Penelitian

HMINEWS- Banyak hasil penelitian perguruan tinggi yang tidak dapat diaplikasikan di masyarakat karena perbedaan tingkat pemahaman teknologi. Umumnya hasil penelitian para peneliti perguruan tinggi menggunakan tekno- logi tinggi, sedangkan masyarakat membutuhkan teknologi sederhana yang mudah diterapkan.

”Akibatnya, kedua belah pihak tidak mendapat manfaat optimal dari hasil penelitian itu,” ungkap Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Wawan Gunawan di Bandung, Jawa Barat, Senin (3/1). Padahal, penelitian itu umumnya menghabiskan biaya cukup tinggi dan membutuhkan waktu penelitian cukup lama.

Kesenjangan penelitian dan kebutuhan masyarakat ini bisa terjadi, menurut Wawan, karena peneliti umumnya ingin meningkatkan kualitas keilmuannya melalui penelitian. Faktor aplikasi di tengah masyarakat bukan menjadi pertimbangan utama. Di sisi lain, masyarakat mengharapkan penelitian perguruan tinggi yang mudah diterapkan.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, menurut Wawan, pada 2011 pihaknya akan lebih gencar mempromosikan aplikasi teknologi yang sederhana, tetapi berperan besar bagi masyarakat. Dengan demikian, hasil penelitian para peneliti ITB berdaya guna bagi masyarakat.

Selain itu, evaluasi kinerja penelitian LPPM ITB juga menunjukkan tingkat partisipasi dosen meneliti masih rendah. Wawan mengatakan, dari 1.025 dosen baru, sekitar 40 persen yang aktif melakukan penelitian. Penelitian di ITB menghabiskan biaya sebesar Rp 60 miliar-Rp 70 miliar per tahun.

Wawan mengharapkan agar pada 2011 ini para pengajar dan peneliti membuka jaringan kerja sama lebih banyak dengan pihak ketiga untuk membiayai penelitian, baik dari kalangan pemerintah maupun swasta.
Dukungan pihak lain

Rektor ITB Ahmaloka mengatakan, penelitian yang dilakukan perguruan tinggi tidak bisa sekonyong-konyong berdiri sendiri memecahkan persoalan masyarakat. Ia mengharapkan dukungan pemerintah dan swasta untuk ikut menopang keberadaan penelitian.

”Begitu juga dengan hasil penelitian. Apabila hanya disosialisasikan oleh perguruan tinggi tentu pengaruhnya sangat kecil. Dibutuhkan peran serta semua pihak untuk membuatnya lebih berguna,” katanya.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Universitas Padjadjaran, Bandung, Oekan Abdoellah mengatakan, sudah saatnya peneliti lebih banyak bersinggungan dengan masyarakat. Dengan segala keahliannya, Oekan yakin peneliti bisa membantu banyak persoalan di masyarakat.”Hal yang sama telah saya dorong bagi peneliti di Unpad. Dari rata-rata 4.000 rencana penelitian per tahun, sekitar 50 persen di antaranya sudah terlibat membantu pemecahan masalah di masyarakat,” kata Oekan.[]rep/ian