HMINEWS – Kuasa Hukum Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, Makdir Ismail mengatakan, ada beberapa rekayasa dalam kasus persidangan mantan Ketua KPK tersebut.

“Ada permintaan Antasari yang diajukan majelis hakim, terkait keterangan ahli soal SMS kenapa tidak didalami. Ketika itu majelis hakim menganggap tidak perlu,” ujarnya, di Lembaga Permasyaratan (Lapas) Kelas I Tangerang, Kamis (16/6/2011).

Ditambahkan Makdir, saat itu Antasari minta dicocokkan antara handphone genggam miliknya dengan Direktur Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnain.

Rekayasa lainnya adalah panjang peluru yang digunakan untuk menembak Nasrudin. Berdasarkan keterangan ahli, anak peluru revolver yang ditunjukkan sebagai barang bukti tidak sampai 9 milimeter (mm). Tapi jaksa dan hakim saat itu ngotot peluru itu 9 mm.

“Periksaan terhadap Rani Juliani juga dilakukan secara tertutup. Di situ Antasari berpendapat ada keterangan yang disembunyikan untuk umum dan permintaan seperti itu tidak pernah disampaikan kepada Antasari,” tambahnya.

Dijelaskan Makdir, banyak fakta-fakta yang dikemukakan Antasari tidak dipertimbangkan oleh Majelis Hakim. Sedang fakta yang tidak dipertimbangkan Antasari justru dikemukakan oleh jaksa dan hakim.

Rekayasa sidang Antasari semakin ketara saat Hendri memberikan keterangan sebagai saksi dipersidangan. Padahal dalam surat dakwaan jaksa yang disampaikan dimuka hakim, Hendri tidak pernah dimintai keterangan sebagai saksi.

“Di situ kami jadi semakin yakin ada rekayasa dalam putusan Majelis Hakim. Terlebih saat pembacaan dakwaan, Majelis Hakim dikumpulkan,” terangnya.

Makdir berharap, temuan-temuan Komisi Yudisial (KY) menjadi upaya untuk membuka takbir kebenaran materiil dalam perkara yang dihadapi Antasari. Sebagai bentuk keadilan terhadap keluarga Antasari dan Nazaruddin. Padahal, dalam perkara pidana, kebenaran yang dicari adalah fakta materi.

“Secara faktual baju korban juga tidak pernah dijadikan bukti dalam persidangan,” jelasnya.

Makdir berkesimpulan, motif adanya pembunuhan adalah rekayasa. Dimulai dari SMS ancaman pembunuhan kepada Nazaruddin. Kemudian ini dihubungkan dengan keterangan Sigit, bahwa ada pertemuan antara Sigit, Wiliardi dan Antasari. Padahal menurut Wiliardi, dalam pertemuan itu tidak ada pembicaraan apa-apa.

“Pemeriksaan secara forensik terhadap mobil korban juga tidak pernah dilakukan. Padahal jika dilakukan pemeriksaan akan diketahui sidik jari siapa saja yang ada di mobil itu,” ungkapnya.[]ian/OZ