HMINEWS, Pekanbaru – Dua bakal calon dengan suara terbanyak, Alto Makmuralto dan Anthomi Kusaeri ditetapkan sebagai calon formatur. Keduanya, yang unggul atas beberapa calon lain seperti Puji Hartoyo Abubakar, M Ridwan, Agus Thohir, Achmad Ilyas, Akhlis, M Yusuf, Umam da Abdul Ghafar.

Keduanya diverifikasi dengan berbagai persyaratan yang telah disepakati, di antaranya masa keanggotaan di HMI, loyalitas, moralitas, kefasihan membaca Alqur’an, pengecekan curriculum vitae serta pemaparan visi misi.

Alto, kelahiran Palopo 1982, Universitas Negeri Makassar. Mantan Ketua Umum HMI Cabang Makassar 2004-2005, staf komisi Hukum dan HAM PB HMI 2005-2007, wasekjen masa kepemimpinan Syahrul Effendi Dasopang (2007-2009). Penulis dua buku “Dalam diam kita tertindas,” dan “Dua jempol untuknya,”.

Kreatif epistemik, pengelolaan organisasi bertumpu pada pengembangan sumber daya manusia, seperti gambaran creative minority. Gerakan sosial posmodernis atau kini menjadi fenomena gerakan sosial baru (new social movement), bukan aksi lapangan dan retorika an sich, tapi aksi kecerdasan.

Anthomi, Jakarta 1978, lulusan Universitas Borobudur dan Pascasarjana Universitas Krisnadwipayana, bersentuhan dengan HMI MPO sewaktu aktif di HIMASI (Himpunan Mahasiswa Bekasi), masuk HMI MPO dengan mengikuti LK1, Maret 2001. Mantan ketua Umum HMI Cabang Jakarta, Badko Inbagbar 2003-2005, Ketua Komisi Hukum dan HAM PB HMI 2005-2007.

Adapun misi Anthomi Kusaeri adalah HMI Berbasis Kebangsaan. Yaitu upaya menguatkan perkaderan HMI di wilayah-wilayah perbatasan untuk memperkuat hal tersebut. Mengembalikan cabang-cabang sebagai episentrum gerakan mahasiswa dengan basis Khittah Perjuangan HMI.

Dua kandidat tersebut bersaing ketat dalam perolehan suara dari 96 suara utusan cabang.