Oleh: M Chozin Amirullah, ketua umum PB HMI

Bagi sebagian kalangan anak muda, tanggal 14 Februari adalah hari yang penting. Hari tersebut tak ubahnya seperti hari raya yang khusus diperuntukkan bagi kawula muda, ialah hari Valentin, hari kasih sayang (iedul hubb) yang kini marak dirayakan di mana-mana. Padahal dulunya peringatan tersebut hanya muncul di daratan Eropa dan Amerika, tetapi kini tiba-tiba muncul sebagai tren di seluruh dunia, bahkan di negara-negara Muslim. Lalu apa dan siapakah Valentin itu? Mengapa perayaan yang jatuh setiap tanggal 14 Februari itu begitu melegenda sekarang? Mengapa kawula muda yang tidak merayakannya dibuat merasa seperti ketinggalan zaman?

Hari Valentin awalnya adalah ritual Pagan yang dimulai pada zaman Roma pada abad ke-4 SM, sebagai perayaan untuk menghormati dewa Lupercus. Cerita awal tentang tradisi ini ditemukan di Roma pada masa pra-Kristen, ketika orang-orang Pagan hendak merayakan “Feast of the Wolf” (pesta serigala) yang jatuh pada tanggal 15 Februari, yang juga dikenal sebagai pesta  Lupercalius untuk menghormati Februata Juno (dewi perempuan dan perkawinan) dan Pan (dewa alam). Pada hari tersebut, perempuan-perempuan muda menaruh nama mereka dalam sebuah guci, lalu para laki-laki secara acak akan menariknya untuk menemukan pendamping seksual pada hari itu atau satu tahun yang akan datang. Kadang-kadang pasangan tersebut memang menjadi selama hidupnya. Lalu mereka bertukar hadiah sebagai tanda kasih sayang, dan tak jarang diantara mereka kemudian menikah.

Daya tarik utama dari ritual ini adalah adanya tradisi undian mendapatkan perempuan muda oleh para laki-laki muda untuk sekedar hiburan semalam atau menjadikannya sebagai pasangan hidup. Tradisi lain yang dengan hal di atas adalah tradisi memukuli perempuan muda yang berpakaian seadanya dari kulit kambing dengan menggunakan tali dari kulit kambing yang telah diolesi dengan darah kambing kurban dan anjing. Tradisi memukul wanita muda oleh “orang suci” ini diyakini untuk membuat mereka lebih mampu untuk melahirkan anak.

Tradisi Valentin dalam Kristiani

Seperti yang terjadi pada perayaan-perayaan Pagan lainnya, para pendeta Nasrani waktu itu tak berdaya untuk menghentikan tradisi Lupercalia ini. Para penyebar agama Kristen hanya berhasil mengubah nama hari Lupercalia menjadi hari Santo Valentin. Perubahan ini dilakukan pada tahun 496M oleh Paus Gelasius sebagai penghormatan kepada Santo Valentin dalam legenda Kristen, di mana terdapat sekitar 50 legenda mengenai tradisi ini.

Paus Gelasius melakukan sedikit perubahan, pada tradisi undian untuk mendapatkan wanita diganti dengan undian untuk mendapatkan nama-nama orang kudus. Tujuannya adalah untuk menjadikan orang-orang kudus yang sebagai model perilaku orang-orang yang mendapatkan namanya. Jika sebelumnya hanya laki-laki yang mengundi, sementara perembuan dijadikan undian, maka dalam tradisi Valentin yang baru baik laki-laki maupun perempuan diperbolehkan untuk menarik undian dari kotak.

Sejarah mengenai tanggal 14 Februari sendiri adalah adalah hari di mana Uskup Valentin dieksekusi oleh Kaisar Romawi Claudius II karena menikahkan beberapa tentara secara rahasia pada tahun 270M. Waktu itu memang ada larangan menikah bagi tentara Roma. Claudius II berpendapat bahwa prajurit pria yang lajang akan lebih baik dibandingkan dengan prajurit yang memiliki istri dan keluarga. Oleh karena itu ia melarang pernikahan bagi anak muda yang masuk militer. Valentin menentang Claudius dengan menikahkan pasangan-pasangan muda secara rahasia. Ketika tindakannya ini diketahui, maka Claudius membunuhnya.

Versi lain dari cerita ini mengatakan bahwa Valentin adalah seorang imam suci di Roma yang membantu orang Kristen melarikan diri dari penjara Roma yang sangat keras dan penuh siksaan. Valentin ditangkap, disiksa dan kemudian kepalanya dipenggal. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 14 Februari 270M.

Perancis pernah melarang praktek perayaan tersebut pada tahun 1776. Sebelumnya, perayaan tersebut juga telah dilarang di Inggris selama abad ke-17, ketika kaum puritan masih sangat kuat. Demikian juga di Italia, Austria, Hungaria, dan Jerman, ritual tersebut sempat menghilang beberapa lama. Namun pada tahun 1660 Charles II menghidupkannya kembali yang kemudian merebak kepada dunia baru di mana kaum Yankees di AS melihat hal tersebut sebagai sebuah peluang untuk mendatangkan uang. Adalah Esther A. Howland yang memperoduksi salah kartu Valentin pertama di Amerika pada tahun 1840-an, dengan menghasilkan keuntungan senilai $ 5.000. Sejak saat itulah industri kartu Valentin mulai booming.

Sejarah mengenai Hari Valentin dalam tradisi Kristen mustinya menjadi pelajaran bagi umat Islam. Dalam tradisi Kristiani, Santo Valentin diangkat menjadi santo (orang suci) karena mencoba bertahan untuk tidak melakukan seks bebas. Penggantian tradisi Lupercalia  dengan peringatan Valentin adalah bagian dari cara agama Kristen untuk menghilangkan budaya seks bebas dalam budaya Pagan. Jarang yang pernah tahu bahwa gereja juga pernah mencoba untuk melarang perayaan tersebut, karena peringatan Valentin disalah lebih artikan sebagai  perayaan kebebasan seks.

Meskipun ada upaya-upaya ke arah kebaikan dari agam Kristen terhadap tradisi tersebut, akan tetapi belakangan ini tradisi perayaan Hari Valentin sudah kembali ke asal mulanya, yaitu tradisi seks bebas. Saat merayakan Hari Valentin, orang kebanyakan orang berpikir tentang asmara, dewa cupid – dengan anak panahnya, serta pesta satu malam yang tanpa mengindahkan nilai-nilai moral.

Perspektif Islam

Islam mengajarkan agar umatnya menghindari apa saja yang berhubungan dengan praktek-praktek tidak bermoral sebagaimana dalam tradisi pagan. Islam juga tidak mengajarkan seseorang untuk melakukan hubungan romantis dengan lawan jenis  sebelum menikah. Dalam Islam, cinta dalam keluarga, teman dan orang-orang terdekat tidak harus dirayakan dengan cara-cara yang tidak Islami.

Sayangnya, saat ini tradisi perayaan Hari Valentin telah menyebar luas, khususnya di kalangan kaum muda perempuan. Mereka merayaan dengan berbagai cara melalui pesta, kostum merah muda, pakaian indah dan sebagainya. Padahal hal tersebut tidak memberikan arti apa-apa dan justru bertentangan dengan ajaran-ajaran agama. Alih-alih menciptakan keluarga yang sakinah yang diliputi dengan rahmat cinta, tradisi tersebut justru mengumbar nafsu dan menjadikan para wanita direndahkan nilainya. Wallahu a’lam. ( Tulisan ini diolah dari berbagai sumber)[]/whb