HMINEWS,COM,- Barat bersikap terlalu berlebihan terhadap Islam dan Dunia Islam. Ketakutan berlebihan, dan cenderung memojokkan Islam karena dianggap sebagai sebuah kumpulan teroris. Hal itu merupakan pendapat yang salah sekaligus perlu diluruskan.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso, dalam Seminar Internasional Sosio-Political Changes in the Islamic World : Challenges and Opportunities, di UC UGM, Sleman, DIY, Selasa (17/5/2011). Politisi Partai Golkar ini juga menyoroti pandangan yang salah mengenai Islam tidak bisa hidup di negara demokratis.

“Itu salah besar. Nyatanya Indonesia dengan mayoritas beragama Islam juga dapat menjaga semangat demokratisasi,” tutur Priyo, pada acara yang juga menampilkan pembicara mantan perdana menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, dan mantan ketua MPR RI, Amien Rais.

Ia mengatakan pascareformasi Indonesia kini telah dapat dikatakan sebagai salah satu negara paling demokratis di muka bumi. Hal ini pun menurutnya bisa menjadi percontohan dan cerminan, terutama untuk negara-negara Barat bahwa Islam pun dapat menciptakan sebuah sistem demokrasi yang mendekati makna demokrasi sebenarnya.

Terkait sejumlah krisis dan permasalahn di beberapa negara Islam di Timur Tengah, Priyo menilai hal tersebut dapat menjadi suatu entri poin tersendiri. Ia menjelaskan, entri poin yang dimaksud di sini adalah permasalahan tersebut dapat menjadi momentum untuk menyongsong sebuah dunia baru.

“Dunia Islam dan Barat yang selama ini tidak akur, bukan tidak mungkin nantinya akan berubah. Ini bisa menjadi jembatan hubungan baru antara dunia Islam dan Barat, begitu pula sebaliknya,” lanjut Priyo.

Adapun Amien Rais lebih menyoroti pada penyelesaian krisis yang terjadi di beberapa negara Islam di Timur Tengah. Amien, yang juga ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM dan pakar Timur Tengah, mengajak kaum Muslim untuk kembali pada kitab suci Alquran.

“Di Alquran kita tidak diajari untuk saling bunuh atau pertumpahan darah untuk mengubah dunia,” tegasnya.

Mantan ketua umum PP Muhammadiyah ini juga menekankan perlunya kesadaran diri masing-masing pihak, terutama umat Muslim, untuk bijak dalam melihat suatu permasalahan. Menurutnya, dengan cara demikian, segala persoalan akan dapat diselesaikam secara baik tanpa perlu  kekerasan atau perang saudara.

Seminar  Sosio-Political Changes in the Islamic World : Challenges and Opportunities merupakan rangkaian kegiatan The 7th Gathering of Union of Islamic World Student yang digelar Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Acara diselenggarakan 16-19 Mei 2011. /hast/ Tribun Jogja/.