Tumbangkan Presiden Mubarak, Rakyat Bersatu Bersama Aktivis

HMINEWS- Melawan rezim kebohongan dan korup, Mesir semakin memanas. Para pengunjuk rasa terus melakukan demonstrasi, menuntut pengunduran diri Presiden Husni Mubarak.

Untuk melancarkan aksi, mereka mengajak seluruh rakyat Mesir untuk ikut bergabung, Senin (31/1/2011), mempersiapkan konvoi yang akan digelar esok hari. “Kami tidak akan berhenti sampai Mubarak mengundurkan diri,” ungkap salah satu demonstran.

Kondisi di Mesir makin tidak terkendali. Orang-orang menjadi takut untuk keluar rumah. Beredar kabar, kerusuhan akan semakin meluas. Polisi dan tentara terlihat berjaga-jaga, tapi mereka tidak bertindak terhadap massa yang kian banyak.

Risiko bahwa masalah-masalah di Mesir kemungkinan menyebar ke bagian lain di dunia telah meningkat dan pemberontakan memiliki efek negatif terhadap pertumbuhan, serta memberikan kontribusi untuk harga yang lebih tinggi.

Hal ini disampaikan ekonom global yang juga ketua Roubini Global Economics, Nouriel Roubini kepada CNBC.COM, Senin (31/1).

Demonstran Mesir memusatkan campnya di Kairo Senin, menuntut mundurnya Presiden Hosni Mubarak, yang telah memerintah negara selama 30 tahun. “Sudah ada penularan politik dari Tunisia ke Mesir … meningkatnya resiko geopolitik,” kata Roubini. “Ini memiliki efek negatif terhadap pertumbuhan atau inflasi meningkat. Semua ini tidak baik ..”

Namun dia menambahkan bahwa situasi ini belum begitu serius karena belum menyebabkan resesi lain. “Bahkan jika dalam resesi terakhir telah dikaitkan dengan guncangan harga minyak yang disebabkan oleh risiko geopolitik … Kita belum ada, tapi harga minyak naik, pengambilan risiko, ini semua negatif untuk pasar,” kata Roubini.

Demonstran ini bisa menyebar ke negara-negara seperti India, Pakistan, China, bahkan di Amerika Latin di mana sebuah rezim seperti Chavez bisa ditantang,” tambahnya. “Harga makanan telah naik di seluruh dunia, harga minyak naik, di banyak negara ini adalah kejutan bagi pendapatan,” tambahnya

Bergolaknya salah satu negara maju di Timur Tengah, Mesir, diduga dimotori oleh sejumlah kekuatan asing.

Amerika Serikat yang memiliki hubungan bilateral cukup baik dengan Mesir, diduga telah bermuka dua yakni mendukug pergolakan Mesir sekaligus mendukung pemerintahan Presiden Mesir Hosni Mubarak.

“Bolanya ada di Mubarak sendiri. Dan, Amerika bermuka dua dalam masalah ini,” ujar pengamat Timur Tengah dari Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Fahmi Salsabila.

Amerika, lanjut dia, mulai tidak menginginkan Mubarak memimpin Mesir, meski merasa nyaman dengan kepemimpinan penguasa yang memerintah selama 30 tahun itu. Namun, kini Amerika juga mendukung demonstrasi besar-besaran di Mesir.

“Apa yang sekarang membuat AS tidak nyaman lagi dengan Mubarak, mungkin karena desakan kuat. Amerika sudah seperti ini pasti ada sesuatu,” ujarnya.

Apa penyebabnya? “Salah satunya mungkin karena Mubarak kurang bisa melindungi perbatasan menuju Gaza.” . (ABC/lip6)