Militer Mesir Berdamai dengan Demonstran Menuntut Presiden Mubarak Mundur

HMINEWS- Militer dan pasukan keamanan Mesir telah menangkap 3.200 orang di berbagai penjuru negara itu. Kantor berita Fars mengutip televisi Al Arabiya melaporkan, 3.200 orang yang melarikan diri dari tahanan dan melakukan aksi penjarahan dan perusakan, kembali ditangkap oleh tentara Mesir.

Seiring berlanjutnya aksi protes di negara itu, militer mulai membagi-bagikan nasi bungkus di tengah warga kota Suez.

Televisi Al Jazeera dalam liputannya juga menginformasikan berlanjutnya protes di Mesir. Meski telah diumumkan pemerintahan Militer di negara itu, tapi tidak terjadi bentrokan warga dengan tentara.

Saat ini tank-tank dan panser militer melakukan patroli di jalan-jalan. Sementara itu, ribuan warga Mesir tetap bertahan di Bundaran Tahrir dan menuntut lengsernya Presiden Hosni Mubarak

Tak Merembet ke Indonesia?

Pengamat politik Universitas Ohio University William Liddle yakin pergolakan dan instabilitas politik di negara-negara Timur Tengah belakangan ini tidak akan merembet ke Indonesia.

“Pasti tidak akan merembet. Karena Indonesia kondisinya sekarang tidak sama dengan di sana. Seharusnya ada dampak dari demokrasi di Indonesia ke Timur Tengah, bukan sebaliknya. Tapi sayangnya negara Timur Tengah tidak mau meniru Indonesia. Meski mayoritas muslim terbesar ada di sini,” tandas seperti diberitakan inilah.com, Senin (31/1/2011).

Pakar Indonesianis ini menilai kekacauan di Tunisia dan Mesir saat ini hampir serupa dengan situasi Indonesia pada 1998 lalu ketika Soeharto dilengserkan secara paksa dari tampuk kekuasaan melalui gerakan reformasi.

“Kalau kita bandingkan dengan kondisi Indonesia pada 1998 ketika Soeharto jatuh dibandingkan dengan apa yang terjadi di Mesir dan Tunisia saat ini ada kesamaan, demonstrasi dari bawah, ada sejumlah elit yang memberontak, sehingga sulit mempertahankan kekuasaannya,” terangnya.

Namun, ia tak melihat tanda-tanda kesamaan gejolak politik Indonesia belakangan ini dengan pergolakan politik di negeri-negeri Gurun Pasir tersebut. Karena demokrasi tumbuh relatif baik.

“Saya tidak mau menyamakan Indonesia sekarang dengan Tunisia dan Mesir. Indonesia dibandingkan dengan Tunisia tidak ada kesamaan. Indonesia sekarang sudah demokratis. Anda boleh saja berdebat soal demokrasi di Indonesia, tapi faktanya Indonesia sudah menjadi negara demokratis. Di sini, rakyat sudah memilih gubernur dan kepala daerah secara langsung. Tapi bahwa itu belum berjalan sebagaimana mestinya itu soal lain lagi,” papar Liddle.

Sementara di Tunisia dan Mesir, tambah Lidle, demokrasi berjalan semu, karena rakyat tidak punya hak memilih dengan bebas. “Jadi jauh berbeda dengan Tunisia dan Mesir sekarang. Di sana tidak demokratis. Rakyat tidak punya hak, pemilu tidak bermakna. Kalau di sini lebih punya makna. Selain itu, tentara di Indonesia sekarang terkesan apolitis. Kesan saya begitu. Tentara di sini berperan sebagai tentara yang profesional, tidak lagi berpolitik,” terangnya.[]irib/inil/ian