Menanti Efek Domino Revolusi Jasmin

Oleh : Moh. Ahlis Djirimu, Anggota Middle East Economist Association (MEEA) dan PhD Student CEMAFI Nice University Sophia Antipolis.

HMINEWS- Kemarin sore, 11 februari 2011, hampir pukul 17.00 waktu Uni Eropa atau hari ke 18 demo tuntutan mundur di Tahrir Place, sekali lagi, kami meyaksikan stunami politik di wilayah magreb mediterania. Beberapa waktu yang lalu, seingat kami hari kamis malam waktu Uni Eropa, kami pernah memposting ke kahmi pro detik-detik keruntuhan rezim Ben Ali di Tunisia. Diktator peringkat ke IV pada oktober 2009 dari top 10 dictator versi yahoo.fr. Kali ini, le tremblement de terre politique (gempa bumi politik) justru menimpa peringkat ke 10, Hosni Mubarak peraih 88.6% suara di tahun 2005. Sebenarnya, sejak saat itu, beliau sudah meyadari bahwa 77% rakyat Mesir kehilangan kepercayaan padanya, karena hanya 23% rakyat Mesir berpartisipasi dalam pemungutan suara. Namun, karena euforia kemenangan selama tiga kali berturut-turut pada 1987, 1993, 1999 dengan 95% perolehan suara dan asyik melayani kepentingan bangsa lain, maka kebosanan rakyat Mesir diabaikan begitu saja olehnya. Di dalamnya, termasuk keberatan Ayman Nur, seorang pengacara muda usia 40 tahun saat itu, berasal dari partai Ghad, partai oposisi yang hanya meraih 7% suara yang sebenarnya berdasarkan perhitungan jujur justru empat kali dari jumlah itu.

Efek Domino di Timur Tengah

Tunisia dan Mesir merupakan le théâtre de marionnettes (wayang golek)nya Amerika dan Uni Eropa menurut beberapa kawan-kawan asal wilayah magreban. Kawan-kawan bangsa Arab memang mempunyai watak yang keras tetapi sangat ulet dalam berdagang, studi dan sangat menyayangi sesama muslim dan melindungi minoritas. Kehilangan harga diri membuat mereka berontak apalagi diperangi oleh rezim berkuasa yang tidak lain saudara mereka sendiri untuk kepentingan layanan bangsa lain. Itulah pengakuan tulus kawan-kawan asal negeri magreb. Hampir semua kawan-kawan Tunisia mengakui, selama ini CIA telah lama bercokol di bumi Tunisia membantu dinas rahasia Tunisia melanggengkan kekuasaan Ben Ali. Namun, setelah Ben Ali hengkang, Amerika dan Prancis sebagai sohib kental berpaling darinya dengan tidak memberikan suaka politik. Di Mesir, kejatuhan rezim Mubarak tidak hanya didukung oleh kaum muda muslim, tetapi kekecewaan kaum minoritas seperti les coqs (minoritas kristen ortodoks Mesir) yang selama ini terlindungi di kalangan mayoritas muslim Mesir. Namun mereka kecewa setelah awal tahun baru lalu, mereka menjadi korban pemboman di Alexandria disaat ibadah, Mubarak tidak dapat berbuat apa-apa.

Menurut kami, korban demokrasi berikutnya di tanah magreb adalah Aljazair. Negeri ini, saat ini dipimpin oleh, Abdelazis Bouteflika, 73 tahun yang tua renta. Ia terpilih untuk ketiga kalinya pada putaran pertama, 9 April 2009 dengan perolehan 90.2% suara, lebih besar 5% dari pemilu 2004 dengan perolehan suara 85%. Walaupun diboikot oleh partai oposisi, namun partisipasi hingga 74% patut juga dipertanyakan karena, jelas sekali terlihat di layar kaca, bagaimana Bouteflika dengan arogan menantang rakyat Alzajair “votez contre nous, votez même avec un bulletin blanc, mais votez” jangan coblos partai kami, coblos walaupun dgn kartu suara kosong, tetapi coblos, saat mengalamatkan discoursnya ke masyarakat Aljazair di pesisir selatan Prancis yang memang dominan. Ini terlihat walaupun luput dari perhatian dunia, unjuk rasa kekecewaan rakyat Aljazair terjadi bersamaan dengan unjuk rasa rakyat Tunisia yang memaksa Aljazair menutup sementara perbatasannya dengan Tunisia.

