Hingar-bingar kongres HMI-MPO ke 28 semakin semarak, apalagi menjelang pelaksanaan agenda tersebut. Bahkan dalam jejaring sosial macam facebook Kongres HMI ramai diperbincangkan sebagai tranding topic, khsusnya di grup-grup facebook berlebel HMI. Tema perbincanganyapun beragam, mulai dari persoalan isu stategis hingga persoalan suksesi kandidat Ketua Umum HMI-MPO.

Namun begitu disayangkan, jelang kongres HMI-MPO tak terdengar sedikitpun kelompok atau kader HMI-MPO yang menyingung persoalan identitas HMI-MPO. Dan ketika kita berbicara identitas tersebut hal paling sederhana serta mudah dijangkau yakni terkait nama HMI-MPO sendiri. Dimana sampai hari ini masih menjadi polemik tersendiri.

HMI dengan lebel MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) di belakang nama HMI, sejatinya mengandung sebuah historis. Sedikitnya ada dua kisah tentang itu, positif dan negatif.

Kisah positif yaitu menyangkut persoalan konsistensi kader-kader HMI dalam memegang teguh asas organisasinya. Yakni bertahan dengan asas islamnya, meskipun terus mendapat tekanan dari Rezim Otoriter Orde Baru pada saat itu. Konsitensi tersebut yang akhirnya melahirkan MPO.

Sedangkan sisi negatifnya bahwa kita harus mengakui kenyataan bahwa ada perpecahan dalam tubuh HMI. Sehingga muncul dua HMI. Yakni HMI Dipo (HMI yang kantor Pbnya berada di Jalan Diponegoro) kelompok HMI inilah yang akhirnya tunduk terhadap penguasa Orba dengan mengubah asasnya menjadi Pancasila, meskipun sekarang sudah kembali menganut asas islam.

Perpacahan ini yang kemudian sampai saat ini tidak menjumpai titik temu,  meski beberapa kalangan menginginkan agar ada penyatuan HMI. Penyatuan HMI antara DIPO dan MPO sendiripun nampaknya akan sangat susah. Dan akibat susahnya penyatuan tersebut maka baik DIPO dan MPO sampai saat ini berjalan sendiri-sendiri.

Tidak adannya penyatuan sesunguhnya bukan menjadi soal, hanya saja masalah mendasar dihadapi hari ini oleh HMI-MPO yaitu masalah legalitas dimata hukum. Dimana diberbagai kesempatan HMI-MPO kerap bermasalah dengan hal tersebut. Tak hanya itu identitas juga perlu untuk menegaskan sejarah siapa pewaris syah dari Lafran Pane (pendiri HMI).

Melihat dari itu semua, mungkin pergantian nama cukup menarik jika coba dipejuangkan dalam kongres nanti. Dan nama yang tepat sebagai pengganti HMI-MPO yakni HMI 47, menurut hemat penulis. Hasil dari masukan beberapa alumni maupun kader.

Lantas mengapa mengunakan nama 47 ? pengunaan 47 di belakang kalimat HMI adalah sebuah penanda, bahwa kita adalah kelompok yang setia mengemban asaz organisasi. Bahwa kita adalah kelompok yang memang tidak pernah merubah asaz, dengan kata lain kita adalah pewaris dari para pendiri HMI.

Dengan nama baru tersebut mungkin bisa semakin memperkuat spirit juang para kader MPO, sama halnya kita ingin menarik ruh juang HMI di masa awal didirikan.

So akankah ide ini bisa diperjuangkan di kongres nanti dan relevankah nama HMI 47 kita gunakan sebagai identitas organisasi ?

Ivan Faizal Affandi (Ketua HMI-MPO Cabang Bekasi Periode 2011-2012)