Pemerintah Bahrain Keluarkan Larangan Berkumpul

HMINEWS- Pemerintah Bahrain mengeluarkan larangan berkumpul serta mengirimkan tank-tank ke jalan-jalan Kota Manama, Kamis (17/2), pascabentrokan antara polisi dan demonstran yang menyebabkan lima orang tewas dan 200 lainnya dirawat di rumah sakit.

Bahrain merupakan salah satu sekutu utama Amerika Serikat (AS) dalam menghadapi Iran. Bahrain menjadi markas bagi Armada Ke-5 AS. Pemerintah Bahrain yang dikuasai kelompok Sunni memandang setiap gejolak sebagai upaya dari kelompok Syiah untuk memperlebar sayap mereka di kawasan Arab dengan bantuan Iran.

Setelah membiarkan aksi demonstrasi selama beberapa hari oleh kelompok syiah di Manama, pemimpin Bahrain akhirnya memerintahkan polisi antihuru-hara untuk menyerbu perkemahan para demonstran di Pearl Square. Polisi pada dini hari menyerbu Pearls Square. Mereka menembakkan gas air mata, memukuli, serta menembakkan shotgun yang berisikan mimis. Dengan tewasnya dua orang dalam bentrokan Senin (14/2), jumlah korban tewas di Bahrain selama pekan ini menjadi tujuh orang.

Keputusan untuk menggunakan kekerasan dalam membubarkan demonstrasi damai merupakan pertanda besarnya ketakutan penguasa Bahrain akan akibat jika membiarkan aksi demonstrasi berlangsung berlarut-larut.

Dalam pernyataan resmi pemerintah Bahrain pascapenyerangan terhadap kelompok demonstran, Menteri Luar Negeri Bahrain Khalid Al Khalifa mengatakan pembubaran demonstran itu mutlak dilakukan karena aksi itu mengancam terjadinya perpecahan sektarian di negara tersebut. Namun, Al Khalifa juga menyesalkan adanya korban tewas dalam pembubaran tersebut dan berjanji akan melakukan penyelidikan. Al Khalifa menambahkan pembubaran demonstran mutlak dilakukan sebelum terlalu banyak orang berkumpul di Pearl Square untuk meminimalkan jumlah korban. Mayoritas demonstran sedang tidur saat diserang polisi.

Pascapenyerangan tersebut, demonstran yang terluka dan dirawat di rumah sakit malahan tambah bersemangat. Mereka yang didampingi kerabat mereka berteriak, “Rezim harus turun!” Mereka juga membakar gambar Raja Hamad bin Isa Al Khalifa.

“Kami kini lebih marah. Mereka pikir telah berhasil membungkam kami. Aksi mereka malahan membuat kami lebih marah. Saya berjanji bahwa kami akan turun ke jalan dengan jumlah yang lebih banyak untuk menghormati mereka yang telah menjadi martir. Al Kahlifa harus turun,” seru Makki Abu Taki, seorang demonstran yang mendampingi anaknya yang dirawat di rumah sakit.[]AP/mi/dni