Forum Sosial Dunia : Saatnya Berpaling ke Afrika

Oleh : Moh. Ahlis Djirimu*

HMINEWS- Di saat perhatian dunia tertuju pada ending efek rambatan revolusi Jasmin di Mesir, ada satu momen penting yang luput perhatian kita. Saat ini sedang berlangsung Forum Sosial Dunia ke 11 di Dakar, Senegal yang berlangsung selama 8-11 februari 2011. Dakar, kota yang identik dengan tujuan akhir rally yang memakan banyak korban jiwa termasuk pencetusnya, Paris-Dakar di setiap awal tahun sebelum berpindah ke Argentina sebagai konsekuensi tidak adanya jaminan keamanan di wilayah Sahel (sub sahara).

Forum Sosial Dunia (le Forum Social Mondial) Dakar diikuti oleh antara 40.000 hingga 50.000 peserta mengambil tema “Un autre monde est possible”, mungkinkah masih ada dunia lain, sebenarnya merupakan saingan dari World Economic Forum yang diadakan saban akhir januari setiap tahun di Davos, Swiss yang terlihat sangat glamour, kapitalis dan elitis yang tahun ini dibuka oleh Presiden Rusia, D. Medvedev yang terfokus mengundang kepala negara G-20 saja. Apalagi biaya registrasi cukup mahal bagi peserta asal negara sedang berkembang (US$80000-10.000) bagi momen tiga hari di dataran tinggi plus menikmati tebaran salju.

Berbeda dengan World Economic Forum (WEF), World Social Forum (WSF) tahun ini dibiayai oleh sindikasi organisasi non pemerintah dunia (NGO) yang tahun ini mencapai 1.5 juta euro yang mempertemukan politisi khususnya partai sosialis maupun sosialis demokrat di Uni Eropa, peneliti, militan sosialis, ilmuan asal negara sedang berkembang Amerika Latin, Asia dan Afrika, serta para pengambil kebijakan di negara-negara berkembang.

Tahun ini, tampil tiga pemimpin Amerika Latin yang menjadi the rising stars yang telah memperlihatkan kinerjanya melayani sepenuh hati rakyatnya. Pertama, Evo Morales, sang bujang lapuk yang menampilkan pleidoi anti imperialis dan kapitalis. Di Uni Eropa, presiden pertama Bolivia keturunan Indian ini, terkenal karena gagasan dan implementasinya memasarkan Coca, sejenis minuman khas produk nasional Bolivia yang memasyarakat di Amerika Latin yang mengancam hegemoni coca cola amerika.

Namun, ia  terkadang berhadapan dengan opini dunia yang digiring untuk mengindentikkan coca Bolivia yang disemai di pegunungan Andes dengan cocain. Padahal sangat berbeda, karena coca dapat menjadi cocain bila melewati prosedur kimia di berbagai laboratorium illegal di Amerika Latin.

The Rising star kedua yang tampil adalah Luis Ignacio Lula, mantan presiden Brazil yang walaupun tidak menjabat lagi sebagai presiden, tetapi tetap popular di Uni Eropa dan negara sedang berkembang karena gagasannya kompensasi  negara maju atas pelestarian hutan amazon yang meliputi sembilan negara Amerika Latin: Brazil, Guyane Prancis, Guyane, Suriname, Venezuela, Kolombia, Peru, Bolivia, Paraguay yang terkenal dengan gagasan Porto Alegre di mana WSF keempat berlangsung. The rising star ketiga yang menjadi pembicara, Hugo Chavez, presiden Venezuela, symbol revolusi Bolivarian yang sangat berperan dalam menyatukan kaum sosialis dunia dan memberikan inspirasi pembagian yang adil atas migas dunia di antara perusahaan multinasional dan negara berkembang yang selama ini hanya menjadi kutukan sumberdaya alam seperti pernah diungkapkan Stiglitz (2005). Turkmenistan, Azerbaijan, Sudan Selatan, Sierra Leon telah merasakan dampak sebar kebijakan Chavel di Venezuela termasuk membaca dengan baik perubahan tanda-tanda jaman.

