Oleh: Asma T. Uddin*

Washington, DC – Kita semua memiliki perjuangan penting yang secara alamiah. Perjuangan saya selalu saja dua segi: kesetaraan perempuan dan Islam. Beberapa tahun yang lalu saya meluncurkan Altmuslimah.com, sebuah situs yang ditujukan untuk menciptakan sebuah forum bagi diskusi terbuka dan jujur tentang isu-isu jender dalam Islam dari semua perspektif, Muslim dan non-Muslim, perempuan dan laki-laki. Visi saya dengan Altmuslimah adalah untuk menumbuhkan lingkungan yang kondusif bagi eksplorasi masalah-masalah yang nyata dan mendesak dalam komunitas Muslim melalui perpaduan kisah pribadi, debat dan analisis.

Karena itu, kesempatan untuk berbagi pengalaman dan petualangan pribadi dengan para Muslimah Amerika dalam I Speak for Myself, sebuah buku kumpulan 40 esai oleh para Muslimah Amerika di bawah usia 40 tahun, yang disunting oleh Maria Ebrahimji dan Zahra Suratwalaand, yang diterbitkan oleh White Cloud Press, tidak saja penting dan menarik tetapi juga sepenuhnya alamiah bagi saya.

Kerap kali suara Muslimah dipandang remeh, diabaikan atau tidak dihargai, tetapi I Speak for Myself menawarkan sebuah gambaran langka dan jujur tentang kehidupan para Muslimah Amerika, yang mencoba mengarahkan berbagai segi yang sering kali tampak berseberangan dari dunia dan identitas kami. Para pengacara, seniman, guru, insinyur, pelajar – para perempuan yang ditampilkan dalam buku ini membincangkan kenyataan menjadi Muslimah di Amerika.

Kami bicara tentang agama, anak-anak, suami dan karir kami, dan akhirnya cerita kami merefleksikan kekayaan dan keragaman Islam di Amerika.

Rashida Tlaib, misalnya, menulis tentang bagaimana ia sadar kalau sebagai perwakilan di dewan legislasi negara bagian Michigan, ia akan bisa berbuat baik bagi komunitasnya. Ia menghabiskan tiga bulan mengadakan kampanye pemilu yang agresif dari pintu ke pintu dan upayanya terbayar sudah. Meski ia satu-satunya orang Arab dan Muslim yang menjadi kandidat di sebuah distrik yang sangat majemuk, yang terdiri atas orang Hispanik, kulit pulih dan Afrika-Amerika, ia memenangi pemilihan dengan raihan fantastis 44 persen suara, dan pada 2008, Rashida menjadi Muslimah pertama di dewan legislasi negara bagian Michigan.

Dalam kisah yang lain, Maryam Habib Khan, seorang insinyur Muslimah Amerika di Korps Insinyur Tentara AS, menulis tentang penugasannya ke Afghanistan pada 2004 dan 2006. Ia mengerjakan berbagai program penting, seperti renovasi sebuah rumah sakit perempuan di Kabul, yang secara signifikan menyelamatkan nyawa para perempuan dan anak-anak Afghanistan setiap hari, dan Maryam pulang dengan rasa puas dan rasa pencapaian dan pemenuhan yang mendalam. Ia tidak mengorbankan martabatnya selaku perempuan Muslim ataupun selaku orang Amerika di Afghanistan, tetapi menjadi contoh penyatuan dan pemanfaatan berbagai elemen berbeda dari identitasnya sebagai seorang perempuan, insinyur, Muslim dan Amerika untuk membantu mendidik rekan-rekannya dan memperbaiki kehidupan rakyat Afganistan yang membutuhkannya.

Cerita saya sendiri berpusat pada evolusi spiritual di tengah politik intra-komunitas. Dalam tulisan saya yang berjudul, “Conquering Veils: Gender and Islams” (Menaklukkan Jilbab: Jender dan Islam), saya bicara tentang perjumpaan saya dengan literatur misoginis yang bermaksud menggariskan Muslimah yang “ideal”. Saya juga membicarakan kemunafikan komunitas saya mengenai isu jilbab, simbolisme religi, dan menghakimi moralitas orang lain berdasarkan simbol-simbol dangkal. Lebih penting lagi, kisah saya menggarisbawahi proses saya dalam mencari jalan keluar dari kesakitan spiritual akibat pengalaman tersebut, dan akhirnya menjadikan hubungan saya dengan Tuhan lebih otentik dari yang saya alami sebelumnya.

I Speak for Myself adalah tentang memahami dan menerima kompleksitas dan keberagaman dari Islam di dunia nyata. Ia menawarkan pandangan yang sangat pribadi dan manusiawi tentang makna sesungguhnya menjadi Muslim di Amerika. Saya bangga telah memberikan sumbangan kepada buku I Speak for Myself ini karena ia merupakan bagian dari gerakan penting untuk mempromosikan dialog dalam dan antar agama yang sedang terjadi di negara ini dan di seluruh dunia. Ini adalah langkah maju menuju pemahaman dan toleransi lintas-budaya, yang akan memberikan manfaat bagi Muslims dan non-Muslim.

###

* Asma T. Uddin ialah Pemimpin Redaksi AltMuslimah.com. Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews),