Merapi dan Semangat Kepahlawanan

HMINEWS- Dampak dari erupsi  Merapi pada (26/10) lalu telah menyisakan kepedihan tersendiri bagi masyarakat sekitar gunung merapi, juga keprihatinan mendalam bagi publik Indonesia. Dampak dari bencana tersebut, sedikitnya seratusan lebih nyawa manusia tak terselamatkan dan ribuan hewan ternak lainnya mati sia-sia. Sementara itu lebih dari 204.000 jiwa harus mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman (zona aman Merapi sekitar 20 Km).

Menurut pemberitaan media,  sekitar 240.000 warga Jawa Tengah di Boyolali, Klaten dan Magelang mengungsi akibat erupsi Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Paling tidak mereka mencari situasi aman dari amukan awan panas, butiran  abu dan asap solfatara yang terus menghujani wilayah lereng Merapi. Karena besarnya materi yang dikeluarkan Gunung Merapi selama erupsi yang berlangsung hampir dua minggu ini dapat menimbulkan bahaya sekunder sewaktu-waktu, antara lain berupa banjir lahar dingin atau kubah Merapi yang memungkinkan membentuk cekungan (kawah).

Melihat dasyatnya dampak erupsi tersebut, tidak berselang lama Merapi akhirnya mengundang perhatian massa. Bukan tidak mungkin lagi beribu-ribu simpati lewat bantuan seperti halnya makanan, obat-obatan, pakaian layak pakai, juga keperluan lainnya seperti alas tidur dan selimut terus dikucurkan. Begitu pula dengan aktifitas para pelajar dan mahasiswa di berbagai daerah dipenjuru Jawa Tengah dan DIY, bahkan hingga pelosok tanah air tidak lelah-lelahnya secara bergiliran menggalang dana kemanusian di jalan-jalan, traffic light bagi para korban.

Sementara itu, masyarakat lainnya ada yang memberikan rasa simpatisannya dengan mengirimkan bantuan keuangan lewat pos-pos pundi amal Merapi baik melalui media, lembaga-lembaga sosial, maupun disalurkan langsung ke lokasi. Adapula yang tertarik datang dengan menjadi relawan seperti yang tergabung dalam SAR, militer, LSM, maupun organisasi-organisasi lainnya dengan mengerjakan tugas evakuasi, pertolongan pada gangguan kesehatan, pemulihan atas trauma bagi anak-anak, membantu penyediaan konsumsi, serta membantu proses pendataan korban. Serta ada juga yang dengan ikhlas menyetok makanan dan mempersilakan rumahnya sebagai tempat pengungsian sementara.

Mulyadi (52), misalnya, ia harus rela berbagi ruangan dengan para pengungsi yang sebelumnya memang tidak kenal asal-muasal dan latar belakang kehidupannya. Warga Desa Winong Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali ini dengan ikhlas menyediakan rumahnya yang hanya memiliki empat kamar untuk sekitar 125 pengungsi asal Kecamatan Selo dan Kecamatan Cepogo, Boyolali.

Mulai dari teras, ruang tamu, ruang belakang hingga kamar tidur dipenuhi para pengungsi. Mulyadi yang berprofesi sebagai guru, bahkan menyediakan kebutuhan makanan bagi para pengungsi sebanyak 250 orang dengan dibantu tiga tetangganya (Kompas,7/11).

Sedangkan melalui instruksi langsung dari pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, warga Yogyakarta yang tidak terkena dampak erupsi Merapi dihimbau untuk bersedia memberikan lima bungkus makanan (baca: nasi) saban harinya kepada para korban di sekitar propinsi Yogyakarta. Jika kita kalkulasi harga sebungkus nasi adalah sebesar Rp. 5000, maka setidaknya satu keluarga harus mengeluarkan uang senilai Rp.25.000 kepada para korban. Yakni jumlah uang yang cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri dalam sehari. Apalagi ditengah situasi ekonomi yang serba susah, uang senilai itu sangatlah berharga.

