Negara Prancis bukan lah negara yang hanya terkenal dengan mode, keju atau wine (anggur). Tapi negara ini juga memiliki sistem pendidikan dengan kualitas terbaik,  ijazah bertaraf internasional, dan merupakan jaringan dari sejumlah perguruan tinggi dan pusat penelitian terkemuka di dunia. Maka, studi di Prancis bisa jadi pilihan tepat karena memiliki sistem pendidikan ECTS atau European Credits Transfer System yang juga telah diakui dan dikenal di seluruh dunia.

“Untuk studi di Prancis, ada sejumlah prosedur yang harus dilalui. Namun, prosedur tersebut tidak sulit dilakukan jika Anda memiliki informasi sebanyak-banyaknya, telah menemukan bidang studi yang tepat, mengidentifikasi perguruan tinggi yang sesuai dengan keinginan, memilih universitas atau grande école, dan mendapatkan visa pelajar,” ungkap Veronique Mathelin, Manager CampusFrance Indonesia dalam acara “Sistem Pendidikan Tinggi di Prancis” di Bale Rumawat Padjadjaran, Kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Kamis (16/06) kemarin.

Acara yang diselenggarakan oleh Kantor Bagian Kerjasama Unpad bersama dengan Himpunan Mahasiswa Sastra Perancis (Himaper) juga dihadiri oleh Direktur Kerja Sama Unpad, Ramdan Panigoro, dr., PhD dan Direktur Pusat Kebudayaan Prancis – CCF Bandung Philippe Germain-Vigliano.

Dalam presentasinya, Veronique menjelaskan bahwa Prancis menginvestasikan setiap tahunnya untuk pendidikan dan penelitian, karena pendidikan disana mendapatkan prioritas utama dari anggaran negara. Maka studi di Prancis cukup terjangkau. Untuk Program Licence (S1) misalnya, biaya pendidikan sekitar 170 Euro, untuk Master (S2) 237 Euro, Doctoral (S3) sebesar 357 euro, dan untuk Engineering School sebesar 564 Euro.

“Namun tidak perlu khawatir, ada juga banyak beasiswa yang bisa diperoleh. Misalnya beasiswa pemerintah Prancis yang disebut BGF, ada juga beasiswa Eiffel, Erasmus Mundus dari Uni eropa, dan beasiswa dari Pemerintah Indonesia,” lengkapnya dihadapan puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas di Unpad. Veronique kemudian mengatakan, informasi selengkap-lengkapnya mengenai studi Prancis dapat dilihat di situs CampusFrance Indonesia www.indonesia.campusfrance.org

Lalu, bagaimana kehidupan perkuliahan atau bahkan kehidupan di negara yang terletak di Eropa Barat ini? Veronique kemudian menjelaskan bahwa Prancis memiliki lebih dari dua ratus ribu mahasiswa internasional, seribu diantaranya berasal dari Indonesia. Namun, menurutnya para mahasiswa internasional apapun kewarganegaraannya dapat memanfaatkan fasilitas dan keuntungan yang dimiliki mahasiswa Prancis. Serta akan mendapatkan persamaan hak dengan mereka.

“Selain itu, Prancis juga memiliki infrastruktur yang modern untuk bidang transportasi dan kesehatan. Anda juga akan memperoleh akses yang banyak dalam bidang olahraga, pariwisata atau budaya dengan harga untuk siswa yang sangat terjangkau,” jelasnya.

Berbagai pertanyaan kemudian muncul dari para peserta. Salah satu yang menjadi perhatian adalah adanya larangan mengenakan jilbab yang membuat resah para wanita muslim di Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Prancis.

Terkait hal ini, Direktur CCF Bandung Philippe Germain-Vigliano. Philippe mengatakan bahwa peraturan ini memang telah berlaku di Prancis sejak bulan April lalu. Siapapun dilarang menunjukkan identitas keagamaannya seperti kalung salib, jilbab, dan lainnya di depan umum.

Begitu pula dengan yang disampaikan Veronique. Ia menjelaskan bahwa aturan tersebut memang betul adanya. Wanita muslim dilarang mengenakan nikab atau penutup wajah penuh. “Namun untuk di teritori institusi pendidikan penggunaan jilbab dapat ditolerir, Anda bisa menggunakan jilbab. Namun tidak di public service” jelasnya menjawab pertanyaan peserta.

Terakhir, Veronique berharap siapapun yang ingin mengetahui informasi studi di Prancis, CampusFrance akan membantu dan mendampingi calon siswa dimulai dari memberikan informasi, pendaftaran, sampai akhirnya calon siswa tersebut mendapatkan Visa.

“CampusFrance adalah badan nasional untuk promosi pendidikan tinggi Prancis. Jadi, jangan ragu untuk mengunjungi halaman situs kami untuk informasi lebih lanjut” tutup Veronique. / red