Krisis Pemimpin

PEMIMPIN adalah orang pilihan dengan berbagai kelebihan. Salah satu kelebihannya ialah memiliki integritas yang tinggi.  Integritas berkaitan dengan moralitas. Di antaranya, jujur dan konsisten. Jujur saja tetapi mencla-mencle, plinplan, bukan pemimpin berintegritas. Konsisten doang, tanpa kejujuran, pun bukan pemimpin berintegritas. Sebab ada yang konsisten berbohong.

Pemimpin berintegritas adalah pemimpin yang telah selesai dengan dirinya, telah selesai dengan semua kepentingan sempit. Ia mampu menyatukan perkataan dan perbuatan demi sebesar-besarnya kepentingan hajat hidup orang banyak. Tak kalah penting, ia tahu batas, tahu kapan harus turun dari takhtanya.

Celakanya, tidak banyak bangsa di dunia yang memiliki atau dianugerahi pemimpin seperti itu. Bahkan, lebih banyak yang enggan belajar dari sejarah hancurnya sesama pemimpin yang tidak berintegritas.

Contohnya apa yang terjadi di Mesir saat ini, yang menimpa Presiden Hosni Mubarak, yang telah berkuasa 30 tahun. Warga Mesir muak sudah. Setelah berkuasa begitu lama, Hosni Mubarak tidak membawa banyak perubahan. Yang terjadi justru maraknya korupsi, kemiskinan, dan pengangguran.

Akan tetapi, Mubarak tetap bertahan. Ia menggunakan tentara untuk melibas rakyatnya. Hosni Mubarak mestinya belajar dari revolusi di Tunisia. Pertengahan bulan lalu, Presiden Ben Ali yang juga sudah puluhan tahun berkuasa digulingkan unjuk rasa rakyat Tunisia. Ben Ali menambah panjang daftar pemimpin yang lari meninggalkan negerinya karena diusir rakyatnya.
Gejolak serupa sekarang sedang melanda banyak negara di Arab dan Afrika. Sebut saja di Yaman. Para mahasiswa di Sanaa, ibu kota Yaman, juga sedang getol berdemonstrasi menuntut Presiden Abdullah Saleh mundur.

Apa yang terjadi di negara-negara itu sesungguhnya buah tiadanya pemimpin berintegritas. Habis sudah kesabaran rakyat, habis sudah kepercayaan rakyat. Mereka bersedia mati untuk menumbangkan sang pemimpin.

Perihal langkanya pemimpin yang berintegritas itu juga mulai dikeluhkan banyak kalangan di negeri ini. Akumulasi ketidakpuasan kepada pemimpin terus berkembang, bahkan ada yang telah sampai kepada tuntutan agar Presiden turun dari jabatannya.

Pemimpin negara turun dengan cara tidak enak bukan hal baru di negeri ini. Sesuatu yang mestinya juga tidak enak untuk diulangi kembali. Karena itu, jangan sepelekan integritas.[]MI