Tragedi Temanggung (foto : Kompas)

HMINEWS- Polres Temanggung mengaku sudah mengantisipasi terjadinya kerusuhan di Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (8/2/2011). Namun polisi tak mampu membendung ribuan massa yang marah.

Peristiwa yang berujung pada pembakaran dua buah gereja, satu sekolah, dan satu kantor polisi itu berawal dari persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Antonius Richmond Bawengan di Pengadilan Negeri Temanggung, di Jalan Jenderal Sudirman, Selasa (8/2/2011). Sidang mengagendakan pembacaan tuntutan oleh jaksa.

Sekitar pukul 07.00 WIB, puluhan polisi bersenjata lengkap dan diperkuat dua kendaraan taktis serta baracuda sudah bersiaga. Ini biasa dilakukan setiap pengadilan Antonius digelar karena sering menimbulkan keusuhan.

Pukul 09.30 WIB sidang dimulai, massa masuk ke dalam ruang sidang mengikuti jalannya sidang. Massa yang mengenakan atribut ormas tertentu juga terkonsentrasi di depan gedung pengadilan, Jalan sudirman. Massa di luar gedung merangsek berusaha masuk ke dalam gedung pengadilan. Polisi sempat memberikan dua kali tembakan peringatan.

Keributan bermula ketika Jaksa Siti Mahanim menuntut Antonius hukuman lima tahun penjara. Antonius dijerat Pasal 156 KUHP tentang penistaan agama. Saat Hakim Dwi Dayanto hendak mengetok palu, pengunjung sidang mengamuk. Mereka mendesak Antonius, warga Kebon Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur itu dijatuhi hukuman seberat-beratnya.

Massa yang ada di dalam ruangan sidang langsung menyerbu terdakwa. Dengan cepat, polisi mengamankan terdakwa dan majelis hakim. Polisi membawa Antonius dengan kendaraan baracuda.

Emosi para pengunjuk rasa di luar pengadilan tersulut. Mereka melempari pengadilan dengan batu. Kondisi itu semakin tidak terkendali ketika semakin banyak massa merapat ke gedung pengadilan. Mereka bahkan melakukan pembakaran. Kaca-kaca jendela pecah, sebagian tembok PN Temanggung rusak. Bahkan, satu truk pengendalian massa (dalmas) milik polisi dibakar.

Sekitar pukul 10.20 WIB, ratusan personel Brigade Mobil berhasil memaksa massa mundur hingga tercerai-berai. Ternyata, massa yang masih tersulut emosi, melampiaskan ketidakpuasan dengan merusak dua gereja, yakni Bethel Indonesia dan Pantekosta. Sebuah sekolah yang ada di kompleks gereja Bethel juga dibakar.

Kantor polisi yang ada di dekat gereja juga turut menjadi sasaran amuk massa. Sekitar pukul 12.00 WIB, polisi berhasil ‘menguasai kondisi Temanggung. Bekas lokasi kerusuhan di PN Temanggung hanya ada sisa-sisa batu. Konsentrasi massa sudah tidak terjadi lagi.

Jalan-jalan menuju ke kota Temanggung juga diblokade polisi untuk menutup massa dari luar Temanggung. Meski keadaan terkendali, warga masih ketakutan sehingga langsung mengentikan aktivitas. Toko-toko dan pasar langsung tutup. Bank-bank dan kantor pelayanan masyarakat juga tutup.[]inil/ian