HMINEWS – Indonesia hari ini terus terjerembak dengan persoalan pelik, perbaikanpun tak jua datang bagaikan kemarau panjang. Sedangkan permasalahan menjadi semakin kompleks. Kemiskinan, pengaguran, mahalnya biaya pendidikan, kesehatan serta persoalan penegakan hukm dan pemberantasan korupsi makin mengila dan kita mau tidak mau hari ini berada dalam pusaran tersbut.

Dari peliknya persmasalahan tersbut menjadi tantangan yang kemudian harus di jawab oleh bangsa ini. Dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) sebagai organisasi kader dan perjuangan, yang memiliki tujuan “Terbinanya Mahasiswa islam menjadi insan Ulil Albab yang turut bertangungjwab mewujudkan  tatan masyarakat yang diridhoi Allah SWT”, harusnya tanggap akan persoalan bangsa ini.

HMI dituntut berada digarda terdepan dalam rangka menyelesaikan persoalan bangsa. Akan tetapi permasalahnya, sudahkah HMI sadar akan realita yang dihadapi bangsanya. Ataukah HMI justru limbung dengan permasalahan yang begitu menumpuk.

Oleh karenanya dengan momentum Kongres HMI-MPO ke XVIII di Pekan Baru, Riau. Sepatutnya dan seharusnya ada pembahasan tersendiri tentang kompleksitas persoalan bangsa Indonesia. Harus ada grand desain untuk mewujudkan tata masyarakat Indonesia yang diridoi Allah. Dan Indonesia diridhoi Allah pastilah sama dengan, Indonesia bebas kemiskinan, bebas pengaguran, bebas anak putus sekolah dan bebas korupsi. Lantas langkah seperti apa harus diambil oleh HMI untuk merealisasikan misinya tersebut.

Pengurus Besar (PB) HMI selaku lembaga tertingi dalam tubuh HMI tentu dituntut untuk bisa merumuskanan arah perjuangan HMI mendatang. PB HMI juga dituntut untuk bisa mentransformasi tugas-tugas perjuangan ke tingkatan Cabang di seluruh Indonesia. Sedangkan hal-hal yang diperjuangkan tentu harus sama dan serempak dimainkan di seluruh cabang se-Indonesia. Dan PB HMI harus menjadi Dirijen yang baik dalam memimpin orkestra perjuangan. Begitupula dengan cabang-cabang HMI harus mampu menterjemahkan tugas dari PB HMI.

Tidak seperti saat ini, cabang-cabang HMI berjalan tidak seirama dengan PB HMI. Meskipun harus disadari pula bahwa cabang-cabang HMI memiliki otonomi kuat. Dan daerah tempat cabang-cabang HMI berdiri memiliki persoalan yang tak sama antara cabang satu dengan cabang lainya.

Namun sejatinya meskipun konteks permasalahan di daerah tempat cabang HMI berdiri berbeda, contoh misalnya di Bekasi persoalan yang mengemuka di dearah itu yakni korupsi sedangkan di daerah lain permasalah dihadapi daerah tersebut teletak pada minimnya akses pendidikan. Toh pada dasarnya hampir semua persoalan bangsa ini menyebar di seluruh nusantara di tiap kota dan kabupaten tempat cabang HMI berdiri. Dan masyarakat daerahlah yang tentunya merasakan dampak langsung dari banyaknya permasalahan bangsa Indonesia.

Oleh karenanya selain adanya sinergitas gerakan antara PB HMI dan cabang-cabang HMI. Kedepan cabang-cabang HMI harus lebih progresif turut serta menyelesaikan permasalahan bangsa. Dan gerakan-gerakan HMI dalam bentuk aksi, baik itu demonstrasi maupun advokasi. Harus lebih di giatkan di cabang-cabang. Bukan lagi di Ibu Kota Negara sebagai pusat kekuasan. Karena Ibu Kota Negara saat ini hanya simbol persoalan, sedangkan persoalan sesunguhnya terjadi di tingkat daerah dan masyarakat disanalah paling merasakan dampaknya. Jika perjuangan itu bisa dijalankah secara masiv bukan tidak mungkin cita-cita HMI bisa mawujud secara nyata.

Untuk itu HMI membutuhkan pimpinan yang tanguh dengan karakteristik Insan Ulil Albab, ia adalah kader HMI dengan kemampuan menafsir asas, tujuan dan independensi HMI dan menjadikan Khitoh Perjuangan sebagai paradigma perjuangan HMI.

*Ivan Faizal Affandi (Ketua Umum HMI Cabang Bekasi Periode 2011-2012)