Memahami Keyakinan Untuk Kebaikan

Kerukaunan umat beraagama di negara kita ternyata masih sangat rentan hal ini terlihat dengan munculnya beberapa konflik agama dan yang terbaru adalah aksi penusukan terhadap 3 jamaat Ahmadiyah di Pandegelang, Banten hingga berujung maut. Sewajarnya hal tersebut tidak perlu terjadi di negeri konon katanya menjunjung tinggi toleransi.

Entah apa latar belakang sehingga persolan agama sangat mudah sekali menyulut konflik, sebegitukah fanatikah masyarakat Indonesia terhadap sebuah ajaran dan keyakinan. Namun benarkah masyarakat kita adalah mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dan keagamaan.

Bila berkaca pada kondisi rasanya masyarakat kita masih berkutat pada persoalan fanatisme sempit hingga akhirnya berimplikasi buruk terhadap kerukunan umat beragama. Seharusnya masyarakat kita melangkah sedikit lebih maju dalam hal berkeyakinan, hinngga tercapainya hakekat tentang iman dan keyakinan.

Sehingga iman dan keyakinan mendorong ke arah yang lebih baik dalam kehidupan personal pemeluk agama dan berbanding lurus terhadap kemajuan bangsa. Kita harus percaya jika agama adalah tuntunan hidup bagi sipemeluknya niscaya ia akan membawa kebaikan serta kedamaian.

Dan ketika semua masayarakat Indonesia memahami akan hal tersebut, maka bangsa ini tidak akan terpuruk dalam kondisi demikian. Maraknya korupsi serta tidak adilnya penegakan hukum, kemiskinan, kelaparan hingga kemlartan takan mungkin terjadi. Jika bangsa ini adalah bangsa yang agamis.

Karena dalam setiap ajaran agama tertuang jelas bahwa adanya tindakan korupsi serta ketidakadilan merupakan dosa. Agamapun mengajarkan konsepsi berbagi atau amal mulai dari agama samawi maupun agama bumi. Dan sekali lagi bukan berarti agama di negara kita itu salah, melainakn para pemeluknyalah yang kemudian telah melenceng dari koridor.

Untuk itu sudah selayaknya bagi kita merenungi kembali keyakinan akan keimanan dalam diri, serta mencoba mempraktekan ajaran tersebut dalam kehidupan nyata. Singkirkan fanatisme sempit, kedepankan toleransi demi terciptanya sebuah kerukunan. Yang besar bukan kemudian jumawa dan sikecil jangan memancing. Saling menghargai jauh lebih indah ketimbang harus berprasangka.

Pemerintahpun dalam hal ini juga dituntut peranya untuk dapat menjaga serta mewujudkan kerukunan umat, bukan juga hanya sebatas menjadi hakim dan pengadil dalam sebuah pertikaian. Melainkan menjadi penengah serta pengayom yang baik demi terciptanya kerukunan umat.

Pertayaan menarikpun juga harus mampu dijawab, sudahkah para pemimpin kite beragama secara baik dan benar. Bukan hanya sebatas dijadikan topeng ?

Oleh ; Ivan Faizal Affandi, Mahasiswa Universitas Islam 45 Bekasi