HMI

HMINEWS- Tampaknya pasca tahun 1960-an, agama oleh kalangan mahasiswa dan kaum intelektual di negeri ini tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu “yang telah begitu semestinya”, tetapi sesuatu yang harus dibina dan dipupuk dalam keakraban wacana. Agama seakan-akan semakin bermakna ketika ia tidak saja dipupuk, tetapi dijadikan sebagai landasan renungan dan sasaran dialog (Prof. Dr. Taufik Abdullah, M.A. dalam Jimly Asshiddiqie, 2002: 78).

Gejala semakin akrabnya mahasiswa dan kaum intelektual dengan dialog-dialog keagamaan dari multi perspektif ini bukannya tanpa preseden. Disadari atau tidak, fenomena tersebut adalah sesi lanjutan dari beberapa gelombang pemikiran Islam di Nusantara. Dan gelombang kelima tumbuh dan berkembang di zaman kolonial, ketika masyarakat pluralistik muncul pada saat kebudayaan cetak telah semakin menyebar.

Sebagai gejala sosiologis, peristiwa “reformasi yang modernis” ini ditandai dua hal penting. Pertama, tumbuh dan berkembangnya organisasi sukarela yang berdiri di atas ikatan (secara teoritis) kesamaan asumsi kultural-agama dan kesesuaian aspirasi sosial. Misalnya perkembangan Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan NU. Kedua, media cetak, di samping tablig dan lembaga pendidikan menjadi alat utama penyampaian pikiran dan renungan keagamaan, hal mana dilakukan oleh para aktivis organisasi (Taufik Abdullah dalam Jimly Asshiddiqie, 2002: 88).

Hingga kiwari, fenomena gelombang kelima terus berlanjut dengan beberapa rincian perubahan di dalamnya. Jadi, sejak masuknya Islam ke Nusantara sampai sekarang, fenomena continuity and change (keberlanjutan dan perubahan) terjadi di Nusantara. Dan dalam proses sejarah ini pula, interupsi yang berisi evaluasi dan aspirasi harus dikemukakan.

Mendiang sejarawan Kuntowijo pernah menyodorkan tiga macam periode zeitgeist (jiwa zaman), manakala umat mendekati dan mengakrabi Islam. Periode pertama ketika umat mendekati Islam dari sudut pandang mitos. Periode kedua saat umat mendekati Islam, melulu dari sudut pandang ideologi (ideologisasi Islam). Periode ketiga manakala umat mendekati Islam secara ilmu (demistifikasi Islam).

Semasa hidupnya, mendiang Kuntowijoyo adalah satu di antara cendekiawan muslim yang konsisten menyodorkan gagasan tentang lebih paripurnanya periode ilmu bagi umat. Seraya mengafirmasi gagasan itu, paparan relatif detail berkenaan agenda umat Islam darinya (Kuntowijoyo dalam Jimly Asshiddiqie, 2002: 123-129) penting disampaikan. Agenda umat itu antara lain, pertama mengerjakan perubahan sistem pengetahuan, supaya Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin. Kedua, mobilitas sosial, agar umat Islam selalu menjadi pelopor. Ketiga, mobilitas budaya, agar umat dapat menampilkan Islam sebagai agama masa depan.

Perubahan sistem pengetahuan (cara berpikir) meliputi pengetahuan tentang hakikat pergerakan Islam dan pengetahuan mengenai aktualisasi Islam dalam masyarakat luas. Sedangkan sub-agenda mobilitas sosial adalah evolusi sejarah yang terarah dan perbaikan citra umat Islam sebagai khairo ummah (umat terbaik). Lalu mobilitas budaya menyangkut pekerjaan mendisain seni yang kaaffah dan membangkitkan kembali ilmu-ilmu sosial Islam.

Agenda-agenda tersebut seharusnya merangsang adrenalin seluruh elemen umat dan bangsa. Dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) – sebagai salah satu elemen umat – sudah sepantasnya merasa tertantang pula untuk ambil bagian dalam pengerjaan PR tersebut, setelah sebelumnya, pada tahun 1960an sampai sekarang, ikut berperan menjadi aktor dinamisasi Islam. Lantaran kapasitasnya sebagai organisasi perkaderan mahasiswa Islam di Indonesia ekstra kampus, mengerjakan agenda tersebut dapat dimulai HMI segera sejak dalam proses perkaderan itu sendiri.

HMI, Perkaderan, dan Agenda Umat Islam
HMI boleh disebut organisasi kebanyakan yang jarang. Di satu pihak, HMI seperti kebanyakan organisasi-organisasi yang ada di negeri ini. Tetapi di pihak lain, jarang ada organisasi seperti HMI. Satu di antara beberapa unsur yang jarang dimiliki organisasi lainnya itu adalah identitas dan karakter HMI sebagai cadre forming (organisasi perkaderan). Kenyataan ini membuat proses perkaderan atau pendidikan di tubuh HMI merupakan harga mati alias tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pendek kata, HMI adalah perkaderan, dan organisasi perkaderan adalah HMI.

