Penulis yang baik banyak menghabiskan waktu dan energi kreatifitasnya untuk menulis alinea pembuka. Sebab bagian ini merupakan pembukaan terpenting sebelum pembaca masuk lebih jauh ke dalam cerita – (Roy Peter Clark, halaman 142)

Luwi Ishwara bergabung dengan Kompas pada 1967. Awalnya ia bertugas sebagai wartawan di pengadilan. Namun kemudian ia merangkap meliput berita seputar pertahanan keamanan (hankam). Sebab rekan kerjanya, wartawan hankam, Theodore Purba mendadak meninggal dunia. Dari liputan meja hijau dan hankam, Luwi beralih ke masalah-masalah Departemen Pekerjaan Umum (DPU).

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Parahyangan Bandung ini sempat mempelajari jurnalisme secara khusus pada 1973. Luwi dikirim ke Wellington, Selandia Baru oleh Colombo Plan, sebuah organisasi ekonomi dan sosial bagi negara-negara di Asia Tenggara dan Pasifik. Sepulang dari sana, pria asal Pamanukan, Jawa Barat ini menjadi editor Desk Kota, koordinator liputan ekonomi, editor Desk Artikel, dan penanggung jawab Desk Malam.

Kemudian sejak 1987 hingga memasuki usia pensiun pada 1998, Luwi memimpin lembaga pendidikan jurnalistik. Tugasnya mengajar para calon wartawan Kompas yang lolos tes seleksi. Angkatan pertama terdiri atas 6 peserta, mereka disebut “Angkatan Anggrek I”. Sebab pelatihan diadakan di sebuah rumah kecil di Palmerah Jakarta yang sebelumnya dimiliki oleh seorang petani bunga anggrek.

Selama 6 bulan pertama, saat mengajar angkatan pertama itu, toko buku  belum sebanyak sekarang. Pemesanan buku-buku dari luar negeri juga tidak semudah saat ini lewat internet. Sehingga Luwi musti rajin mengunjungi toko buku dan perpustakaan untuk mencari bahan pelatihan. Ia juga meminta kepada rekannya yang bertugas di luar negeri agar  membelikan buku-buku tentang jurnalisme.

Buku “Jurnalisme Dasar” ini merupakan kompilasi catatan-catatan Luwi Iswara tersebut. Ada 57 referensi kepustakaan dalam buku ini (lihat daftarnya di halaman 184-187). Bahkan sebagian besar rujukan berbahasa Inggris. Misalnya karya Philip Meyer, The Vanishing Newspaper: Saving Journalism in the Information Age (Edisi Kedua, Universty of Missouri Press, 2009). Berbeda dengan 4 cetakan sebelumnya yang bersampul biru, edisi kelima kali ini bersampul hijau.

Salah satu pesan utama buku ini ialah kepercayaan publik kepada media perlu dipelihara. Sebab mengutip Hal Jurgenmeyer, “We were not in the news business, not even in the information business. We were “in the influence business.” Wartawan Knight Ridder itu meyakini bahwa kita tidak lagi berada dalam bisnis pemberitaan, tidak juga dalam bisnis informasi. Kita berada dalam “bisnis pengaruh”.

Setidaknya surat kabar memiliki 2 pengaruh. Pertama, pengaruh sosial yang tidak dijual. Kedua, pengaruh komersial atas keputusan konsumen untuk membeli sebuah surat kabar. Pengaruh sosial niscaya mendongkrak pengaruh komersial. Media yang berpengaruh memiliki pembaca setia. Hal ini menjadi magnet bagi para pemasang iklan.

Sinergi antara idealisme dan bisnis menjadi tantangan media saat ini. Claude Sitton, direktur editorial dan wakil presiden Observer Publishing Company berpendapat, “Surat kabar yang tidak sehat dalam bisnisnya menjadi lemah. Keadaan ini justru rentan terhadap pihak-pihak yang ingin memanfaatkan media untuk kepentingan pribadi.” Kendati demikian, Ellen Hume mengingatkan agar media tidak sekedar menjadi buckrakers alias pengeruk uang.

Pada saat yang sama, media juga musti memiliki idealisme sebagai pembongkar penyelewengan (muckrakers). Sebagai pilar ke-4 demokrasi, media musti menegakkan keadilan. Joseph Pulitser mengatakan bahwa ketakutan seseorang akan dibongkar oleh surat kabar, dibandingkan oleh hukum, moral, atau undang-undang, telah mencegah berbagai kejahatan dan tindakan tidak bermoral.

