HMINEWS-  Saat pertama kali saya diterima di Universitas Jerman, salah seorang mentor saya yang banyak sekali mengajari saya tentang “Marketing Strategy” Bapak Drs. Teguh Budiarto, MIM bertanya begini: „Lah Mas Ferizal, belajar bisnis kok ke Jerman? Kenapa ndak ambil MBA ke Universitas elit yang ada di Amerika?“.

Maklum Pak Teguh Budiarto adalah alumnus dari salah satu sekolah bisnis terbaik, Top-B di Amerika sana, yaitu: A.G.S.I.M. Thunderbird. Juga memang selama ini jika kita bicara tentang para intelektual manajemen di Indonesia maka kita kenalnya yah para akademisi Amerika. Anda bisa sebut Michael Porter, Philip Kotler, Michael Hammer, Peter Drucker, lah semua akademisi Amerika semua toh?

XXX

Ada banyak tahapan kenapa saya pilih Jerman:

Sponsor yang membiayai saya hanya memberi budget kurang lebih USD 15.000 untuk biaya kuliah, biaya hidup, biaya persiapan kuliah, biaya transport ke luar negeri termasuk biaya hidup untuk istri saya selama saya kuliah di luar negeri.

Itu pun adik kadung saya sekaligus mitra kerja saat itu (Karnila Willard, SE., BSc., MBA., MA.)  yang kebetulan menjadi „Procurement Manager di Malaysia/Singapura“ yang punya akses kuat mempengaruhi “decision making” ke Project Director sudah begitu berjuang keras agar proposal dana untuk sekolah saya gol.

Kegigihannya dan ketangguhannya dalam me-lobby benar-benar membuahkan hasil! Dana sponsorship turun. Hanya dana 15.000 USD tidak cukup untuk ke Amerika atau Inggris sehingga 2 negara tersebut terpaksa saya coret untuk tujuan studi saya. Sementara di Jerman kuliah gratis atau di Jepang relatif murah.

XXX

Pilihan tinggal sekolah ke Jepang atau ke Jerman yang bisa saya raih dengan budget yang digelontorkan ke saya. Sebenarnya, saya ingin ke Jepang saat itu. Alasannya sederhana: saya pernah kerja sebagai Administrator Officer di Mitsubishi Heavy Industries, Ltd sehingga saya kenal corporate culture Jepang. Selain itu, saya juga pernah ikut intensif kursus privat Bahasa Jepang di Pusat Studi Jepang UGM sampai level intermediate.

Tetapi kembali adik saya mempengaruhi keputusan saya. Kata-katanya yang saya ingat betul: “Uda, ngapain belajar ke Jepang. Lha Uda kan sudah tahu cara berpikir orang Jepang. Sudah belajar ke Jerman saja. Pahami dan bernafas lah pada tradisi masyarakat yang menyakini bahwa mereka adalah bangsa Über Alles!“.

Okay, saya setuju dengan logika sang adik, jadilah saya putuskan ke Jerman saja.

XXX

Dari Malaysia saya telpon sang istri yang ada di Yogya untuk minta persetujuan.

Kataku: “Nduk, Uda dapat sponsor sekolah sebesar 15.000 USD. Kalau Uda kuliah di luar negeri seperti Jerman maka uang itu ndak cukup untuk ngajak kamu. Kamu terpaksa Uda tinggal“.

„Bagaimana jika Uda ambil Master di UGM Yogya saja? Paling cuma 35 juta (saat itu). Itu uang lebih dari cukup bahkan bisa untuk bayar angsuran rumah atau cicilan beli mobil“ begitu kataku, hehehe… :))

Biasanya wanita Jawa itukan gayanya priyayi dengan filosofis „Mangan ora Mangan sing penting Kumpul“. Lah, jawaban istri-ku amat mencengangkan: “Uda, Uda harus ke luar negeri. Untuk bisa maju Uda harus berani hijrah seperti Kanjeng Rasul. Jadi, jangan ragu berangkat ke Eropa dan taklukan Eropa. Wiwiek (begitu jika istriku menyebut namanya, red) akan doakan Uda dari sini setiap selesai sholat!“, begitu kata istriku mantap penuh optimisme dan tanpa keraguan sama sekali.

XXX

Jadi lah aku melamar ke Jerman. Waktuku amat mepet sekali saat itu. Jika aku ndak diterima semester ini maka harus tunggu semester depan. Jadi, harus cepat. Dari Malaysia aku segera terbang ke Jakarta. Aku cuma kirim satu lamaran ke Universitas di Jerman. Saat itu yang cocok dengan latar belakangku cuma FH Furtwangen, Programnya “Master of Computer Science in Business Consulting” dengan spesialis Standard Software SAP.

Wah keren sekali spesialisnya SAP (yang konon khabarnya biaya untuk implementasi itu SAP software di perusahaan maka budget proyeknya minimal 2 juta Euro. Angka itu menunjukkan betapa prestiusnya itu software). Hanya sedikit sekali ahli SAP di dunia kala itu. Apalagi FH Furtwangen berdasarkan ranking di Jerman adalah Fachhochschule nomor 1 terbaik di Jerman untuk jurusan Wirtschaftsinformatik (Business Computing). FH Furtwangen sendiri adalah Fachhochschule (Politeknik) tertua di Jerman yang telah berumur 160 tahun yang terletak persis di tengah hutan „Black Forest“ kota tertinggi di Jerman yang bersuhu bisa minus 20 derajat saat winter, maka melambung angan agar diterima disana.

