illustrasi

HMINEWS- Pendidikan hanya milik orang kaya begitulah kira-kira hal tepat untuk menggambarkan wajah pendidikan di Indonesia, khsusnya bagi mereka yang ingin mengenyam jenjang perguruan tinggi atau universitas. Kenapa bisa kita katakan demikian, karena hanya orang-orang berizki lebih yang berkesempatan mendapatkan itu. Kalua bisa jujur sebenranya bukan hanya pendidikan tinggi saja, pendidikan dasarpun masih sama kondisinya.

Sebuah ironi di tengah gemuruh globalisasi serta mordernisasi. Lalu apalah arti kemerdekaan ini, jika toh masyarakat masih susah mendapatkan apa yang menjadi hak mereka yakni mendapatkan pendidikan sesuai dengan amanah undang-undang dasar.

Kembali lagi pada persoalan pendidikan tinggi, dari sekian banyak masayarakat Indonesia hanya sepersekian persen saja yang kemudian berada dibangku kuliah. Namun mereka yang berkesempatan kuliahpun bukan berarti tanpa masalah,  tingginya biaya pendidikan serta kurangnya toleransi pihak universitas terhadap ketidakmampuan mahasiswa dalam hal keuangan adalah sebuah prbolem.

Inilah yang kemudian menghambat laju mahasiswa dalam menuntut ilmu dan meraih prestasi. Disatu sisi mahasiswa dituntut untuk dapat maksimal menuntut ilmu serta mendulang prestasi, disisi lain mahasiswa harus berjuang untuk dapat bertahan kuliah tentunya dengan memenuhi biaya adminstrasi yang telah ditetapkan. Bila hal tersebut tidak dipenuhi maka habislah riwayat mahasiswa. Cuma ada dua pilihan bagi mahasiswa tersebut, jika beruntung mereka masih berkesempatan mengambil cuti jika apes maka mahasiswa harus angkat koper.

Dua-duanya sebenarnya bukanlah pilihan, cuti atau berhenti sementara sama saja membunuh kesempatan mereka agar dapat lulus tepat waktu dengan asumsi pembiayaan bisa ditekan. Sementara keluar atau drop out terang-terang sebagai upaya pembunuhan harapan. Dan akhirnya kenyataan tersebutlah yang memang harus diterima. Lalu adakah solusi terkait permasalahan tersebut.

Beasiswa bagi mahasiswa biasanya kerap jadi sebuah iming-iming solusi pengentasan permasalahan bagi mereka yang memiliki kendala keuangan, akan tetapi pada hakikatnya itu bukan jawaban. Karena pada dasarnya beasiswa diperentukan terhadap mahasiswa dengan klasifikasi tertentu, salah satunya mahasiswa berprestasi. Padahal tak semua mahasiswa berprestasi.

Selain itu beberapa program atau bantuan pemerintah terhadap mahasiswa kurang mampu  juga banyak bertebaran, akan tetapi semua sia-sia, selain harus mengurus dengan persyaratan berbelit, para mahasiswapun harus berebut dengan mahasiswa lainya. Akhirnya toh keduanya baik beasiswa atau bantuan tak pernah menjadi penyelesaian masalah.

Persoalan tersebut seharusnya sudah harus bisa dijawab oleh pemerintah sebagai penyelenggara negara, mengapa kemudian kebutuhan akan kuliah menjadi sebuah hal langka serta susah dijangkau oleh masyarakat Indonesia. Padahal jika memang pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa seharusnya semakin gampang masayarakat mendapat akses pendidikan. Dan tentunya akan berkorelasi positif untuk kemajuan neagara.

Semakin banyak masayarakat kita yang cerdas dan menguasai ilmu pengetahuan negara kita tidak akan lagi pusing mencari sumber daya manusia sebagai bagian dari pembanguanan bangsa. Tidak seperti saat ini dimana sumber daya alam justru diserahkan kepada orang asing, karena ketidakmampuan bangsa ini untuk mengelola alamnya sendiri.

Untuk itu sudah saatnya pendidikan menjadi fokus utama bangsa sebagai solusi dari keterpurukan serta ketertinggalan Indonesai. Lakukan segera pemertaaan pendidikan baik dari tingakatan terendah hingga paling tinggi, niscaya jika hal tersebut dijalankan dengan kesungguhan dan konsistensi cepat atau lambat Indonesia akan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.[]ivan