Ikhlas dan Tulus

Dari fenomena ini, terdapat hal yang patut kita petik untuk dijadikan refleksi (pembelajaran) bagi kita. Tidak lain adalah  buah dari semangat kepahlawanan yang dituangkan oleh sebagian penduduk bumi pertiwi ini kepada korban bencana.  Jiwa kepahlawanan tanpa niatan hati yang tulus dan ikhlas adalah bohong besar.

Dahulu kala, pada zaman pra kemerdekaan, para pahlawan kita dengan hati yang tulus dan niat yang ikhlas dengan gagah berani mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini. Tidak hanya mengorbankan tenaganya untuk berperang, bergerilya namun juga pemikiran, harta bendanya hingga nyawa sekalipun. Dengan semboyan “lebih baik mati dari pada hidup di jajah”, mereka dengan senjata seadanya berani berperang. Bahkan, dalam berjalannya waktu bangsa ini mampu memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan bangsa asing. Adalah potret kepahlawanan luar biasa yang patut diteladani saat ini, saat dimana bencana sedang menimpa tanah air baik bencana banjir Wasior, gempa dan tsunami Mentawai serta erupsi Merapi.

Jika dikorelasikan dengan adanya ancaman erupsi Merapi yang hingga kini masih menunjukkan kemarahannya, suatu hal yang maklum bagi para korban untuk mendapatkan bantuan-bantuan dari masyarakat. Adalah sosok pahlawan yang tentunya dilandasi dengan niat hati ikhlas nan tulus membantu para korban. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, korban akan merasa sangat terbantu.

Rasa ikhlas nan tulus inilah yang kemudian menginspirasi para donatur yang dermawan serta para relawan untuk memberikan bantuannya. Sikap ikhlas, tulus inilah yang akhirnya mampu melahirkan nilai-nilai sosial pada diri dermawan dan para relawan yang sedang bertugas. Tanpa adanya rasa sosial yang tinggi, bantuan-bantuan bagi korban akan mustahil untuk diberikan.

Warga yang menjadi korban sangat memerlukan bantuan baik dalam bentuk makanan maupun tempat yang aman untuk mempertahankan hidup mereka. Sementara itu, tidaklah mungkin pemerintah dalam waktu sekejap mampu mengatasi derasnya jumlah pengungsi yang semakin tidak  terkendali. Oleh karena itu, jiwa sosial yang didasari niat hati yang ikhlas dan tulus akan selalu menjadi impian bagi para korban.

Dimensi keikhlasan dan ketulusan menjadi semangat tersendiri bagi para relawan juga dermawan dalam memberikan pertolongan. Nilai itu tidak  hanya muncul begitu saja, melainkan dilandasi dengan rasa kepedulian yang tinggi  untuk berbagi dan saling mencintai sesama umat manusia. Mereka tidak egois dan berpikir untuk dirinya sendiri. Namun juga bagi yang lainnya, masyarakat yang amat terdesak, terancam kehidupannya dan sangat membutuhkan perlindungan.

Bukan tidak mungkin, mereka, para dermawan dan relawan yang dengan sungguh-sungguh bertugas dengan niat ikhlas dan hati yang tulus adalah pahlawan bagi para korban bencana. Mereka adalah pahlawan bagi para pengungsi yang membutuhkan tempat tinggal yang aman dari bahaya Merapi. Mereka adalah pahlawan yang di saat para pengungsi lapar, harus cepat-cepat segera menyediakan makanan.

Mari, “berkah” Merapi ini kita sikapi dengan hati yang lapang. Semoga niat baik dengan hati yang ikhlas nan tulus para dermawan dan para relawan yang sedang bertugas akan menjadi amal ma’ruf serta mendapatkan balasan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, kelak. Wallahu a’lam!

Didik Tri Atmadja, Presidium Nasional Forum Komunikasi, Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (FKMHII) Wilayah Jawa Tengah-DIY  (2006), alumnus mahasiswa HI Universitas Wahid Hasyim Semarang