HMINEWS-  Naiknya harga gula, biji-bijian dan minyak mendorong harga pangan dunia naik ke rekor tertinggi pada Desember lalu. Kenaikan tersebut melebihi tahun 2008 ketika tingginya harga pangan memicu kerusuhan di seluruh dunia. Demikian laporan badan pangan PBB FAO.

Laporan indeks bulanan PBB tersebut nilainya melampaui bulan tertinggi sebelumnya – Juni 2008. Sebagaimana dikutip Guardian, Abdolreza Abbassian, ekonom FAO, mengatakan: “Kita sedang memasuki wilayah bahaya, meskipun dia menekankan bahwa situasi belum seburuk 2008.

Gula dan daging harga berada pada tingkat tertinggi, sementara harga sereal telah kembali pada tingkat sebagaimana tahun 2008, ketika waktu itu kerusuhan di Haiti menewaskan empat orang dan kerusuhan di Kamerun menyebabkan 40 mati.

Abbassian memperingatkan harga bisa naik lebih tinggi lagi, di tengah kekhawatiran kekeringan di Argentina dan banjir di Australia dan cuaca dingin yang membunuh tanaman di belahan bumi bagian utara.

“Masih ada ruang bagi harga untuk naik lebih tinggi, jika misalnya kondisi kering di Argentina cenderung menjadi kekeringan, dan jika kita mulai memiliki masalah dengan cuaca dingin di belahan bumi utara untuk tanaman gandum,” kata Abbassian.

Meskipun harga-harga meningkat dengan tajam, tetapi Abbassian mengatakan bahwa ia mengharapkan harga makanan mulai turun karena negara-negara miskin banyak yang mulai panen tahun lalu.

Tetapi hal ini berlaku di belahan bumi utara, setelah cuaca tidak terduga menyebabkan gagal panen gandum di Rusia. Tahun lalu harga gandum Eropa dua kali lipat, harga jagung Amerika naik lebih dari 50%, demikian juga dengan kedelai Amerika melonjak lebih dari 30%.

Sementara itu, banjir di Australia saat ini memiliki potensi untuk mempengaruhi harga komoditas seperti gula. Petani tebu mengalami masalah produksi selama tiga tahun. Demikian juga pasokan gandum, kemungkinan akan terpengaruh – Australia adalah eksportir gandum terbesar keempat dunia, disamping Australia juga merupakan eksportir terbesar batubara untuk rumah tangga yang produksinya juga terkena dampak banjir.

Pada saat, pemintaan pangan dari negara-negara berkembang seperti Cina dan India cenderung menguat.

Namun Abbassian menepis kekhawatiran bahwa kenaikan harga pangan bisa menimbulkan kerusuhan baru, sebagaimana yang terjadi dua tahun yang lalu ketika harga pangan menjadi penyebab utama masalah, bersamaan dengan lonjakan dramatis harga minyak.

Dia mencatat bahwa memang kenaikan harga minyak – yang saat ini sekitar $ 95 per barrel – bisa memperburuk masalah. Sementara diramalkan harga minyak bisa naik mencapai $ 100, namun harga tersebut masih jauh di bawah $ 145 (harga pada Juli 2008). [] guardian/lara