Meluruskan Tragedi Kembar di Galilea

Oleh : Gil Zohar

Narasi-narasi yang saling berlawanan dari pihak Yahudi Israel dan pihak Arab Palestina kerap dipandang sebagai permainan menang-kalah, di mana kemenangan pihak satu juga berarti kekalahan pihak lain. Namun sebuah kisah mengenai Kampung bernama Bar’am yang terdahulu dihuni warga Yahudi, yang juga pernah menjadi kota Kristen Palestina bernama Kafr Bir’im dapat menawarkan kesempatan untuk meluruskan sebuah tragedi kembar demi keuntungan kedua masyarakat, dengan membangun sebuah kota dua-bangsa dari puing-puing reruntuhan.

Kampung hantu ini terletak di kawasan Galilea Atas, di antara perbatasan Lebanon dan kota Safed di Israel utara. Pusat dari kawasan yang kini dijadikan Taman Nasional Bar’am ini berada di sekitar gereja dan menara lonceng desa yang dibangun kembali setelah bencana gempa bumi pada 1837, dan sinagog berusia 1500 tahun yang digali pertama kali oleh arkeolog Jerman Heinrich Kohl dan Carl Watzinger seabad silam. Keindahan arsitektur gereja dan sinagog ini merupakan bukti nyata pernah adanya masa berkembangnya dua komunitas di sini.

Puing sinagog bertingkat dua ini menonjolkan bangunan batu kapur yang berukir dan penuh hiasan, yang menjadi bukti tumbuhnya komunitas Yahudi di sini pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi.

Salah satu bagian bangunan yang terpelihara baik adalah pintu lipat tiga yang monumental, dan serambi bertiang yang menghadap selatan ke arah Yerusalem. Dahulu, tempat ini adalah letak Kuil Suci agama Yahudi sebelum dirusak bangsa Roma pada 70 Masehi. Sejarah yang rinci tentang bagaimana orang-orang Yahudi di kampung itu dipaksa mengasingkan diri selama dikuasai Bizantium pun telah hilang ditelan waktu.

Sebagian penduduk Arab di kampung itu memiliki cerita rakyat mengenai bagaimana dulu warga di sana beragama Yahudi sebelum kemudian dipaksa pindah ke Kristen atau, belakangan, ke Islam. Meski demikian, tidak ada bukti yang menyokong bahwa hal itu terjadi di Bar’am. Ibrahim Essa, seorang lansia Palestina yang terusir dari rumahnya pada 1948 yang diwawancarai dalam film John Halaka keluaran tahun 2007 lalu, The Presence of Absence in the Ruins of Kafr Bir’im , menceritakan bahwa keluarganya mendiami desa ini 700 tahun yang lalu.

Jika sejarah saja bisu tentang apa yang terjadi pada bangsa Yahudi di tempat ini satu milenium yang lalu, tak ada yang pertanyaan mengenai kejahatan perang dalam Perang Arab-Israel tahun 1948 saat penduduk Maronit Palestina dan Melkit dipaksa mengungsi setelah kampung mereka dikuasai organisasi paramiliter Yahudi, Haganah.

Berbagai dokumen yang tak lagi dianggap rahasia 50 tahun setelah perang itu mencakup surat kawat bertanggal 31 Oktober 1948 oleh Mayor Jenderal Moshe Castel yang memerintahkan pasukan Israel untuk mengusir semua orang Arab dari wilayah yang mereka kuasai. Sebagian besar warga kampung Bir’im yang terusir, berjumlah sekitar 1.000 orang, cukup beruntung karena tidak didesak ke utara melewati perbatasan Lebanon, namun menemukan pengungsian di Jish, 10 kilometer ke selatan. Sehingga, alih-alih menjadi pengungsi tak bernegara, mereka menjadi orang ‘buangan’ legal, menjadi warga Israel yang dikategorikan sebagai “para pengungsi Palestina yang tinggal di Israel” (present absentee)”, yaitu para pengungsi internal yang tanahnya dirampas, namun tidak dicabut kewarganegaraannya. Para penduduk desa itu tidak pernah berhenti berharap bisa kembali ke Bir’im. Pada 1953, mereka mengajukan ke Mahkamah Agung Israel untuk diizinkan kembali. Namun, sebagian tanah desa itu diambil alih oleh negara dan dimasukkan ke wilayah Kibbutz Bar’am yang didirikan pada 1949 oleh para tentara. Berbagai pengajuan hukum serupa dalam beberapa dasawarsa juga tak membuahkan hasil.

Kini, yang tersisa dari Bir’im adalah gereja dan pemakaman Maronit yang indah – yang keduanya masih digunakan oleh masyarakat pengasingan di Jish. Tembok-tembok yang runtuh dan puing-puing menghiasi lereng bukit, semuanya tertutup oleh semak belukar dan rumput liar. Yang menambah kesan angker lagi adalah pohon-pohon ek kermes yang menjulang – sisa-sisa dari hutan luas yang pernah melingkupi Israel/Palestina.

Apa yang bisa diperbuat sekarang untuk memperbaiki ketidakadilan ini?

Satu solusinya adalah membubarkan taman nasional dan menjadikan padang rumput ini sebagai taman kota dalam pembangunan ulang kota ini. Selain menawarkan hunian bagi pengungsi Bir’im— kini berjumlah sekitar 2.000 orang—komunitas yang baru baiknya bisa pula menerima keberadaan sejumlah warga Yahudi yang hidup berdampingan dengan mereka. Kota ini bisa juga mencakup penduduk Kibbutz Bar’am.

Ada sebuah model komunitas dua-bangsa yang ideal untuk ini: Oasis Perdamaian; Neve Shalom dalam bahasa Ibrani atau Wahat as-Salaam dalam bahasa Arab, yang didirikan pada 1972 oleh Pastur Bruno Hussar. Kampung bersama Arab Yahudi yang unik ini terletak dekat biara Trappist di Latrun,di tengah-tengah antara Tel Aviv dan Yerusalem, dan menjadi saksi keyakinan utopis biarawan Dominikan bahwa orang Israel dan Palestina punya klaim sejarah yang setara dan bisa berdampingan secara rukun.

Melihat kesuksesan Neve Shalom/Wahat as-Salaam sebagai sebuah komunitas dwi-bahasa dwi-bangsa, Bar’am/Bir’im menawarkan harapan bahwa orang Palestina dan Israel bisa menciptakan sebuah model perdamaian yang baru.

###

* Gil Zohar ialah seorang penulis dan pemandu wisata di Yerusalem. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).