Pernahkah kalian mendengan nasihat seperti ini: “Memberi pengemis itu harus ikhlas, tidak usah dipikirkan apakah ia orang yang mampu atau tidak apakah itu cuma karena ia malas ataukah benar–benar tidak mampu, itu urusan dia pada Yang di Atas.” Coba bayangkan kalau setiap orang berpikir seperti ini, maka semua pengemis pengamen akan bersorak gembira, tapi pernahkah dia berpikir bahwa cara berpikirnya akan menambah panjang daftar orang yang berbondong menjadi pengemis. Karena pekerjaan ini gampang, tidak berisiko dan tidak membutuhkan modal apapun. Berapa banyak calon generasi penerus kita yang tiap pagi hingga sore diajak oleh orang tuanya untuk mengemis di setiap lampu merah, diajak mengamen dalam gendongan sang ibu yang ntah itu adalah ibu kandungnya, atau sang anak sekedar disewakan, dieksploitasi untuk kepentingan orang–orang tertentu.

Atau ingatkah kalian kisah seorang bapak yang tega memotong kaki anaknya agar si anak dapat membantunya mengemis iba dari orang lain karena cacatnya kaki si anak. Betapa kejam sang bapak, bagaimana nasib sang anak setelah itu, apakah sepasang kaki pemberian yang sempurna dari Sang Maha Sempurna dapat tergantikan oleh recehan uang yang di dapat dari hasil meminta–minta? Bukankah memberi itu lebih baik dari menerima, dan tangan diatas lebih baik dari tangan yang dibawah? Namun mental sang anak telah dicetak untuk meminta bukan memberi. Haruskah kita membiarkan orang yang meminta terus menjadi peminta–minta dengan memberinya uang padahal dia mampu untuk bekerja? Berapa banyak lagi orang–orang yang akan tergiur dengan profesi ini.

Seringkali kita terus memprotes dan menyalahkan pemerintah dengan keadaan ini, karena ketimpangan sosial yang begitu tinggi, karena pemerintah hanya memberi peluang pada pemodal asing, karena kekayaan negeri ini yang justru dikeruk untuk kepentingan asing, karena pajak yang disalahgunakan, karena korupsi yang merajalela, karena minimnya lapangan kerja dan berbagai masalah makro lainnya. Memang hal itu ada benarnya, namun pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri apakah kita turut berpartisipasi dalam memiskinkan negeri ini dengan menjadikan SDM kita menjadi tidak kreatif, tidak produktif dan malas dengan melestarikan budaya mengemis?

Sementara di sudut lain, di jalan yang ramai dengan lalu lalang manusia, seringkali kita temui pedagang yang menjual buah, sayur, atau jajanan kecil dengan bakul yang diikat selendang, dimana ia duduk dari pagi sampai sore diatas selembar karung beras plastik yang sudah tidak layak pakai, ia berusaha menjajakan dagangannya dan berharap ada yang membeli, namun terkadang untung yang ia dapatkan tidak seberapa karena pembelinya menawar harga yang terlalu rendah sehingga ia hanya bisa menjual dengan untung yang sangat kecil atau menjual rugi (karena jika tidak dijual saat itu juga mungkin besok barangnya akan busuk, atau takut tidak ada yang akan membeli lagi).

Pernahkah anda berpikir bagaimana nasib si pedagang itu jika dagangannya tidak laku? Mungkin saja ia punya banyak mulut yang harus ia suapi, mungkin saja jika dagangannya tidak laku anaknya terancam putus sekolah, mungkin saja jika dagangannya tidak laku hari ini ia tidak akan punya modal untuk berjualan di esok hari. Kemungkinan terburuk pasti bisa terjadi karena berdagang itu selain mendatangkan untung juga bisa mendatangkan rugi, karena pekerjaan itu berisiko. Seringkali juga yang berjualan seperti ini justru si mbah–si mbah yang sudah tua namun tetap terus berjualan karena mungkin almarhum suaminya dan ia sendiri bukan PNS yang setelah tua bisa menikmati masa tuanya dengan uang pensiun.

Dan tentu saja orang–orang lebih memilih untuk memberi uang kepada pengemis, pengamen dan peminta-minta sejenisnya, dari pada memberi uang lebih pada si ibu tua yang berjualan pisang dipinggir pasar. Bahkan merasa bangga jika bisa membeli barang dengan harga yang murah, berhasil menawar barang dengan harga serendah–rendahnya dianggap sebagai prestasi. Padahal orang berdagang itu lebih mulia daripada meminta minta, bahkan nabi kita sendiri pernah berdagang. Lalu kenapa tidak kita muliakan orang yang berdagang daripada yang meminta–minta? Kenapa tidak kita coba hilangkan budaya meminta–minta dengan menolak memberi pada orang yang secara fisik mampu berbuat atau menghasilkan sesuatu.

Dan tahukah anda akan jauh lebih berarti jika anda memberi sebagian harta anda pada si pedagang tua yang tetap mempertahankan kemuliaanya dengan tidak meminta minta, karena anda telah berbagi rezeki pada orang yang mau berusaha, dan mungkin lebih baik daripada anda ikhlas memberi uang anda (dengan label sedekah) pada preman yang mengamen dipinggir jalan (yang mungkin pula uang anda tersebut digunakannya hanya sekedar untuk membeli barang haram yang bernama rokok). Dan haruskah kita senang mendengar adanya perkampungan pengemis di negeri ini? Yah andalah yang menentukan apa yang akan anda lakukan. Yah,..tulisan ini hanya sekedar sentilan untuk mengingatkan!

Oleh: Jantu Sukmaningtyas, kader Kohati