa mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri dalam bahasa mereka sendiri dan merasa menjadi bagian dari ruang publik.

Menurut Akram, tujuan MWA “adalah menumbuhkan bakat itu, membuatnya menjadi perhatian dunia luas dan kemudian merayakannya. Kami ingin memberi para penulis Muslim kepercayaan diri dengan kemampuan mereka, dan menawarkan sebuah panggung untuk mengomunikasikan pengalaman dan kreativitas mereka melalui kekuatan pena.” Visi ini dijelmakan dalam semboyan penuh arti mereka: “Berbagi cerita, berkumpul bersama. Inilah saatnya, Menulis Sekarang!”

Setiap tahun program MWA berkembang, dan peserta yang masuk tahun ini – sampai 31 Juli nanti – akan dikelompokkan dalam delapan kategori: novel (yang belum ataupun sudah terpublikasi), cerpen, puisi, cerita anak, naskah drama, blog dan tulisan jurnalistik. Karya peraih anugerah ini akan disertakan dalam sebuah antologi dan kutipan dari peserta unggulan akan ditampilkan di situs MWA. Para pemenang juga akan ditempatkan dalam program-program penulisan dan dimitrakan dengan para editor dan penulis yang lebih berpengalaman yang akan memberi mereka pelatihan selama setahun.

Tahun lalu sebuah program baru diperkenalkan: Young Muslim Writers Awards. Tujuannya adalah untuk secara khusus mengangkat para penulis di bawah 16 tahun. Program ini terlihat efektif: pemenang tahun lalu dari kelompok usia 14 hingga 16, Mina Bint Muhammad, baru saja menerbitkan novel pertamanya, See Red, (Urbantopia Books, 2011) tentang seorang gadis Muslimah yang dikeluarkan dari sekolah diniyahnya dan berjuang untuk menyesuaikan diri dengan para gadis di sekolah barunya di Newham.

MWA bermitra dengan Penguin, salah satu penerbit paling digemari di dunia, dan Puffin Books, yang fokus pada penerbitan anak-anak.

Muslim Inggris telah cukup gugup dengan dunia penerbitan. Menjadi seorang penulis dianggap oleh masyarakat pada umumnya sebagai karir yang berisiko. Ini, ditambah lagi dengan tantangan menghadapi potret negatif Muslim di media, membuat kita langsung bisa mengerti mengapa mereka sejauh ini telah enggan untuk mengangkat karya-karya mereka sendiri. MWA menghilangkan rintangan-rintangan itu dan memulai membangun sikap pengertian.

MWA juga melejitkan para penulis baru melalui lokakarya menulis kreatif, seminar dan forum diskusi yang dihadiri oleh ribuan penulis dari seantero Inggris setiap tahunnya. Yang menjadi tempat pelatihan-pelatihan ini termasuk sekolah dan perpustakaan terkecil setempat, hingga London Book Fair, pameran buku terkenal dalam kalender penerbitan global.

MWA sudah mendapat sambutan cukup baik. Gordon Brown, mantan Perdana Menteri Inggris, memuji MWA karena bertujuan “meningkatkan saling pengertian dari orang-orang Inggris” dengan mendorong talenta menulis Muslim Inggris. BookTrust, lembaga amal Inggris yang mendorong orang dari semua umur dan budaya untuk menikmati buku, memuji MWA karena “menyuguhkan potret yang positif dan kuat tentang komunitas Muslim, dan mendorong kebanggaan pada sastra dan pengarang Muslim.”

Komunikasi bisa benar-benar dimulai ketika sebuah komunitas bicara untuk dirinya sendiri, dan bangga dengan talentanya dan ekspresinya di tengah masyarakat luas.

###

* Shelina Zahra Janmohamed ialah pengarang Love in a Headscarf dan menulis sebuah blog di www.spirit21.co.uk. Untuk informasi lebih lanjut tentang Muslim Writers Awards, silakan kunjungi: muslimwritersawards.org.uk. Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Juli 2011