Inalilahi Wa Inalilahi Rojiun.. sedalam-dalamnya kami panjatkan dukacita atas meninggalnya Tenaga Kerja Wanita asal Bekasi,  Ruyati binti Satubino (54), akibat dihukum mati pancung oleh pengadilan Arab Saudi beberapa hari lalu (18/06). Bersama pernyataan ini, kami sangat berharap agar keluarga almarhumah diberikan kelapangan dada dan ketabahan yang tegar atas tragedi kemanusiaan yang menimpa salah satu anggota mereka tersebut.

Sungguh miris dan memalukan bagi kami, terutama di mata dunia, tragedi ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden RI memberikan pidatonya yang “berbunga-bunga” tentang buruh migran di Forum ILO di Jenewa (14/06). Karena selain semakin menguak kebiasaan buruk Yudhoyono yang gemar berbohong di dalam dan luar negeri, bagi kami mencuatnya kasus Ruyati dan menunggaknya kasus-kasus semacam itu lainnya dengan pembiaran oleh pemerintah Indonesia semakin membuktikan, bahwa sejatinya sebuah pelanggaran berat telah kerap dilakukan oleh pemerintah terhadap dasar negara Pancasila dan amanat preambule UUD 1945.

Yudhoyono telah gagal menegakkan “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan “melindungi segenap tumpah darahnya”, terutama bagi mereka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Timur Tengah dan Malaysia. Di mana upah yang kerap tidak dibayar, penyekapan, kerja overtime, tiadanya liburan, penganiyayaan oleh majikan, hingga hukuman pancung oleh institusi yang berwenang, adalah harga derita yang harus dibayar “pahlawan devisa” kita.

Wajar saja jika banyak desakan kepada pemerintah untuk menghentikan (moratoriumkan) pengiriman tenaga kerja pembantu rumah tangga ke luar negeri sampai ada kepastian negara-negara tujuan pengiriman tersebut telah meratifikasi Konvensi ILO No 189 yang mengakui pekerja rumah tangga sebagai tenaga kerja yang memiliki hak-hak sama dengan pekerja umumnya. Memang, daripada mengirimkan mereka ke luar negeri untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga, lebih baik mereka bekerja di dalam negeri,  semisal di perkebunan. Untuk itu pemerintah juga segera membuka lapangan kerja massal di sektor perkebunan (semisal perkebunan Sawit seperti konsep DR. Rizal Ramli yang disampaikan di Metro TV 19 Juni 2011) untuk menyerap pengangguran di Indonesia yang bertambah akibat dimoratoriumkannya pengiriman TKI.

Namun perlu kami sampaikan juga di sini, bersama outsourcing dan sistem kontrak (labour flexiblity), neoliberalisme yang juga menjadi ruh daripada jual beli tenaga buruh migran adalah juga sebuah fundamentalisme yang menjadi musuh daripada Pancasila. Yudhoyono adalah seorang neoliberal yang selalu berbohong akan jati dirinya, maka kami sangat pesimis Ia akan melaksanakan pembukaan lapangan kerja massal. Salah satu contoh saja, pada bulan Mei 2011, seperti dilansir Kompas beberapa hari lalu, dua buah industri perikanan di Sulawesi Selatan dan Malang telah ambruk- menyisakan PHK massal puluhan ribu orang. Deindustrialisasi dan privatisasi (perusahaan negara yang strategis) terus terjadi, sementara pemerintah hanya menjadi tukang citra di media massa tanpa pernah sungguh-sungguh bekerja. Di sisi lain, perbankan dan pertambangan nasional menjadi santapan modal asing, dan 136,2 juta manusia Indonesia harus hidup berpenghasilan di bawah Rp 17.000,- perhari (Kompas, 4 Januari 2011). Sementara itu, di dalam gedung-gedung mewah yang berair conditioner, para tikus koruptor berbaju politisi berpesta dalam mabuk menikmati uang rakyat tanpa tersentuh hukum karena penegak hukumnya juga korup. Di jalanan, satpol PP terus saja menjaring anak jalanan, pengamen, dan pekerja seks komersial. Kesehatan dan pendidikan dikomoditisasi, menjadikan rakyat miskin terlelap dalam kebodohannya di kampung-kampung yang kumuh- sibuk menonton sinetron dan tayangan-tayangan infotainment yang memabukkan di televisi-televisi. Kalaupun ada industri yang berkembang, itu adalah perakitan motor Jepang yang bisa dikredit murah-murah sehingga akhirnya jutaan motor memenuhi jalanan macet kota-kota dengan polusi dan pemborosan BBM yang tiada terkira. Setelah itu subsidi BBM akan dicabut pula oleh negara, dan para pengguna kendaraan motor sungguh merupakan pangsa yang lezat bagi pom-pom bensin asing. Kemudian untuk selama-lamanya negeri kita yang “katanya” kaya raya itu pun hanya akan tinggal sebagai nyanyian peneman tidur bagi anak cucu kita. Indonesia pun akan masuk ke dalam zaman kegelapan.

Zaman kegelapan adalah sebuah masa di mana kejujuran mahal sekali harganya, yang dipimpin terpaksa menteladani pemimpin bangsanya yang gemar omong kosong dan manipulasi, menjadikan kesejahteraan dan keadilan hanyalah mimpi-mimpi kosong bagi rakyat. Sementara kebenaran dan kejujuran telah tenggelam bersama dengan merosotnya moralitas bangsa. Pemimpin negara gemar menghindari dan menimbun masalah, menjadikan negeri ini penuh masalah yang tiada terselesaikan (seperti contohnya Skandal Century, Mafia Pajak, Nazaruddin, dll), sehingga seakan tidak benar-benar ada pemimpin di negeri ini. Negeri yang kami cintai ini seperti tubuh tanpa kepala saja layaknya. Kami kaum mahasiswa resah akan masa depan Indonesia. AYO RAKYAT BERSATU, TURUNKAN SBY-BOEDIONO, HENTIKAN NEOLIBERALISME!!!!

_____________________________________

Pengirim: Lamen Hendra Saputra