Buku ini juga membahas penyelidikan independen oleh pers dengan cara menginvestigasi kegiatan pemerintah, bisnis, dan lembaga publik. Sehingga surat kabar dapat memberi informasi kepada masyarakat mengenai isu yang menjadi keprihatinan bersama. Genre ini dikenal sebagai watchdog journalism atau peran jaga jurnalisme.

Di kutub lain, terdapat jurnalisme sampah (junk journalism), misalnya berupa pembeberan isu pelecehan seksual di halaman muka. Harold Evan, seorang mantan editor The Times menawarkan solusi, “Kalau saja sepersepuluh dari energi yang dikeluarkan untuk mengintai kehidupan pribadi seseorang dimanfaatkan untuk memantau kekuasaan yang nyata, untuk analisis, dan perbaikan penulisan dan akurasi kita akan luar biasa menjadi lebih baik (halaman 38).

“When something can be read without effort, great effort has gone into its writing,” begitulah pendapat Enrique Poncela dalam buku ini. Novelis Spanyol tersebut berbagi rahasia proses kreatifnya. Menurut  naskah sandiwara bila suatu tulisan dapat dibaca tanpa bersusah payah disebabkan karena kesulitan yang besar telah hilang ke dalam penulisannya. Dengan kata lain, menulis yang susah (dimengerti) itu mudah, sedangkan menulis yang mudah (dimengerti) itu susah.

Aturan emas (the golden rule) kehidupan berlaku pula dalam dunia jurnalistik, “Menulislah untuk orang lain seperti Anda menginginkan orang lain menulis untuk Anda.” Lewat buku ini Luwi Ishwara juga mengajak kita bersikap skeptis. Janganlah menerima suatu berita begitu saja dan menganggap semua itu benar adanya (taken for granted). Kita musti mendukung segala kesimpulan dengan fakta. Selain itu,  kerja profesional mensyaratkan dokumentasi sumber-sumber yang sahih dan dapat dipercaya.

Oscar Wilde seorang pengarang terkenal mengatakan bahwa sikap skeptis ialah awal dari kepercayaan, sedangkan orang sinis adalah orang yang melulu tahu mengenai harga (price) tapi sama sekali tidak paham ihwal nilai (value) apapun. H. L Mencken, pendiri majalah satir The Smart Set ini mengatakan bahwa orang yang sinis seperti orang yang ketika mencium keharuman bunga, justru matanya melihat ke sekelilingnya mencari peti mati.

Prinsip dasar: KISS and Tell juga diulas dalam buku ini. Wartawan perlu menghindari kalimat yang rumit. Buatlah kalimat yang  singkat (short) dan sederhana (simple). Yang tak kalah penting, berceritalah (tell). Gaya ini memang berbanding terbalik dengan laporan kaum birokrat. Mereka cenderung menggunakan bahasa formal dan berkepanjangan (halaman 130)

Dari segi isi relatif lebih informatif dan tak membosankan. Luwi menceritakan pengalaman Ernest Hemingway (1899-1961). Tenyata sebelum menjadi penulis novel, Hemingway pernah menjadi wartawan. Ia sempat diundang menghadiri konferensi pers Benito Mussolini.

Para wartawan diantar memasuki ruang kantor diktator Italia tersebut. Mereka mendapatkan Mussolini sedang asyik memperhatikan sebuah buku. Tatkala wartawan lainnya berdiri menunggu, Hemingway berjinjit mendekati untuk melihat buku yang sedang dibaca sang diktator itu. “Kamus Perancis-Inggris, yang dipegang terbalik,” demikian tulis Hemingway dalam beritanya.

Dalam konteks ini, keingintahuan menjadi satu hal yang penting dalam kerja jurnalistik. Buku “Jurnalisme Dasar” ini menyajikan teori dan praktik jurnalitik secara mendasar. Layak dijadikan refererensi bagi siapa saja yang hendak belajar menulis. Selamat membaca!  (T. Nugroho Angkasa, Penulis Lepas, Tinggal di pojok Godean, Yogyakarta)

Judul Buku: Jurnalisme Dasar
Penulis: Luwi Ishwara
Penerbit: Penerbit Buku Kompas (PBK)
Cetakan: V, Januari 2011
Tebal: xxii + 188 halaman
ISBN: 978-979-709-542-0