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari WSF adalah pertama, sejak WSF pertama diselenggarakan tahun 2000, kita dapat melihat bagaimana semua peserta berdebat dan menyusun roadmap dan membumikan pemecahan masalah sosial dunia (kelaparan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, marginalisme kaum papa, hingga eksplorasi migas afrika) tanpa adanya sekat baik sebagai NGO, politisi, maupun pemimpin negara, apalagi perasaan sebagai bangsa yang superior maupun inferior.

Kedua, penyelenggaraan kali ini di Afrika bersamaan dengan momen lunturnya kepercayaan pada kapitalisme dunia di tengah krisis ekonomi dunia utamanya di Uni Eropa yang dipimpin oleh partai sosial yang terkena warisan krisis macam Yunani, Portugal dan Spanyol dan konsekuensi sosial di depan mata kita seperti penanganan krisis pangan dan volatilitas harga minyak dunia yang digagaskan oleh Prancis agar dimasukkan dalam agenda G8 dan G20 di Deauville dan Cannes, Prancis tahun ini. Namun, sekali lagi, Amerika melalui Timothy Geithner (menkeu) keberatan tentu untuk melindungi spekulan amerika. Telah menjadi opini umum di Uni Eropa bahwa kenaikan harga pangan merupakan salah satu pemicu revolusi Tunisia dan kerusuhan sosial di berbagai belahan dunia seperti Haiti, Mesir, Philipina, Sudan sebagai akibat tindakan para spekulan dunia utamanya Hedge Fund yang berbasis di Amerika dan Inggris, dua anggota G-20.

Ketiga, WSF kali ini harus menjadi starting point bagi kita dalam memandang Afrika. Walaupun setiap hari kita sujud 5x menghadap ke Afrika, tepatnya pesisir negara kecil Komoro yang memang mayoritas muslim berkopiah kuning dengan garis putih di sekelilingnya, namun pandangan bahwa Afrika miskin dan dikuasai pemimpin nan korup sedikit demi sedikit harus ditinggalkan. Afrika Selatan, Botswana, Anggola, Namibia di wilayah Afrika Autral, Kenya, Mozambik, Tanzania, dan Ethiopia di wilayah Timur, serta Ghana dan Senegal di wilayah barat merupakan kandidat negara industri baru di Afrika, walaupun kita tentu akan menemukan keanehan di Anggola yang jajahan Portugal. Negara yang pro barat ini justru sumur-sumur minyaknya dikelola oleh China National Oil Company yang dilindungi oleh tentara beraliran marxist asal Cuba.

Keempat, WSF kali ini adalah momen negara di delta Niger macam Niger, Chad, Nigeria dan Kamerun menyuarakan kerusakan lingkungan akibat eksplorasi minyak yang ditinggalkan oleh Royal British Shell sebagai konsekuensi tidak adanya jaminan keamaman dalam eksplorasi migas.

Kelima, WSF kali ini justru didominasi juga oleh para wakil pengusaha China dan India utamanya mereka yang bergerak di sektor pertanian, eksplorasi migas, supermarket, dan property. Ingatkah kita bunga rose yang dominan di Uni Eropa, justru hasil impor yang merupakan kerjasama setara antara pengusaha asal India dan rakyat Ethiopia. Sepertinya separuh Afrika telah dikuasai oleh naga dan cobra Chindia termasuk mereka yang sedang bersaing memperebutkan eksplorasi minyak di Tambura dan Jabu, Sudan Selatan setelah memenangkan konsesi eksplorasi minyak di Gabon, Anggola, dan pengusaha China menjadikan Mozambik sebagai basis supermarket China di Afrika Timur.

Sayang demi sayang, walaupun hanya dugaan kami, tentu tidak ada satupun pemimpin asal Indonesia yang mengikuti momen ini. Pemimpin kita sepertinya bahagia menjadi penggembira di event G20 daripada event WSF di Senegal.

*PhD student international economics, CEMAFI, Nice University Sophia Antipolis, Prancis.