Kami termasuk orang yang tidak percaya dan harus berhati-hati menanti kejatuhan rezim Bachar El-Assad yang dikampanyekan media barat yang akan tertimpa efek domino revolusi jasmin dalam waktu dekat ini. Bachar yang berpindidikan Inggris mewarisi kekuasaan ayahnya saat kematian mendiang Hafez El-Assad pada tahun 2000. Saat itu, beliau sedang studi dan berusia 45 tahun. Beliau termasuk presiden termuda di timur tengah. Saat beliau menggantikan ayahnya, beliau  memperoleh suara 97.29% rakyat Syiria di tengah boikot oposisi. Pada 2007, beliau terpilih lagi dengan perolehan suara 97.6% suara untuk masa 7 tahun kedua. Syiria adalah batu kerikil Amerika di Timur Tengah yang dicoba didongkel melalui partai oposisi, tetapi selalu gagal. Perdamaian dengan Israel hanya dapat terwujud apabila Israel menyerahkan Jerusalem ke Palestina dan dataran tinggi Golan milik Syiria.

Kami justru menanti efek domino menuju ke Djibuti, negara kecil bekas jajahan Prancis di pesisir laut merah. Negara ini merupakan super marionette, wayang goleknya Prancis, karena sejak lama menjadi markas militer Prancis dengan menempatkan kapal induk nuklir Charles de Gaulle di wilayah ini seperti markas militer Prancis di Dubai. Djibuti merdeka dari Prancis pada 1977. Ismail Omar Guelleh berkuasa di Djibuti setelah menggantikan pamannya, Hasan Gouled Aptidon yang berkuasa pada periode 1977-1999. Pada pemilu, 8 April 2005, beliau terpilih 100% perolehan suara, setelah lawan politiknya, Mohammad Daoud Chelem mengundurkan diri dengan alasan tidak punya uang untuk membiayai kampanyenya. Namun, Omar Guelleh, tidak dapat lagi mencalonkan diri bagi periode 7 tahun ketiga.

Efek Domino ke Asia Tengah

Kami justru saat ini menanti juga aroma parfum jasmine menyebrang ke wilayah Asia Tengah tepatnya ke Turkmenistan dan Kazakhstan. Negara bekas satelit Uni Sovyet di Asia Tengah ini memang didominasi penduduk beragama Islam. Turkmenistan saat ini dipimpin oleh presiden Gurbanguly Berdimuhamedow terpilih pada pemilu 2007 mengalahkan 5 kandidat lain sepeninggalnya Saparmyrat Nyyazov pada 2006 dengan perolehan suara mencapai 95% di bawah pengawasan wakil internasional asal Amerika dan Rusia. Negara penghasil gas alam tersebut termasuk negara yang ingin cepat bertransformasi menuju sektor jasa. Hal ini terlihat dengan pengembangan besar-besaran di sektor pariwisata di tepi laut kaspia telah menjadi tujuan utama turis Uni Eropa saingan Istanbul. Namun, pemilu tersebut tercoreng oleh ulah pemerintah yang mengancam penduduk provinsi Lebap yang golput tidak akan memperoleh subsidi bulanan gandum. Di samping itu, penduduk yang pertama kali tiba di TPS apalagi seorang lanjut usia diiming-iming memperoleh kado yang ternyata berisi buku tentang biografi mendiang presiden Nyyazov. Sedangkan Kazakhstan, hingga saat ini hanya mempunyai satu-satunya presiden, Noursoultan Nazarbaïev. Pada 2005, beliau terpilih lagi sebagai presiden di bawah pengawasan organisasi keamanan dan kerjasama Uni Eropa yang keberatan karena tidak mengikuti norma internasional. Namun, sekali lagi, Uni Eropa dan Amerika tutup mata atas hasil yang membawanya mencapai 91.15% suara. Presiden dengan usia, 70 tahun ini, baru saja memindahkan ibukota Negara dari Almaata ke Karaganda dengan alasan yang belum jelas. Amerika dan Uni Eropa memujinya sebagai negara bekas Uni Sovyet yang maju tentu karena daya tarik migas walaupun sebenarnya pemerintahan Nazarbaïev terkena skandal Kazakhgate akibat beberapa anggota kabinetnya dan disinyalir termasuk beliau menerima uang suap dari petinggi Exxon Mobil Oil Company agar mendapatkan konsesi eksplorasi migas. Di samping itu, Nazarbaïev bersahabat erat dengan Nikolas Sarkozy, yang memberikan keleluasan pada Total France melakukan eksplorasi migas di Kazakhstan. Sebelum pemilu, lawan politiknya, Namanbek Nukardilov terbunuh di rumahnya dengan dua peluru bersarang di dadanya dan sebuah di kepala, yang menurut hasil penyelidikan pihak berwajib Kazakhstan, merupakan bunuh diri karena alasan konflik familial seperti yang sering terjadi di Asia Tengah dan Turki.