Ditilik dari data sejarah, HMI adalah organisasi tertua yang relatif gemuk. Keberadaannya sebagai organisasi mahasiswa dan kepemudaan tertua di Indonesia sekaligus memiliki struktur organisasi berjenjang dan tersebar di seluruh Indonesia, adalah bukti nyata bahwa HMI sebuah organisasi adaptif dan terbesar, yang masih eksis di Nusantara. Dalam konteks kedua hal ini, eksistensi HMI sungguh fenomenal.

Bertahan dalam rentang waktu 64 tahun sejak 5 Februari 1947 silam sampai sekarang adalah tanda dan prestasi betapa tangguhnya organisasi ini dalam berjibaku dengan tantangan internal dan eksternal. Sedangkan identitasnya sebagai organisasi kader yang telah memberi sentuhan perkaderan (pendidikan) terhadap ribuan kader, juga mencerminkan – tanpa menafikan keberadaan elemen lain – betapa  mustahilnya menihilkan dan mengabaikan peran HMI sebagai bagian dari dan bergaul dalam memoles sejarah umat dan bangsa.

Alih-alih menutup kemungkinan adanya irisan antara HMI, perkaderan, dan agenda umat Islam, kenyataannya justeru di antara ketiganya terjalin kaitan erat. HMI dan proses perkaderan yang rutin dilakukan – dalam kadar tertentu – merupakan jawaban terhadap berbagai agenda umat Islam. Relasi dikotomis antara ilmu agama dan ilmu dunia serta urusan ukhrawi dan urusan duniawi relatif berhasil diapadu-padankan harmonis oleh HMI. Gagasan perubahan sistem pengetahuan (cara berpikir) telah jauh-jauh hari dijejaki HMI, kendati masih perlu mendapat sentuhan konsistensi, efisiensi, dan efektifitas.

Lain ceritanya dengan agenda mobilitas sosial. Evolusi terarah relatif belum signifikan. Kuntowijoyo memprediksi nanti Indonesia akan memasuki masyarakat pasca-industrial yang cenderung mementingkan kelas penjual jasa. Mereka bergerak di bidang informatika, media massa, seni, dan intelektual. Hal ini mengharuskan pimpinan umat – termasuk HMI – merekayasa dengan sadar agar umat berada di garis depan perubahan sosial.

Agenda perbaikan citra umat Islam relatif lebih mengesankan, meski masih terdapat bantahan tersurat maupun tersirat, misalnya oleh citra radikalisme Islam dari sebagian oknum dan terkesan dibesar-besarkan dengan streotyping islamophobi. Citra baik umat juga terhambat di bidang ekonomi dengan masih banyaknya angka kemiskinan dan pengangguran di negeri ini. Data kontemporer menyebutkan bahwa orang miskin di Indonesia berjumlah 31,3 juta jiwa. Jumlah ini didominasi oleh penduduk beragama Islam.

Tentu dengan demikian, upaya sistemik dan individual untuk menuntaskan persoalan harus segera terwujud. HMI dapat berperan dalam kedua konteks itu dengan menyemarakkan dialog lintas agama dan kultur, menunjukkan pandangan dan sikap ke media massa, serta bahu-membahu dengan pemerintah dan lembaga-lembaga ekonomi untuk memperbaiki sistem dan etika perekonomian umat.

Bagaimana dengan agenda mendisain seni yang kaaffah dan membangkitkan ilmu-ilmu sosial? Dalam bidang seni, harus diakui – dalam kadar tertentu – sudah cukup menggembirakan. Patut diapresiasi bahwa kini semakin banyak umat  menjadi produsen kesenian. Tetapi seni Islam ini harus dilengkapi dengan tema-tema etika profetik. Sedangkan dalam aspek ilmu, selama ini ilmu-ilmu keislaman banyak berupa dekodifikasi, padahal merubahnya menjadi demistifikasi Islam telah mendesak. HMI telah bergerak beberapa langkah dalam konteks ini, namun perlu seribu langkah lagi untuk menjejaki demistifikasi Islam yaitu Islam menjadi ilmu yang jelas (Kuntowijoyo dalam Jimly Asshiddiqie, 2002: 124-129).

Jadi kalau begitu, strategi dan taktik mengarahkan seluruh aspek perkaderan HMI serta jejaring HMI (HMI connection) untuk fokus menyelesaikan agenda umat Islam, sebagaimana yang digagas mendiang Kuntowijoyo merupakan langkah arif dan bijaksana. Kelak, sedikit demi sedikit, HMI tidak lagi merupakan bagian dari masalah, tetapi semoga malah menjadi bagian dari kekuatan solusi bagi umat. Dan ini sangat mungkin terjadi.