Menanti keputusan dari Furtwangen adalah kondisi stress yang benar-2 amat berat. Celakanya keputusannya sampai harus tunggu 3 bulan. Selama 3 bulan saya, istri dan sang Ibu dan Ibu Mertua cuma bisa Tahajud dan berdoa. Bahkan karena begitu beratnya beban stress menunggu keputusan, saya sampai sakit dalam 1 bulan terakhir. Untunglah akhirnya surat panggilan DITERIMA akhirnya datang. Jadilah, sekolah ke Jerman menjadi kenyataan.

XXX

Setelah diterima di Jerman saya pun pamit pada mentor saya, Pak Teguh Budiarto yang telah banyak melibatkan saya dalam berbagai Proyek Konsultan waktu bekerja sebagai Staf beliau dulu di UGM Yogyakarta.

Pertanyaan beliau: „Lah Mas Ferizal, belajar bisnis kok ke Jerman? Kenapa ndak ambil MBA ke Universitas elit yang ada di Amerika?“

Saya lupa jawaban saya saat itu atas pertanyaan Pak Teguh. Toh sebenarnya Pak Teguh juga tidak berharap saya menjawabnya. Beliau lebih suka saat itu mengajak saya menyeduh teh hangat dan makanan yang tersaji. Nyruput pelan-pelan sambil ngobrol ngalur-ngidul karena itu bisa jadi pertemuan yang akan membuat terpisah dalam waktu lama.

XXX

Tapi kelak akhirnya saya tahun bahwa Jerman adalah negara terdepan dalam kajian ilmu Bisnis, Ekonomi, Filsafat, Sosiologi dan Seni.

Tercatat 5 “Nabi Ilmu Sosial” adalah didikan tradisi pemikiran Jerman: Ada Martin Luther “nabi”-nya Kristen Protestan, ada Johann Wolfgang Goethe “nabi”-nya Islam, Karl Mark “nabi”-nya Atheis, Frederick Nietzsche “nabi”-nya Agnostik serta Rudolf Steiner “nabi”-nya Ilmu Klenik. Negara mana yang punya intelektual sosial sehebat Jerman?

Dalam dunia seni pun para composer Jerman adalah yang terbaik di dunia: Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven atau pun Johann Sebastian Bach. Mana ada Negara di dunia ini yang bisa melahirkan begitu banyak komposer yang amat melegenda yang tidak pernah lekang oleh waktu?

Di bidang Ekonomi pun, daya tahan ekonomi Jerman teruji oleh waktu. Bersama Jepang yang hancur total kalah dalam perang dunia II, bangkit sebagai kekuatan ekonomi dunia. Bedanya, Ekonomi Jerman tidak pernah mengenal krisis. Jepang dalam 2 dekade lebih ekonominya stagnan dalam krisis. Amerika dan Inggris sejak 2 tahun ini terjebak dalam krisis yang dalam. Jerman tampaknya masih tetap kuat untuk waktu-waktu mendatang.

Satu yang perlu dicatat dengan sistem ekonomi sosialisnya maka kesejahteraan penduduk Jerman itu merata dinikmati oleh seluruh penduduknya. Di Jerman memang tidak ada orang se kaya Bill Gate tapi di Jerman tidak ada ribuan atau jutaan orang miskin mati terlantar kedinginan atau tidak mampu berobat seperti di Amerika. Sistem sosial ekonomi yang tangguh ini jelas bukti nyata betapa majunya kajian ilmu ekonomi di Jerman.

Juga satu lagi yang perlu diingat. Bersama Amerika dan Jepang maka MNC Jerman tercatat yang paling banyak di dunia. Selain itu, industri Jerman relatif imun terhadap krisis. Krisis perbankan derivatif Amerika atau Inggris tidak terlalu berdampak pada industri perbankan Jerman. Skandal-skandal keuangan perusahaan, moral hazard yang di Amerika adalah sebuah „kelumrahan“ seperti skandal Enron, dalam sejarah industri Jerman relatif tidak ada.

Sistem akuntansi dunia IFRS (International Financial Report Standard) itu diinisiasi oleh Eropa di bawah koordinasi Jerman tentu saja. Saat ini ternyata IFRS itulah yang lebih diterima dunia. Ini juga membuktikan bahwa standard akuntansi internasional yang diterima oleh seluruh negara itu yang desain Eropa (Jerman) yang saat ini jauh meninggalkan US GAAP yang cuma berlaku di Amerika saja.

Dengan catatan-catatan prestasi seperti ini tidak inginkan anda belajar dan bernafas dalam tradisi kajian ilmu sosial di Jerman?

Dini hari di Musim Salju Lembah Sungai Isar

München, Freitag, 05.01.2011

Ferizal Ramli, alumnus HMI-MPO UGM, Yogyakarta