HMINEWS – Tiga belas tahun reformasi, kini tiada arti. Reformasi telah dikangkangi oleh bandit-bandit pengkhianat cita-cita proklamasi. Mereka bekerja bukan untuk kepentingan bangsanya sendiri, melainkan untuk kepentingan tuan-tuannya di luar negeri. Demikian kesimpulan dari diskusi publik yang diselenggarakan oleh IMPARSIAL di Jakarta (31/5).

Keyakinan akan gagalnya reformasi tersebut disampaikan oleh salah satu pembicara M Chozin Amirullah dari PB HMI (MPO). Chozin yang banyak menyoroti mengenai reformasi lembaga-lembaga penegak hukum menyayangkan terjadinya kerusakan sistemik pada lembaga-lembaga tersebut.Menurut Chozin, lembaga-lembaga yang mustinya menegakkan hukum seperti Kepolisian, kejaksaan, Mahkamah Agung dan Pengadilan justru menjadi sarang para bandit yang memperdagangkan hukum. Khususnya terhadap lembaga Kepolisian Chozin memberikan sorotan khusus karena lembaga tersebut saat ini mendapat predikat sebagai lembaga paling korup berdasarkan survey Transparansi Internasional Indonesia (2008).

“Sistem yang ada di Kepolisian memang sudah busuk, mulai dari rekruitmen sampai dengan proses perpindahan jabatan-jabatannya penuh dengan sogok-menyogog. Untuk masuk menjadi anggota Polisi saja musti nyogok minimal 50 juta, belum lagi kalau sudah masuk. Jadi siapapun orangnya, kalau masuk kepolisian bisa dipastikan akan ikut busuk”, demikian Chozin.Para pembicara dengan background foto almarhum Munir

Pernyataan Chozin tersebut diperkuat oleh Sabarudin dari PB PMII. Menurutu Sabarudin, oknum Polisi hampir selalu terlibat dalam setiap transaksi-transaksi kasus hukum.  Lebih lanjut Sabar menyampaikan bahwa sistem yang ada saat ini tidak lebih dari sekedar melanjutkan dari apa yang sudah terjadi pada rezim Orde Baru. “Jadi sama saja”, ungkap Sabar.

Para pembicara dengan background foto almarhum Munir

Sementara itu ketua organisasi kemahasiswaan FMN Muh Hasan Harry Sandy Ame mengungkapkan bahwa reformasi saat ini tidak memberikan perubahan signifikan pada kondisi negeri. Kepentingan-kepentingan asing amsih terlalu dominan dalam memainkan politik dalam negeri. “Aparat dan para pejabat bukan bekerja untuk kepentingan bangsanya, melainkann untuk kepentingan tuannya di luar negeri sana”, ungkapnya.

Menimpali ketiga pembicara sebelumnya, Sekjend PMKRI Emanual kemudian menegaskna bahwa bukan saatnya lagi mahasiswa asik dalam diskusi-diskusi. “Kita musti turun ke jalan, lakukan gerakan, ubah sasaran-sasaran aksi bukan hanya terfokus ke Istana dan lekukan secara kontinyu”, kata Eman. Bagi Eman, kesesriusan gerakan dibuktikan dengan konsistensinya dalam melakukan aksi-aksi perlawanan tanpa terpengaruh oleh ritual-ritual aksi kaum gerakan. [] lara