Yogyakarta, HMINEWS- Desa wisata bencana itu bernama Kinahrejo, tempat di mana Mbah Maridjan sang pencinta Gunung Merapi terpanggang hidup-hidup demi mempertahankan prinsipnya untuk tidak menghindar saat Merapi meletus. Desa itu kini justru menjadi semacam lokasi wisata baru. Seperti halnya lokasi tsunami di Aceh, lumpur lapindo di Porong, kawasan lereng Merapi kini pun menjadi favorit wisatawan.

Iranis memang, terkesan masyarakat memanfaatkan penderitaan orang lain untuk berwisata. Namun demikian, ternyata banyaknya wisatawan ini justru mendongkrak perekonomian warga lereng Merapi yang tempat tinggalnya luluh lantak diterjang awan panas.

Warga setempat malah menyediakan paket tur yang dinamakan ‘Lava Tour’. Lokasi favorit paket tour ini adalah Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY,  kampung halaman almarhum Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi. Selain itu, Kali Adem yang dipenuhi material vulkanik juga menjadi tempat favorit wisatawan untuk berfoto ria.

Lava Tour ini sebagai bentuk pemulihan ekonomi di lereng Merapi. Masyarakat sekitar diberdayakan jasanya untuk ambil bagian dalam lava tour. Yang mana penghasilan yang diperoleh akan didistribusikan ke setiap KK (Kepala Keluarga),” tambah dia.

Tiket Masuk untuk Mendukung Bencana

Saat ini, sudah ada 992 KK yang terdaftar. Penghitungan pendapatan dari tiket pengunjung akan didistribusikan dengan pola penghitungan 20 persen untuk KK, 50 persen untuk Karang Taruna, 5 persen untuk komunitas,  3 persen untuk desa serta 10 persen untuk dana sosial.

Berdasarkan hasil wawancara HMINEWS dengan penduduk yang tinggalnya tidak jauh dari lokasi, Ibu Supardji, setiap pengunjung yang akan masuk ke kawasan Lava Tour dikenai tiket Rp5.000 per orang dan jasa parkir Rp2.000 per kendaraan bermotor. Penjualan tiket masuk wisata ini terletak di SMK 1 Cangkringan. Semuanya dikelola dengan mengerahkan dan memberdayakan warga desa yang menjadi korban erupsi Merapi.

“Kalau yang tket Rp. 5000,- itu resmi masuk kas dan dibagikan untuk kesejahteraan penduduk, tetapi ada juga pemuda-pemuda yang menarik tarif Rp.1000 – Rp. 2000, itu tidak resmi. Mumngkin untuk mereka beli rokok atau makan-makan”, kata Ibu Pardji.

Diperkirakan uang yang masuk dari penjualan tiket sekitar Rp6 juta – 7 juta setiap hari. Sedangkan di hari libur, jumlahnya melonjak berlipat-lipat ganda dari hari biasanya, bisa mencapai Rp35 juta – 40 juta per hari.

Yang membuat para wisatawan datang ke sana adalah rasa penasaran dan ingin melihat dari dekat lereng Merapi yang dulu hijau, kini gersang dan hampir setiap sudutnya berwarna abu-abu tertutup abu vulkanik. Seperti yang dikatakan Agata, salah seorang wisatawan asal Semarang. [] lara