HMINEWS – Tudingan Ramadhan Pohan terhadap Mr.A ternyata hanya isapan jempol. Dan itu patut disesalkan. Sampai saat ini dia tdk bisa menjelaskan siapa Mr.A yg dia maksudkan telah mengobok-obok partainya.

Kalau SBY menuduh pembuat SMS yg menyudutkan dirinya berperilaku pengecut krn hanya berani bermain fitnah dari tempat yg gelap, apa bedanya dengan perilaku kadernya yg menuding dan memfitnah orang berisial ‘A’  tanpa bukti dan fakta.

Ramadhan telah mempertontonkan cara2 berpolitik yang buruk. Seperti maling, teriak maling. Dan itu tentu saja akan berdampak tdk baik bagi citra partai dan citra SBY. Lebih buruk lagi, publik akan menilai, SBY sebagai Dewan Pembina ternyata sdh tdk didengar dan dipatuhi kadernya. Padahal masih 3 tahun SBY lengser.

Partai Demokrat harus tegas terhadap kader yg melempar isu dan menuding ada tokoh berinisial ‘A’ tanpa fakta. Kalau dia punya fakta, kenapa tdk langsung saja tunjuk hidung dan laporkan ke pihak berwajib. Bukannya berkelit dan berkilah.

Itu namanya pengalihan isu dan mencoba menciptakan kambing hitam dan menebar fitnah terhadap politisi yg kebetulan berinisial ‘A’. Kita memahami mereka lagi panik. Tapi kalau sdh menuding2, itu sdh tdk sehat. Bahkan ada kader PD menyebut tokoh itu bermodal besar. Apa urusannya? Jujur saja, kita sebenarnya malas berkomentar.

Sebab, kalau kita ngeladeni orang panik, sama bodohnya. Politisi yg memiliki inisial ‘A’ kan banyak. Biar saja mereka yg mensomasi krn merasa terganggu dan terfitnah. Bagi publik masalah yg mereka hadapi adalah urusan internal mereka, ribut antar mereka sendiri. Paling2 kita hanya bisa berdoa semoga mereka segera menyelesaian internal problemnya. Sebagai org luar kita tentu tdk tahu masalah2 seperti yg ada dlm sms tsb. Yg paling tahu adalah orang dalam sendiri. Kita tdk tahu soal dana Rp47 triliun. Kita tdk tahu soal Daniel Sparingga, kita jg tdk tahu soal kecurangan 80jt suara pemilu legislatif dan pemilu presiden.

Itu kan semua muncul karena saling ancam dan saling buka diantara mereka sendiri. Yg terbaik adalah, kita sebaiknya menjadi penonton yg baik saja. Waktu akan membuktikan, siapa yg bersalah dan siapa yg bersandiwara diantara mereka.

Bambang Soesatyo, Politisi Partai Golkar