Oleh Laurna Strikwerda

Belasan ribu pengunjuk rasa terus membanjiri Lapangan Tahrir (atau pembebasan) di Mesir, selama dua minggu berturut-turut dan membentuk demonstrasi besar-besaran untuk menuntut mundurnya Presiden Hosni Mubarak. Meski secara umum, unjuk rasa ini berlangsung damai, kekerasan tetap mewarnai demonstrasi yang terjadi. Para pengunjuk rasa pro-pemerintah – yang kabarnya sengaja dikerahkan oleh negara – telah melemparkan batu dan bom molotov, dan menggunakan pentungan untuk memukul para wartawan dan aktivis pro-demokrasi di Lapangan Tahrir.

Optimisme yang terlihat pada awal unjuk rasa ini telah berkurang akibat pecahnya kekerasan; meski demikian, hal ini belum meruntuhkan tuntutan demonstran tentang perubahan politik. Saat pertanyaan-pertanyaan tentang politik tingkat tinggi, kepemimpinan transisi dan diplomasi terus memenuhi berita, kita seharusnya tidak lupa bahwa cerita tentang harapan dan solidaritas orang biasa telah menjadi bagian intrinsik dari gerakan protes tersebut.

Revolusi di Mesir telah menyatukan banyak orang: warga mencoba mencari jalan untuk menyediakan uluran tangan bagi lingkungan sekitar, orang-orang dari agama berbeda berbaris bersama-sama, dan para aktivis internasional menggemakan suara rakyat Mesir.

Meskipun masa depan Mesir belum menentu, cerita-cerita ini menunjukkan bahwa ada potensi untuk membangun negara yang lebih kuat dari bawah.

Walau ada kekacauan di jalan-jalan, warga Kairo dan kota lain telah membentuk kelompok-kelompok untuk menjaga ketersediaan listrik, air dan gas. Posko-posko lingkungan juga telah bermunculan di tengah ketidakhadiran polisi untuk mengamankan tempat tinggal dan tempat usaha mereka dari penjarah. Khalid Toufik, seorang anggota posko di Alexandria, mengatakan dalam sebuah tulisan di New York Times, “Kami ingin menunjukkan pada dunia bahwa kami bisa menjaga negara kami, dan kami tengah melakukannya tanpa bantuan pemerintah ataupun polisi.”

Di Lapangan Tahrir, kerumunan orang bersorak, “Muslim, Kristen, kita semua orang Mesir!” Kaos-kaos yang bertuliskan berbagai slogan unjuk rasa juga menampakkan bulan sabit dan salib sebagai simbol persatuan. Bahkan ada berita-berita tentang orang-orang Kristen yang membentuk pagar manusia untuk melindungi Muslim yang tengah melaksanakan salat.

Perempuan pun ikut berunjuk rasa bersama laki-laki, anak-anak muda bersama orang-orang tua.

Cerita dan gambaran ini memberikan potret yang berbeda dari yang terlalu sering diwartakan di media Barat: stagnasi politik, perpecahan agama dan faksionalisme. Bahkan perubahan yang terjadi tidaklah terbayangkan beberapa bulan sebelumnya. Hingga beberapa saat lalu, persatuan agama tampak jauh dari kenyataan, khususnya setelah terjadinya pemboman gereja di Alexandria, Januari lalu.

Tapi mungkin karena berbagai kejadian tragis semacam itulah rakyat Mesir ingin memperlihatkan bahwa koeksistensi agama bukan sekadar angan-angan semu, tapi telah kerap menjadi kenyataan sehari-hari.

Di tingkat internasional, berbagai orang, kelompok, maupun perusahaan telah menemukan cara untuk menunjukkan solidaritas dan membawa suara rakyat Mesir ke seluruh dunia. Google dan Twitter bersama-sama menciptakan Speak2Tweet selama diblokirnya akses internet. Aplikasi ini memungkinkan orang Mesir menelepon salah satu dari tiga nomor telepon yang disediakan untuk merekam sebuah pesan, yang kemudian dapat di-“tweet” oleh akun Speak2Tweet yang bisa dilihat di seluruh dunia, dan diterjemahkan di situs lain, Alive in Egypt.

Perangkat-perangkat seperti ini telah membantu orang di berbagai tempat nan jauh untuk memberi sumbangan pada perjuangan dan kenyataan sehari-hari rakyat Mesir, selain juga memberikan kabar dari lapangan secara langsung.

Salah satu tanda harapan yang signifikan ialah pengumuman militer, Senin malam pekan lalu, yang menyatakan bahwa mereka tak akan menggunakan kekuatan untuk melawan para pemrotes. Mengingat adanya beberapa korban tewas serta jumlah korban terluka yang mencapai setidaknya seribu orang di hari-hari pertama, hal ini pun adalah sesuatu yang perlu disambut baik.

Militer tidak menghentikan terjadinya bentrokan antara massa pro-Mubarak dan massa anti-Mubarak, tapi mempertahankan netralitasnya. Namun, pekan lalu, The Guardian mewartakan bahwa militer telah campur tangan untuk menghentikan para demonstran pro-Mubarak yang melemparkan batu pada para pemrotes. Hal ini menunjukkan bahwa militer masih bisa berperan sebagai pemadam kekerasan.

Peristiwa beberapa pekan belakangan ini telah memperlihatkan bahwa cara kita memandang tempat tertentu – dan cerita yang kita miliki tentang masa depan – bisa berubah dalam waktu sekejap. Saya belajar di Kairo pada musim gugur tahun 2003, bertepatan dengan ulang tahun ketiga intifada kedua Palestina. Kala itu, dalam sebuah unjuk rasa yang digelar di Lapangan Tahrir, jumlah pasukan keamanan negara tampak jauh lebih banyak dibanding para pengunjuk rasa, sehingga seorang aktivis mengatakan pada surat kabar Mesir, Al-Ahram Weekly, “Kami 100 berbanding satu.”

Dalam hari-hari belakangan, jumlah pengunjuk rasa – dan pasukan yang mendampingi mereka – adalah kebalikannya.

Banyak dari kita tetap berharap, meski tidak yakin apa yang akan mereka hadapi di masa depan: sebuah perubahan kecil pada struktur pemerintahan yang ada, sebuah rezim baru berkuasa atau pemerintahan yang bersatu? Namun, walau terdapat bayang-bayang kekerasan baru-baru ini, upaya masyarakat awam di Mesir untuk bergabung bersama melintasi sekat-sekat yang bisa memecah-belah mereka; serta menemukan cara untuk menghadapi kendala sehari-hari, semestinya masih bisa memberi kita harapan akan masa depan.

###

* Laurna Strikwerda ialah koordinator program dialog Muslim-Barat di organisasi transformasi konflik Search for Common Ground. Artikel ini ditulis kerja sama Kantor Berita Common Ground (CGNews)  dengan HMINEWS