Setelah beberapa tokoh kunci teror tertangkap dan meninggal dunia, Indonesia kembali aman dan pemerintahan berjalan cukup efektif. Kepolisian mendapatkan apresiasi yang begitu besar dari masyarakat karena mampu membereskan kelompok yang membuat keonaran di negeri ini tanpa tanggung jawab meski mereka berdalih atas nama jihad.

Selang waktu yang cukup lama, tanpa diduga-duga teror itu kembali datang pada hari Selasa 15 Maret 2011 dengan kemasan yang lebih tertata rapi dan kali ini menyerang Kompleks Utan Kayu yang dikenal sebagai markas Jaringan Islam liberal (JIL) dan yang menjadi targetnya adalah seorang Ulil Abshar Abdalla, tokoh JIL dan sekarang menjadi aktifis politik di Partai Demokrat. Ulil sendiri selamat tapi tiga petugas dari kepolisian dan satu orang petugas keamanan di Kompleks tersebut terkena cedera saat mencoba menjinakkan bom dan kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Selain untuk Ulil, bom juga dikirimkan kepada Kepala BNN Komjen Gories Mere, Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP) Japto S Soerjosoemarno dan Musisi Ahmad Dhani, bom diduga masih menyebar di sekitar kita.

Sampai detik ini belum diketahui motif kiriman bom untuk Ulil termasuk yang lainnya, khusus untuk Ulil setidaknya ada dua prediksi motif dibalik pengiriman bom ini. Pertama, Politik. Sejarah politik itu memang kejam, siapa yang mengancam dia harus segera diamankan, bukan hanya lawan tapi kawan sendiri pun bisa disingkirkan, aniaya bahkan dibunuh. Politik mengabadikan kepentingan, yang tadinya kawan bisa jadi lawan maupun sebaliknya. Dalam teori Machiavelli, dalam tindakan politik, manusia menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya (the end justifies the means). Akhir-akhir ini, Ulil sebagai politisi cukup vokal menyuarakan isu pergantian anggota kabinet (reshufle), mungkin ada orang atau elit yang tidak suka dengan langkah-langkah politik Ulil sehingga Ulil harus dilenyapkan seperti yang menimpa Tan Malaka, Munir dan lain-lain. Kedua, aktifitas Ulil sebagai Pemikir Islam Liberal. Ulil merupakan salah satu orang yang berada digarda terdepan membela kaum minoritas dan sangat vokal menyuarakan pluralisme dan kebebasan beragama.

Terlepas dari itu semua, teror dalam bentuk dan alasan apapun tidak dapat dibenarkan. Indonesia bukanlah negara teror tapi sebuah negara demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai hukum. Oleh karenanya, polisi harus mengusut tuntas kasus ini atau kejadian yang lebih parah akan menyusul memporak-porandakan negeri ini. Teror adalah ancaman serius terhadap masa depan demokrasi.

Selama ini kasus teror yang melanda negeri ini selalu ada hubungannya dengan sekelompok orang yang mengatasnamakan jihad (kelompok radikal), kalau kasus bom buku ini juga ditengarai oleh orang yang sama, pemerintah bukan hanya harus bersikap tegas tapi juga harus memberikan rumusan baru dalam menyikapinya karena hal ini sangat mungkin akan terjadi terus menerus. Pun hukuman yang setimpal bagi para pelaku teror tidak dapat menjadi efek jera dan jaminan berhentinya melakukan aktifitas terorisme.

Rumusan yang dimaksud adalah mengubah paradigma. Tindakan terorisme masih terjadi dikarenakan belum seragamnya pemahaman kita terhadap falsafah negara. Para pendiri republik ini sudah bersepakat bahwa falsafah negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila adalah ikhtiar dan jerih payah sejarah, dia merupakan nilai-nilai yang dapat mengakomodasi semua kepentingan bangsa Indonesia yang sangat beragam baik secara agama maupun budaya. Bangsa ini sudah terlalu lama disibukkan dengan konflik ideologi sehingga tenaga dan pikiran kita terkuras untuk memikirkan itu, ideologi bukannya tidak penting tapi apakah kita akan terus disibukkan dengan persoalan yang sesungguhnya mesti sudah selesai.

Menurut Dawam Rahardjo, gagasan persatuan sangat kuat dalam Pancasila, karena menyadari realitas mengenai pluralitas masyarakat Indonesia. Pancasila yang merupakan sintesa berbagai gagasan besar universal (great ideas) pada dasarnya adalah sebuah faham pluralisme politik dan budaya. Hal ini tergambar dari kata-kata “Bhinneka Tunggal Ika”, beraneka ragam tetapi merupakan satu kesatuan, yaitu Indonesia.

Tidak seragamnya pemahaman kita terhadap falsafah negara menyebabkan bangsa ini terperosok pada jurang kegelapan, kita seolah-olah tidak optimis dan siap menerima bahwa kita berbeda dalam banyak hal namun kita bisa bersatu padu menyelamatkan dan memajukan republik. Pemahaman kita yang dangkal menyebabkan kita berlaku semena-mena, menabrak konstitusi bahkan merugikan orang yang tidak bersalah.

Mengutip Goenawan Mohamad, kita membutuhkan Pancasila karena kita seakan-akan telah kehilangan bahasa untuk menangkis 100 tahun kekerasan yang tersirat dalam sikap sewenang-wenang yang juga pongah. Sikap mereka yang merasa mewakili suara Tuhan dan suara Islam, meskipun tak jelas dari mana dan bagaimana ‘mandat’ itu datang ke tangan mereka, sikap mereka yang terbakar oleh ‘egoisme-agama’ dan menafikan cita-cita Indonesia yang penting, agar tiap bangsa Indonesia ‘bertuhan Tuhannya sendiri’ hingga agama tak dipaksakan, dan para penganut tak bersembunyi dalam kemunafikan.

Kalau pemerintah tidak bisa bersikap tegas dan mengubah paradigma tersebut, bisa jadi pengeboman di negeri akan menjadi sesuatu yang lumrah seperti halnya fenomena gempa di negeri sakura.

oleh : Ali Rasyid
Kepala Biro Politik Bandung Intellectual Circle (BIC)