Efek domino ke Afrika

Pada 38 negara Afrika Francophone, terdapat beberapa negara yang masih senang saja berkuasa atas mewariskan kekuasaannya pada keturunannya sesuku. Lihatlah Chad, Niger, Republik Afrika Tengah, Kamerun, Pantai Gading dengan dua presiden (Laurent Dbagbo asal selatan dan Lassane Ouatarra asal utara yang muslim), Gabon dan Madagaskar. Menurut kami, Teodore Obiang Nguema Mbasogo, presiden Guinea Aquator merupakan sasaran berikutnya efek domino jasmin. Presiden yang naik tahta setelah mengkudeta pamannya sendiri pada 1979, termasuk yang terlama, 32 tahun. Beliau terpilih untuk kelima kalinya pada dengan suara yang sedikit menurun daripada pemilu 2002 yaitu 95.4%. Sedangkan 2002, beliau memperoleh 97%. Human Right Watch menggolongkan beliau termasuk diktator yang represif dan berperilaku buruk di dunia karena menggunakan uang hasil minyak untuk mengekalkan kekuasaannya. Jurnalis Peter Maass mengkategorikannya dalam slate.com sebagai diktator paling represif di tahun 2008. Seperti halnya, Hosni Mubarak menyiapkan Gamal Mubarak sebagai penggantinya, Nguema juga menyiapkan putranya Teodorin sebagai penggantinya kelak di tengah kanker prostat dan jantung koroner yang menderanya di usia 68 tahun. Prancis sebagai bekas penjajahnya sepertinya tutup mata lagi atas keadaan di negeri ini, tentu karena negara ini sebagai produsen minyak ketiga di wilayah Afrika Subsahara seperti tetangganya Gabon dipegang oleh Ali Bongo, setelah wa            fatnya ayahnya yang mualaf Omar Bongo di Barcelona, pada 2009 setelah 40 tahun berkuasa.

Pelajaran buat Indonesia

Pelajaran pertama, jangan pernah menggadaikan martabat bangsamu. Jika hal ini terjadi apalagi sampai-sampai harta benda bangsa menjadi colateral oleh bangsa lain, maka ini akan menjadi the bubble yang sewaktu-waktu akan meledak tanpa kita perkirakan. Ini yang membuat kaum muda Afrika magreban memberontak, apalagi menjadi le téâtre de marrionnettes, hanya sebagai pion bangsa lain. Adapun masa depan suram, pengangguran hanyalah efek kesekian dari penguasaan the crony capitalism.

Pelajaran kedua, khususnya pemerintah maupun kawan-kawan yang hendak mencalonkan diri pada pilkada adalah jangan pernah lagi ada penggusuran dan penyitaan gerobak dagangan sektor informal. Meledaknya kemarahan kaum muda Tunisia diakibatkan oleh pemandangan yang langka di Tunisia atas disitanya gerobak dagangan Mohammad Bouazizi yang di Indonesia menjadi langganan tetap operasi disbun dan satpol PP. Ironis memang, karena di malam hari saat pemakaman, Mohammad Bouazizi, Ben Ali justru menghadiri ritual tersebut. Pelajaran ketiga, pada daerah-daerah di Indonesia yang tidak didominasi industri dan jasa maupun perdagangan, dan tanpa penciptaan lapangan kerja apalagi angkatan kerja di Indonesia telah mencapai hampir separuh dari penduduk, menjadi PNS adalah impian. Impian tersebut akan cepat terwujud apalagi pemda dikuasai oleh dinasti dan klan familial. Bila semua klan telah menguasai, maka tidak ada jalan lain bagi mereka yang termarginalisasi selain memberontak. Itu yang terjadi pada Leïla Trabelsi atau Trabelsi family, marga umum di Tunisia seperti di Sulut dan Sumut, mantan first lady Tunisia yang sebelumnya seorang coiffeuse (penata rambut) memberikan keleluasaan penuh terhadap kroni terdekat. Tanpa malu-malu membawa pergi 1500kg emas milik rakyat Tunisia. Pada akhirnya seorang rekan kami Mohammed Trabelsi, seorang guru besar di Univ Tunisia terkena juga dampaknya hanya punya family name yang sama, walaupun beliau tidak punya kaitan dengan first lady dan politik.

Revolusi Jasmin sebenarnya telah menjadi snowball effect ke negara lain termasuk ke Prancis, bekas penjajahnya. Michèlle Aillot-Marie (MAM), menlu Prancis, dituntut mundur oleh 52% rakyat Prancis melalui survei LCI salah satu stasiun TV berita Prancis yang tayang 24 jam saingan France24 TV berita Prancis yang berbahasa Ara bitu, karena menggunakan jet pribadi salah satu kroni Ben Ali ketika berlibur akhir tahun di Tunisia. François Fillon, PM Prancis, dituntut mundur oleh oposisi karena menggunakan pesawat militer suruhan Mubarak saat beliau liburan akhir tahun dan bertemu Mubarak di Sharm El-Syeik, daerah wisata Mesir di tepi laut merah di mana Mubarak mengasingkan diri sekarang. Mudah-mudahan beliau terhindar dari serangan hiu harimau yang memang gemar menyerang turis yang tengah berlibur di wilayah tersebut.

—-