Mahasiswa Harus Siap Mengawal Agenda Perubahan

“ketika masyarakat sudah teramat lapar  maka tanpa dikomando mereka akan bergerak dengan sendirinya dan terjadilah keos maka dari itu lahirlah sang demostran” (Soek-Hog-Gie).

Akumulasi kekecewaan publik terhadap rezim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebentar lagi menjumpai ambang batas, bagaikan dinamit dengan sumbu pendek tak lama lagi gelombang emosi rakyat akan meledak. Satu demi satu kegagalan mulai terpampang, di tengah buayan mimpi-mimpi tentang kesejahtraan, pemberantasan korupsi serta penegakan hukum.

Pertanyaan sudahkah kita siap menyosongnya, selaku generasai muda, generasi penurus sekaligus pelurus. Jangan sampai momentum tersebut justru dileawatkan bahkan dimanfaatkan oleh para penumpang gelap, seperti pada saat tumbangnya rezim orba pada tahun 1998 berbondong-bondong para penumpang gelap masuk dan menyelinap dengan memakai baju pelaku reformasi. Hal semacam ini tentunya tak boleh kembali berulang.

Agar tidak berulang maka sudah saatnya generasai muda khusunya kaum mahasiswa bersiap diri untuk mengawal agenda perubahan serta menjadi bagian terdepan sebagai lokomotif perubahan. Mahasiswa juga sudah harus siap sebagai pewaris tahta negara, jangan sampai ketika peluang itu ada justru dilepaskan dengan dalih belum mampu serta pantas.

Kecenderungan tersebut setidaknya sudah mulai kentara hal ini terlihat dengan tampilnya beberapa muka-muka lama bahkan tak jarang para politisi yang justru berada dibarisan terdepan dalam rangka penjungkirbalikan SBY. Sedangkan mahasiswa hanya sebagai pengekor dan akhirnya hanya dijadikan alat.

Hal semacam ini tentunya bukanlah kondisi yang kita semua inginkan bersama, karena bukan apa-apa pengalaman sejarah telah membuktikan. Reformasi 1998 serta tumbangnya kepemimpinan orde lama yang juga ditunggangi oleh penumpang gelap tak berbuah apa-apa.  Bahkan menghasilkan sesuatu yang lebih parah.

Setidaknya pengalaman serta sejarah bisa jadi parameter kita dalam melakukan pergerakan hari ini. Dan sebagai mahasiswa sudah selayaknya kita tau dan mafum akan posisi kita. Beberapa tokoh seperti Kunto Wijoyo misalnya menyebutkan bahwa sebagai intelektual kita memiliki tugas memberikan pemikiran kita kepada masyarakat, agar mereka memiliki alat analisa yang tajam dalam menghadapai persolan,” itu artinya mahasiswa merupakan tumpuan bagi masyarakatnya. Sebagai tumpuan barang tentu kita harus mampu memenuhi harapan-harapan tersebut.

Lain lagi dengan Soek-Hog-Gie dalam bukunya catatan demonstran menyebutkan bahwa “ketika masyarakat sudah teramat lapar  maka tanpa dikomando mereka akan bergerak dan terjadilah keos maka dari itu lahirlah sang demostran”. Disini jelas Soek-Hog-Gie menyadari bahwa dalam sebuah situasi dan kondisi yang tidak stabil serta menuntut adanya perubahan disitulah mahasiswa dituntut ambil bagian. Agar tidak terjadi kekacauan yang semakin meluas dan agenda perubahanpunb bisa tetap terkawal.

Nah kondisi saat ini tentu sudah sama dengan apa yang digambarkan Soek-Hog-Gie, sekarang kembali lagi kepertanyaan awal, apakah kaum muda yakni mahasiswa berani tampil sebagai garda terdepan menyosong sebuah perubahan bukan hanya sebagai alat dan juga pengekor.

Kita lihat saja besok ketika para element masyarakat berkumpul di Universitas Bung Karno dalam rangaka mimbar bebas mendesak rezim SBY untuk mundur. Apakah Adian Napitupulu, aktivis Bendera dan Haris Rusly, aktivis Petisi 28 yang akan ambil peranan dalam aksi besok atau tokoh-tokoh mahasiswa hari ini, mereka yang bearda sebagai pemegang kebijakan dalam organisasi ekstra mahasiswa maupun intra mahasiswa.

Oleh ; Ivan Faizal Affandi, Mahasiswa Universitas Islam 45 Bekasi