Oleh: Syahrul Efendi D

Kalau mungkin digelar survey tentang negeri mana yang paling berpengalaman soal menjinakkan politik Islam, maka hasilnya antara lain, Indonesia.

Indonesia, sejak masa penjajahan hingga dewasa ini tidak pernah rampung bertarung dengan politik Islam. Demikian pula, politik Islam tidak pernah surut dan istirahat menggelar pertarungan dengan pemilik kekuasaan aktual di negeri ini. Untuk sementara, dewasa ini dapat dikatakan, pemilik puncak kekuasaan masih digenggam pihak yang anti politik Islam, tetapi akibat sistem demokrasi terbuka dan liberal, beberapa lini dan sektor, politik Islam memiliki sekian saham. Jika hal ini tidak diantisipasi, politik Islam akan merengsek ke puncak kekuasaan dan siap menurunkan pemegang kekuasaan dari tahta tradisional mereka. Implikasinya berbagai pihak yang berkepentingan akan terganggu dan peta politik bisa berubah.

Untuk itulah, sebisa mungkin potensi yang bisa menjadi nyata tersebut, sekuat mungkin harus dihalangi dengan berbagai cara apa pun. Jadi, ini soal hidup dan mati akan sebuah eksistensi politik.

Sampai saat tulisan ini dibuat, politik Islam untuk sementara masih bisa dikendalikan oleh para pemegang kunci kekuasaan politik di Indonesia. Kalaupun ada muncul eksistensi politik Islam, itu tidak terlalu bahaya. Tetapi membiarkannya dan mendiamkannya, itu juga tidak menguntungkan. Oleh karena itu, sebisa mungkin horor harus selalu dilekatkan kepada politik Islam agar warga sebagai pemilik syah negeri ini, tidak kepincut kepada setiap tawaran dan uluran tangan politik Islam di dalam rangka membebaskan mereka dari penipuan dan pemerasan oleh otoritas yang berkuasa penuh di negeri ini.

Demikianlah kita mengamati bahwa hampir setiap zaman dan era, ada saja isu horor yang dilekatkan kepada politik Islam. Kalau dulu di zaman Orla, ada DI/TII, di Orba, ada Komji dan NII, sekarang ada terorisme dan NII lagi.

Untuk mengatasi manipulasi jahat dari pihak berkuasa yang pengecut ini, aktivis politik Islam haruslah berbenah diri dan mencari cara yang cerdas. Intinya adalah bagaimana memikat hati rakyat dengan program yang riil. Percayalah bahwa pihak yang berkuasa tiada punya kreativitas untuk memikat hati rakyat. Kreativitas mereka hanya bagaimana mempertahankan kekuasaan dan memanipulasi kesadaran rakyat.

Jadi apabila isu terorisme terus mengotori rubrik-rubrik media Indonesia, itulah cara mereka menghancurkan politik Islam, meskipun itu pada akhirnya sia-sia.

Isu terorisme laksana isu narkoba. Keduanya akan terus dipelihara. Selain sebagai pekerjaan yang menjadi sumber pemasukan keuangan kepada mereka, juga sebagai alat untuk menghancurka kredibilitas politik Islam. Walhasil ini memang tantangan yang harus diatasi dengan cerdas, kongkret dan membalikkan opini.

Bagaimana jawabannya, tergantung para aktivis politik Islam sendiri.

*Mantan Ketua Umum PB HMI