Michael Nagler, Guru Besar Emeritus University of California, Berkeley, pendiri Metta Center for Nonviolence, dan penulis buku, The Search for a Nonviolent Future.

Oleh : Michael Nagler, Guru Besar Emeritus University of California, Berkeley, pendiri Metta Center for Nonviolence, dan penulis buku, The Search for a Nonviolent Future.

Berkeley, California – Keberhasilan menakjubkan di Mesir, yaitu saat Presiden Hosni Mubarak mundur setelah aksi protes selama beberapa pekan, telah menyedot perhatian dari seluruh penjuru dunia. Namun, seperti biasa, tidak banyak muncul komentar dari sudut pandang nirkekerasan. Meski Presiden AS Barack Obama setidaknya menggunakan kata-kata “nirkekerasan” (non-violence) dalam sambutan ucapan selamatnya, kita harus sadar bahwa masih ada banyak lagi potensi nirkekerasan dari sekadar aksi protes tanpa senjata. Mengabaikan poin ini boleh jadi berarti mengabaikan arti penting kejadian ini yang sesungguhnya – tidak saja bagi Mesir tetapi juga bagi dunia.

Menurut penelitian yang dilakukan di bawah arahan Adrian Karatnycky untuk Pusat Internasional Konflik Nirkekerasan (International Center on Nonviolent Conflict), lembaga yang mendidik masyarakat global, para aktivis dan organisator tentang nirkekerasan, dalam 67 transisi dari rezim otoriter ke demokrasi yang terjadi belakangan, pemberontakan rakyat dua kali lebih besar peluangnya untuk menghasilkan kebebasan dan demokrasi bila dilakukan tanpa kekerasan. “Banyak transisi dari pemerintahan otoriter tidak membawa kebebasan,” ungkap laporan penelitian tersebut. Namun, ketika nirkekerasan diterapkan, peluang untuk meraih hasil yang menggembirakan menjadi lebih besar.

Inilah yang terjadi di Mesir. Tentu itu melibatkan momen-momen yang menantang dan menegangkan, saat orang-orang semakin besar jumlahnya dan menunjukkan keberanian dan komitmen yang lebih mendalam. Tatkala polisi dan demonstran bentrok di luar sebuah masjid di Alexandria, The New York Times melaporkan:

“Orang-orang yang berkerumun menyanyikan, “salmiya, salmiya” yang berarti ‘damai’. Beberapa demonstran naik ke atas truk hijau dimana seorang petugas berhelm tengah menyiramkan gas air mata tidak ke udara tetapi langsung ke badan para pengunjuk rasa. Seorang lelaki berkaos bergaris-garis maju dan berlutut di depan truk itu. Polisi berkumpul berlindung dengan perisai dan menggenggam pentungan, tetapi tidak menyerang.” Alih-alih, mereka menarik diri, mundur perlahan ke kendaraan mereka, dan dengan itu pun bentrokan berakhir.

Warga kota Kairo telah mengulang dinamika yang tampak dalam revolusi Otpor (perlawanan) di Serbia pada tahun 2000, dimana protes tanpa kekerasan berbuah kemenangan cepat dan tergulingnya Presiden Slobodan Milosevic. Namun, seperti sejarah tunjukkan, “nirkekerasan” semacam ini hanyalah permulaan. Bisa saja itu menjadi sebuah pendahuluan dari kerusuhan yang bisa dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan penindas, bila kerumunan orang di Lapangan Tahrir tidak mengandalkan keberanian, dan setia pada persatuan yang terlihat dalam unjuk rasa itu ketika orang Kristen dan Muslim, juga perempuan dan laki-laki, datang berkumpul ke lapangan tersebut. Kini, mereka harus beralih dari aksi memprotes ke mendorong rencana positif dan konkrit untuk masa depan Mesir. Untuk itu, mereka harus menggunakan kekuatan penuh nirkekerasan. Seperti dikatakan Gandhi, kekuatan ini muncul jika kamu “mencintai musuhmu” – dan menambah upaya yang membangun pergerakan melawan ketidakadilan.

Untungnya, hal ini bisa diwujudkan, sebagian karena protes tersebut tidak sekadar menunjukkan mentalitas kerumunan dimana orang-orang berkumpul di jalanan tanpa arah atau tujuan. Jauh dari sekadar terlecut oleh revolusi serupa di Tunis, sebagian pemuda Mesir telah merencanakan revolusi ini setidaknya selama tiga tahun, dan telah mengorganisir berbagai serangan dan protes melalui blog dan Facebook. Para aktivis Mesir ini menjalin hubungan dengan para veteran revolusi Otpor Serbia, yang mendirikan Pusat Penerapan Aksi dan Strategi Nirkekerasan (Center for Applied NonViolent Action and Strategies) di Serbia untuk mengomunikasikan “praktik-praktik terbaik” perjuangan tanpa kekerasan.

Dengan kata lain, ada tradisi nirkekerasan yang sudah lama hidup di Kairo, dan masyarakat Mesir dapat melanjutkan tradisi itu. Para aktivis di luar Mesir bisa membantu.

Para sejarawan gerakan nirkekerasan telah menunjukkan bahwa pemberontakan tanpa kekerasan tidak bisa didatangkan dari luar. Tetapi ketika gerakan yang tumbuh di dalam negeri tidak mendapat dukungan dari komunitas internasional, gerakan itu jarang berhasil. Dukungan ini pun mengalir, seperti kita telah saksikan. Kini, para pelatih dan konsultan nirkekerasan bisa membantu membangun demokrasi, yang selalu bahu-membahu dengan nirkekerasan.

Orang-orang yang mempunyai kontak di kawasan harus mendorong mereka untuk mengadakan program “pelatihan singkat” tentang potensi penuh nirkekerasan, termasuk potensinya untuk mengarahkan transisi kekuasaan menuju keadaan yang lebih stabil. Para pengunjuk rasa telah menunjukkan keberanian dan tekad bulat. Yang lebih penting lagi, mereka mempunyai pendirian untuk harus menarik diri dari ekspresi kemarahan liar dan kekerasan. Kini mereka bisa beralih ke upaya yang kurang dramatis tetapi lebih bertahan lama yaitu membangun Mesir yang lebih baik, dengan bantuan mitra-mitra mereka dalam komunitas internasional.

###

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)