Kemandirian Intelektual
Tidak ada tanggung jawab bagi kalangan budak (terjajah). Tanggung jawab hanya dimiliki mereka yang merdeka. Pembebanan tanggung jawab penyelesaian agenda umat – dengan demikian – hanya masuk akal jika dibebankan kepada mereka yang merdeka. Kemerdekaan itu sendiri berarti kemampuan memilih berdasarkan pengetahuan memadai dan kerelaan menanggung akibat, tanpa paksaan dari pihak lain. Untuk memuluskan pembebanan tanggung jawab ini, tentu saja jumlah orang-orang merdeka di negeri ini harus diperbanyak.

Ikhtiar untuk memperbanyak jumlah orang-orang merdeka di negeri ini bisa ditempuh dengan mentransformasikan kemandirian intelektual. Mereka yang mandiri secara intelektual mampu mengolah dan membedah realita dan kecenderungan arah zaman dengan pemikiran sendiri. Mereka tidak saja bukan bagian dari praktik patron and client dalam jejaring intelektual, tetapi juga akan mampu memerankan tugas kekhalifahannya di muka bumi.

Terkecuali transformasi kemampuan memakai bahasa asing, yang terbilang masih jarang, hampir semua alat bedah keilmuan – tentu dalam konteks dan terkait logika, filsafat, teologi, dan pergerakan sosial – tersedia di HMI. Maka dalam proses perkaderan yang konsisten dari kedua belah pihak (penyelenggara dan para kader) ini kemungkinan besar akan tercipta generasi yang mandiri secara intelektual.

Patron and client ekonomi yang manifes dalam praktik relasi ketergantungan material (ekonomi), rupanya bisa juga terjadi dalam koridor keilmuaan. Misalnya berpatron (taklid tanpa reserve) secara intelektual atau manut di tataran intelektual kepada individu atau kelompok. Bentuk taklid ini bisa terjadi sejak dari sistem keyakinan yang mendasar dan pribadi, hingga taklid terhadap persoalan cetek. Dan dengan pola perkaderan yang telah, sedang, dan akan dilakukan, para kader HMI dituntut kemandiriannya di tataran intelektual.

Hasilnya, jika para kader HMI memiliki kemandirian intelektual, bukan saja mereka akan mampu mengetahui berbagai struktur pemikiran, melainkan juga akan menguasai aneka alat bedah untuk mengakrabi wacana keislaman dan keindonesiaan. Tidak saja cenderung untuk berpikir substantif dan tidak terperangkap dalam logic fallacy (kesalahan berpikir) maupun peristilahan sarkasme, namun juga terbebaskan dari jeratan politisasi agama maupun politisasi negara dengan tendensinya yang negatif. Ujung-ujungnya – sebagaimana pernah diungkapkan mendiang Lafran Pane – pembentukkan HMI bertujuan untuk menambah jumlah orang-orang baik.

Milad HMI Ke-64 Tahun: Inspirasi dan Aspirasi

Organisasi tertua yang disandang HMI bisa ditafsirkan secara serampangan ibarat umur tua yang menanti ajal. Kutip saja pembenarannya teori challenge and respond dari sejarawan Arnold Toynbee mengenai lahir, berkembang, jaya, menurun, dan punahnya peradaban. Akan tetapi, organisasi tertua yang disandang HMI bisa juga dimaknai berbeda, misalnya sebagai pertanda kematangan, dan tidak paralel dengan ketuaan yang renta, karena dalam konteks perjalanan semesta, tempo 64 tahun jelas masih terhitung pendek dan muda.

Sandingkanlah memori sejarah sebagai organisasi tertua itu dengan luasnya jaringan HMI (HMI connection) di seluruh kampus di Indonesia dengan para alumni yang tersebar merambah segala bidang dan kelembagaan. Kaitkan pula jaringan pergaulan organisasi ini dengan elemen lain yang beridentitas Islam, non muslim, maupun nasionalis. Apa yang akan terjadi jika semua itu terorganisir? Rasa-rasanya cukup besar amunisi untuk menyelesaikan agenda umat Islam tersebut ke depan.

Akhirnya, dalam gegap-gempita zaman yang dinamis dan dalam momentum milad HMI yang ke-64 tahun ini, seperti yang telah dikemukakan Ketua PBNU K.H. Said Aqil Siroj (2006), langkah mengedepankan Islam sebagai inspirasi, dan bukan malah sebagai aspirasi, adalah wajar (fair) dan memang sudah seharusnya. Tetapi sekali lagi, hal ini jangan dimaknai sebagai era kembalinya Islam ke masa ideologi, apalagi ke zaman mitos, dan permisif terhadap dekodifikasi. Sebaliknya, hal itu menyuratkan dan menyiratkan keharusan dan pentingnya umat memasuki dan bergerak dalam periode ilmu sekaligus menyemarakkan gerakan demistifikasi Islam.

Mi’raj Dodi Kurniawan, Sarjana Pendidikan Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Mantan Ketua HMI Cabang Bandung.